Lompat ke isi utama
Fira Fitria, salah satu orang Dengan CP yang berhasil mendobrak stigma masyarakat

Mengikis Stigma Celebral Palsy dengan Pendidikan

Solider.or.id, Malang - Celebral Palsy atau CP (baca: sipi) secara garis besar adalah gangguan fungsi motorik pada otak yang ditandai susahnya pengendalian otot, kekakuan, dan kelumpuhan. Anak dengan CP masih mengalami berbagai hambatan sosial di masyarakat. utamanya hak pendidikan.    Hal ini karena anak-anak dengan CP masih dianggap sebagai beban dan tidak mampu untuk menempuh pendidikan, bahkan dianggap penyakit hingga kutukan. Secara umum telah ada upaya-upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat, namun belum memberikan perubahan secara luas dan  menyentuh di masyarakat. Hal ini terutama belum terlalu berdampak di pelosok pedesaan dan masyarakat yang tak terorganisasi.  Bagi kelompok pendamping, untuk meminimalkan hambatan CP dalam dalam kehidupan bermasyarakat, advokasi dan kampanye harus terus menerus dilakukan.

"Hambatan terpenting anak dengan celebral palsy adalah stigma dari masyarakat bahkan keluarga sendiri," jelas Koordinator Kelompok Kerja Disabilitas Lingkar Sosial (LINKSOS) di Malang. Anak dengan CP masih dianggap tidak mampu dan beban. Nyatanya, kata Widi tak sedikit anak CP yang akhirnya sukses karena berpendidikan tinggi, menjadi pebisnis, advokat, ilmuwan, wirausaha dan sebagainya. Lingkungan yang tak mendukung juga menghambat kehidupan anak-anak CP.

Lanjutnya, warga dampingan kami beberapa yang mengalami CP juga terlibat dalam aktivitas kelompok kerja namun masih sekedarnya. Menurut Widi jika sudah masuk pengembangan lebih lanjut seperti permodalan usaha sepenuhnya masih tergantung pada keputusan orang tua atau keluarga.

"Khususnya di Malang, pemberdayaan anak dengan celebral palsy masih dilakukan sebatas panti rehabilitasi, untuk anak-anak di pedesaan juga secara umum yang diluar panti masih belum tersentuh," kata ibu rumah tangga yang aktif membina kelompok kerja difabel itu.

"Bertahap kami menggalang dukungan lintas masyarakat khususnya melalui organisasi pendidikan dan kesehatan untuk membantu advokasi hak-hak anak CP," kata Widi yang juga anggota dewan pendiri Forum Malang Inklusi ini (FOMI).

Terpisah dipaparkan oleh Direktur LBH Disabilitas, Hari Kurniawan," Celebral palsy bukanlah penyakit dan tidak progresif melainkan gangguan fungsi motorik pada otak yang ditandai susahnya pengendalian otot, kekakuan dan kelumpuhan."

Lanjutnya, anak dengan CP mengalami hambatan mobilitas, dianggap menyedihkan, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena bagi sebagian orang CP selama hidupnya dianggap tidak bisa mandiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain.

"Sebenarnya kebutuhan seorang CP adalah terapi fisiologis," jelas Wawa panggilan akrabnya, disamping dukungan keluarga serta lingkungan.

Pembina Forum Malang Inklusi (FOMI) ini menyarankan, bagi komunitas pendamping penting untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang hak-hak difabel termasuk independent living (kebebasan hidup- red) melakukan advokasi dan kampanye kepada sekolah-sekolah dan masyarakat terdekat serta melakukan langkah afirmatif (penguatan- red) agar anak dengan celebral palsy bisa diterima di sekolah.

Dalam pandangan lainnya, Ketua Organisasi Penyandang Disabilitas Tuban (ORBIT), Fira Fitria, "Memang tak mudah menjadi anak celebral palsy ketika lingkungan tidak mendukung. Untuk survive yang utama diperlukan adalah semangat pribadi dan dukungan keluarga, serta dukungan masyarakat atau lingkungan”.

Lanjutnya, “saya sendiri seorang celebral palsy. Semua memerlukan proses, dari dulu yang bisanya hanya ngesot dan kemana-mana digendong, kini bisa menggunakan walker dan kursi roda. Bahkan kini beraktivitas sebagai kontributor berita  difabel Indonesia Solider”, tutur perempuan yang pernah menjadi penyiar radio swasta acara budaya Jawa ini.

Hambatan di bidang pendidikan perah Fira alami. Ia  pernah ditolak oleh sekolah dasar hingga SMA namun dengan segala daya upaya utamanya orangtua, akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi. “Pernah juga wirausaha buka konter tapi malah dijambret. Penjambret itu memanfaaatkan keterbatasan saya sebagai pengguna kursi roda”, kenangnya.

"Pendidikan sangat penting bagi semua orang, khususnya anak-anak CP. pendidikan tinggi sangat  penting agar tidak disepelekan.  Untuk mencapainya memerlukan dukungan orangtua, keluarga dan lingkungan," pungkas gadis usia 30 tahun alumni STIE Muhammadiyah Tuban ini. (Kertaning Tyas)

The subscriber's email address.