Lompat ke isi utama
pasangan difabel netra kesulitan mengakses trotoar di Jogja

Trotoar dan Sulitnya Difabel Netra Mengaksesnya

Solider.or.id.Yogyakarta. Kemarin pagi Senin (9/10/2017), sekitar pukul 10:45 WIB, terlihat pasangan difabel netra sedang melintas di trotoar Jalan HOS Cokroaminoto, Wirobrajan, Yogyakarta. Seorang pria dengan tas ransel di depan dada, berjalan di depan sambil mencari jalan dengan tongkat putihnya. Sedangkan seorang perempuan yang juga difabel netra, tengah hamil, menggendong tas ransel di punggungnya, berjalan di belakang sambil memegang pinggang sang pria, mengikuti kemanapun pria itu melangkahkan kaki.

Suara gaduh di seberang jalan menarik perhatian saya, dan saya pun menghentikan laju perjalanan Mio pagi itu. Pasangan difabel netra tersebut jelas terlihat kesulitan mengakses trotoar, oleh karena trotoar yang beralih fungsi.

Penyerobotan hak atas trotoar

Berbagai kepentingan tumpang tindih atas trotoar di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto itu. Beberapa kali tongkat putih penunjuk arah membentur benda-benda yang ada di trotoar, seperti motor, mobil, papan parkir, dan mampu dihindarinya. Namun beberapa kali pula mereka tak sanggup menghindari dan menabrak  berbagai benda mati yang tidak sempat tersentuh ujung tongkat putihnya. Benda mati, benda tidak bergerak yang tidak seharusnya menyerobot hak pengguna jalan atas trotoar. Tulisan ini bukan sedang menyalahkan benda mati, melainkan mengoreksi pemilik benda mati  yang meletakkan benda miliknya pada tempat yang tidak semestinya, trotoar.

Kembali pada pasangan difabel netra, jalan itu yang pertama kali diakses bersama istrinya. “Saya baru pertama kali lewat di sini mbak,” ungkapnya menjawab pertanyaan saya. Kondisi gelap penglihatan dan lokasi yang betul-betul baru, menyulitkan bagi pasangan difabel netra itu. Terlebih dengan adanya berbagai kepentingan yang mengambil hak mereka atas kenyamanan berjalan di trotoar. Bahkan, juru parkir yang sedang berdiri mengatur motor dan mobil yang mengunjungi sebuah apotik hampir saja tertabrak oleh pasangan difabel itu. Mujur, juru parkir itu berhati nurani, bertanya tujuan perjalanan pasangan difabel netra, dilanjutkan dengan mengantarkan menuju tujuan.

“Mau ke mana ini?”, tanya juru parkir. “Mau ke Pasar Klithikan pak,” jawab pria difabel netra. “Oh, pasar klitikan ada di seberang jalan, kalau begitu mari saya sebrangkan,” juru parkir menawarkan jasa. “Matur nuwun pak,” pria difabel netra yang saya tidak tahu namanya mengucapkan terima kasih.

Dan juru parkir itu menggandeng tangan perempuan difabel netra. Bertiga mereka (juru parkir dan pasangan difabel) berjalan menyeberang jalan hingga memasuki pintu masuk pasar Klitikan yang berada di wilayah Pakuncen. Pasangan difabel netra memasuki wilayah Pasar Klithikan dan juru parkir kembali pada aktivitasnya mengatur mobil dan motor di halaman sebuah apotik di jalan HOS Cokroaminoto, Wirobrajan, Yogyakarta.

Cara juru parkir menggandeng tangan difabel netra tidaklah tepat. Hal itu terjadi oleh karena ketidaktahuan tatacara menggandeng atau digandeng saat membantu menyeberangkan difabel netra. Tidak ada sosialisasi dan edukasi, tidak pula ada penolakan serta dari difabel netra saat juru parkir menggandeng tangannya. Yang pasti terjadi, sikap dan niat baik juru parkir itu baik dan patut diapresiasi. Selanjutnya dierlukan edukasi dan informasi, serta sosialisasi yang melibatkan berbagai pihak perlu diinisiasi.

Rebutan ruang atas trotoar

Sepengamatan Solider, berbagai kepentingan baik pribadi maupun ekonomi menjadi faktor terhambatnya pasangan difabel netra itu dalam mengakses trotoar. Hambatan sudah barang tentu tidak hanya bagi difabel netra, difabel kursi roda dan yang lain pun akan terhambat. Bahkan masyarakat pada umumnya juga akan menemui hambatan oleh karena tumpang tindih yang terjadi di trotoar.

Di kota-kota besar, trotoar menjadi keharusan dalam setiap pembangunan jalan. Pejalan kaki berada pada posisi lemah jika bercampur dengan kendaraan. Berbahaya dan mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karenanya manajemen lalu lintas harus memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, dengan pembangunan trotoar. Trotoar merupakan bagian dari jalan raya yang khusus disediakan bagi para pejalan kaki. Atau diperjelas bahwa trotoar bagi pejalan kaki, adapun jalan raya bagi pengguna kendaraan bermotor.

Ironisnya, trotoar menjadi tidak efektif oleh karena tumpang tindih kepentingan. Rebutan ruang pada trotoar atas nama kepentingan ekonomi dan pribadi dilazimkan. Karena trotoar yang diserobot, akhirnya memaksa pejalan kaki harus masuk ke jalan utama. Hal itu juga dilakukan pasangan difabel netra tersebut. Mereka harus turun di jalan oleh karena diparkirnya mobil dan  motor di trotoar.

Nampaknya pengaturan dibalik berbagai kepentingan atas trotoar belum ada. Artinya, semua berjalan masing-masing. Kalaupun ada peraturan masih sebatas larangan berjualan di atas trotoar, itupun penegakannya belum optimal.

Pejalan kaki harus tetap saja sebagai orang yang lemah dan harus bersabar menerima kondisi tak punya ruang nyaman untuk berjalan kaki. Sementara pengendara harus tahu diri untuk berbagi ruang jalan dengan pejalan kaki. Antar pihak diharuskan saling mengerti karena demikianlah trotoar, tidak selebar jalan raya. Trotoar yang kecil hanya selebar satu hingga dua meter. Bahkan sering kali kepentingan pejalan kaki dilupakan oleh pengendara kendaraan bermotor, yang terkadang menggunakan trotoar untuk mendahului kendaraan lain.

Namun demikian tidak dinafikkan trotoar memiliki peran yang signifikan dalam memperlancar arus lalu lintas. Sehinga regulasi peran dan fungsi trotoar harus ditegakkan, dijalankan secara konsisten agar kenyamanan bisa dirasakan semua pihak. (hnw).

The subscriber's email address.