Lompat ke isi utama
suasana seminar di Semarang

Modernisasi Dukung Proses Komunikasi Seniman Tuli

Solider.or.id,Semarang - UKM Seni Kembangtaru UNIKA Soegijapranata Semarang mengadakan seminar Seni Tradisional Nusantara Masa Kini (SENTANI 2017) dengan mengundang seniman Didik Nini Thowok dan Deaf Art Community, sebagai komunitas Tuli agar seminar ini juga melihat dan mengangkat seniman dari kelompok minoritas atau difabel (7/10).

“Pandangan kami, kota Jogja adalah kota yang masih kental keseniannya dengan sedikit sentuhan modernisasi. Kebetulan DAC juga ada di Jogja sehingga pas dengan tema seminar ini. Kami ingin mengetahui dari sudut pandang difabel bagaimana cara menyikapi pengaruh modernisasi tersebut terhadap kesenian di daerah”, terang Regina sebagai ketua panitia Sentani 2017.

Sebanyak 3 orang perwakilan DAC menghadiri seminar ini dengan memberikan perspektifnya mengenai kaitan modernisasi dengan seni dari sudut pandang difabel. Arief Wicaksono dengan bahasa isyarat menjelaskan, “Dengan adanya perkembangan teknologi sekarang, kami sangat terbantu karena proses komunikasi kami menjadi lebih lancar dan pembelajaran seni yang kami lakukan juga sangat terbantu. Karena kami membutuhkan komunikasi secara visual, video call menjadi solusinya. Hambatan kami memang pada pendengaran sehingga sulit bagi kami menyesuaikan tempo untuk menari tradisonal sehingga sentuhan tradisional kami ada pada kegiatan seni selain tari, seperti lukis, pantomim, drama, puisi bahasa isyarat, dan main alat musik jimbe”.

Didik Nini Thowok sebagai pembicara kedua pada seminar ini juga menyampaikan bahwa seniman Tuli juga banyak memiliki bakat dan kontribusi seni. “Siapa pun bisa menjadi pelaku seni, termasuk teman-teman difabel. DAC dengan tarian hip hop dengan musik beatboxing, saya dengan tari tradisional yang sudah saya pelajari sejak lama”, pungkas Didik Nini Thowok. (Ramadhany Rahmi)

The subscriber's email address.