Lompat ke isi utama
suasana talkshow minggu tuli internasional

Tuli Punya Hak Untuk Memilih Bahasa Komunikasinya Sendiri

Solider.or.id, Surakarta - Pada dasarnya tuli berhak menentukan pilihan bahasa yang akan digunakannya, baik itu isyarat maupun oral. Akan tetapi sebaiknya dipastikan kembali, benarkah bahasa oral itu membantu teman-teman tuli? Karena berdasarkan pengalaman, mereka mengaku kesulitan dengan bahasa oral. Hal itu diungkapkan oleh Nick Payfreyman deaf volunteer untuk Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia) Solo pada sebuah talk show Minggu Tuli Internasional yang diselenggarakan akhir pekan lalu di area Car Free Day kota Solo.

Lebih jauh, Bias mengungkapkan bahwa biasanya teman tuli dipaksa untuk mengerti bahasa oral oleh masyarakat mendengar. “Banyak orangtua tuli yang tidak memahami hal ini. Seandainya pun mereka mengerti bahasa oral, informasi yang mereka peroleh tidak sebanyak apabila mereka menggunakan bahasa isyarat. Melalui bahasa isyarat, mereka lebih bisa menangkap banyak hal”.

Meskipun hujan, talkshow yang terbuka untuk umum ini tampak serius membahas dinamika yang terjadi pada bahasa isyarat di Indonesia. Fenomena mengenai penggunaan bahasa isyarat dan bahasa oral bukan satu-satunya masalah yang muncul di dalam acara ini. Isyarat Kolog di Buleleng (Bali) yang memiliki kekhasan tersendiri, perbedaan huruf Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) di beberapa daerah, hingga belum tersedianya guru pendamping di sekolah inklusi, menjadi  topik menarik dan “segar” bagi masyarakat mendengar yang mengikuti acara tersebut.

DR. Nicholas Palfreyman dan Muhammad Isnaeni yang menjadi pembicara diskusi malam itu banyak membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka selama belajar dengan teman-teman tuli dari berbagai wilayah dan negara. “Saya tidak ingin hanya datang untuk penelitian belaka, tetapi saya juga ingin membagikan pengetahuan yang saya miliki dengan teman-teman tuli dimana pun saya tinggal untuk meneliti.”, ungkap Nick yang memutuskan tinggal di Solo selama 3 minggu untuk memberikan pelatihan bahasa isyarat kepada teman-teman Gerkatin Solo.

Acara MTI (Minggu Tuli Internasional) ini merupakan rangkaian peringatan Hari Tuli Sedunia selain kampanye tuli di CFD (Car Free Day) pada minggu sebelumnya. Kristian Andi Setiawan, ketua panitia acara, mengungkapkan dengan isyarat, “Rangkaian kegiatan serupa juga diadakan di berbagai wilayah di Indonesia, hanya saja bentuknya berbeda-beda. Tujuan talkshow ini antara lain: mengajak masyarakat mengenal bahasa isyarat, mendorong terwujudnya masyarakat inklusi, dan selanjutnya mendorong pemerintah serta stakeholder merealisasi aksesbilitas bagi tuli”. (Agatha)

The subscriber's email address.