Lompat ke isi utama
tampilan laman beranda inklusi solider

Ketika Solider.or.id Menjawab Pertanyaan Max Lane

Yogyakarta. Solider.or.id. Gegap gempita Kampung Buku Jogja 2017 telah paripurna secara resmi Minggu (8/10). Gelaran salah satu acara literasi terbesar di Yogyakarta ini sudah berjalan empat kalinya. Di tahun ini, Kampung Buku Jogja yang berlangsung dari tanggal 4 sampai 8 Oktober 2017 sukses menghadirkan banyak  buku lawas dan juga berbagai  sesi menarik, yang tentu saja hubungannya dengan dunia literasi, buku, penerbitan, penerjemahan dan industri literasi digital.

Dari berbagai banyak sesi diskusi dan pembicaranya, muncul salah satu bahasan paling menarik, yakni ketika seorang Nezar Patria yang merupakan Digital Editor-in-Chief Jakarta Post, Arlian Buana yang merupakan Pimpinan Redaksi Mojok dan Muhidin M Dahlan yang terkenal sebagai pendiri Radio Buku dan Warung Arsip Yayasan Indonesia Buku duduk bersama dan berbicara di sesi Jurnalisme di Era Digital. Apa yang membuatnya menjadi menarik justru ketika pengisi sesi setelahnya, Max Lane, yang harusnya membahas buku Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia malah melempar pertanyaan, “adakah media di Indonesia yang mempersenjatai pembacanya dengan pengertian yang merombak kamanusiaan yang terdiskriminasi?”

Penonton terhenyak, pembicara lainnya lalu tertegun. Pertanyaan dari Max Lane yang juga adalah penerjemah buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini menggiring rekaman pikiran ke salah satu media daring bernama Solider.or.id.

Apa hubungannya? Ketika Max Lane dengan lantang bertanya dan mencari media mana yang mempersenjatai pembacanya dengan pengertian yang merombak diskriminasi, solider.or.id sudah  menjawab itu dengan menghembuskan nafas semangat keberpihakan terhadap difabel sejak pertama kali muncul. Sebagai sebuah media yang memang mengangkat isu-isu difabel, solider.or.id melihat diskriminasi terhadap difabel sebagai musuh utama.

“Masih sangat jarang ada media yang berpihak pada difabel,” terang Ajiwan Arief Hendradi, pemimpin redaksi Solider.or.id.

Ajiwan menambahkan bahwa media yang banyak memberitakan isu tentang difabel masih banyak menggunakan sudut pandang yang mendiskriminasi.

“Sudut pandang yang digunakan sebagian besar masih tentang charity, kadang malah berupa dramatisasi keadaan difabel,” ujarnya.

Salah satu upaya konkret dari solider.or.id dalam mainstreaming isu difabel dalam media adalah penggunaan istilah difabel dalam segala tulisan dan berita di media ini.

“Kita mulai dari pemilihan kata dengan penggunaan istilah difabel, tak ada lagi penggunaan istilah seperti penyandang cacat atau penyandang disabilitas di media ini,” tambahnya.

Ajiwan juga menambahkan bahwa Solider.or.id tidak hanya menampilkan sisi tulisan yang tidak semuanya serius, tapi juga tulisan yang ringan seperti dalam rubrik lifestyle, figure, teknologi dan rubrik lainnya.

“Sebagai media advokasi, memang sebagian besar tulisan di Solider.or.id adalah tulisan-tulisan serius, tapi ada juga tulisan ringan sebagai informasi sisi lain difabel,” terang Ajiwan.

Menurutnya, informasi ringan seperti itu bisa memberikan pemahaman bahwa difabel juga sama seperti manusia lainnya yang punya sisi kebudayaan tertentu.

Setidaknya hal ini juga yang dilontarkan oleh Max Lane yang bertanya apakah ada media di Indonesia yang, selayaknya sastra, selain menyuguhkan pengertian untuk merombak kemanusiaan yang terdiskriminasi tetapi juga memberikan sisi hiburan dalam penyajiannya.  Jawaban Ajiwan sudah menjawab pertanyaan Max Lane tersebut.    

Saat ditanya ihwal corak jurnalisme Indonesia, seperti dikotomi jurnalisme percepatan oleh Detik.com salah satunya dan jurnalisme perlambatan yang ditunjukkan oleh Tirto.id, Ajiwan mengatakan bahwa Solider.or.id merangkul kedua-duanya.

Menurutnya, jurnalisme percepatan juga dibutuhkan dalam penyajian straight news dan berita-berita real time yang cepat dan lugas. Sedangkan tentang jurnalisme perlambatan dengan metode investigatif mendalam yang identik dengan proses verifikasi yang cukup memakan waktu, Ajiwan juga mengharapkan banyak jurnalis di Solider.or.id yang mulai menulis dengan corak seperti ini.

“Dulunya kita mulai dengan straight news yang memberitakan banyak event yang berhubungan dengan difabel. Tapi, semakin ke sini, kita berharap banyak artikel mendalam yang akan lebih bermakna,” tuturnya.

Ajiwan akhirnya berharap agar Solider.or.id bisa mempengaruhi media-media lain dalam memberitakan difabel sekaligus menjadi referensi paling inklusi dalam pemberitaan yang memihak difabel.

Wawancara singkat dengan Ajiwan layak menjawab pertanyaan Max Lane di ajang Kampung Buku Jogja. Setidaknya, Solider.or.id sudah memulai memikirkan itu sejak awal lahir dan akan merawat itu seterusnya. (Yuhda)

The subscriber's email address.