Lompat ke isi utama
ilustrasi tulisan pentingnya self awarenes bagi difabel

Pentingnya Materi Kesadaran Diri (Self Awareness) Bagi Difabel

Solider.or.id, Bandung – Pemerhati difabel yang juga dosen salah satu universitas di Bandung, Elvira memberikan materi tentang kesadaran diri (self awareness) kepada difabel lintas usia yang bertempat di Sekolah Luar Biasa (SLB) D Mustang Bandung, Jum’at (6/10).

Elvira yang tergabung dalam tim pendidik sosial skill mengutarakan pentingnya memahami kesadaran diri (self awareness) bagi setiap orang tanpa kecuali, termasuk difabel secara individu maupun kelompok komunitas.  

“Kita tahu bahwa kesadaran diri penting, memahami diri bukan hanya salah satu syarat agar kita sukses, tetapi juga merupakan syarat agar kita dapat bekerja bersama orang lain secara efektif. Banyak difabel yang sukses dalam berbagai bidang keahliannya, karena mereka memiliki kesadaran diri akan potensi yang telah ada pada dirinya,”  tutur Elvira.

Lebih lanjut, ia mengatakan difabel dengan nondifabel memiliki kesempatan yang sama untuk meraih peluang kesuksesan dalam hidupnya. Meski mungkin perjuangan difabel harus lebih ekstra karena masih banyaknya faktor penghambat baik secara internal, eksternal maupun akses penunjang yang belum tersedia maksimal.

Perubahan sudut pandang terhadap diri akan mampu menggali pemikiran serta perasaan yang muncul, sehingga difabel pun mampu menjadi individu-individu yang kreatif.

“Dengan terbentuknya sudut pandang yang baru, difabel akan lebih kreatif. Tidak terfokus pada ketidak mampuannya, melainkan mengembangkan diri terhadap kemampuannya. Hal ini akan jadi pengalaman bila terjebak dalam situasi yang sama di kemudian hari,” Elvira menambahkan.

Menyimak penjelasan dosennya, seorang peserta yang merupakan difabel daksa tangan, Ujang Sulaeman (26) membenarkan tentang perlunya merubah pola pikir untuk seorang difabel.

Ujang menuturkan, dirinya pernah terjebak dalam kondisi terpuruk sebab pemikirannya sendiri. Ujang mengira dirinya tidak mampu melakukan banyak hal yang berkaitan dengan fungi tangannya.

“Saya dulu terjebak dengan sudut pandang sendiri yang mengira kedua tangan saya ini sebuah hambatan. Namun, ternyata salah besar. Kedua tangan ini mampu menahan beban dinding triplek yang sangat berat. Ketika seorang siswa SD sedang duduk menyaksikan pertunjukan dan hampir terimpa, tangan ini berusaha menyelamatkannya” ungkap Ujang.

Ia juga menambahkan, sejak dirinya mulai mampu merubah pola pikirnya ternyata banyak hal positif yang bisa dilakukannya dengan baik. Ujang mampu mengendarai sepeda motor seperti orang nondifabel pada umumnya, bisa memainkan alat musik petik gitar bas, mampu melukis, mengoperasikan komputer, handphone, dan lainnya yang berkaitan dengan fungsi tangan.

“Iya, kan..., ternyata bisa,” ucap Elvira dengan spontanitas. Elivira menegaskan, kesadaran diri pada difabel perlu dibangun agar terbentuk. Ia juga mengharapkan difabel mampu menjadi individu yang kreatif dan tidak terfokus pada keterbatasan diri.

“Saya yakin setiap orang terlahir dengan potensi yang telah diberikan secara alamiah. Tugas kita adalah mencari, menggali dan mengembangkannya hingga menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri juga bagi orang lain,” papar Elvira, diakhir pemberian materinya.

Solider.or.id, Bandung – Pemerhati difabel yang juga dosen salah satu universitas di Bandung, Elvira memberikan materi tentang kesadaran diri (self awareness) kepada difabel lintas usia yang bertempat di Sekolah Luar Biasa (SLB) D Mustang Bandung, Jum’at (6/10).

Elvira yang tergabung dalam tim pendidik sosial skill mengutarakan pentingnya memahami kesadaran diri (self awareness) bagi setiap orang tanpa kecuali, termasuk difabel secara individu maupun kelompok komunitas.  

“Kita tahu bahwa kesadaran diri penting, memahami diri bukan hanya salah satu syarat agar kita sukses, tetapi juga merupakan syarat agar kita dapat bekerja bersama orang lain secara efektif. Banyak difabel yang sukses dalam berbagai bidang keahliannya, karena mereka memiliki kesadaran diri akan potensi yang telah ada pada dirinya,”  tutur Elvira.

Lebih lanjut, ia mengatakan difabel dengan nondifabel memiliki kesempatan yang sama untuk meraih peluang kesuksesan dalam hidupnya. Meski mungkin perjuangan difabel harus lebih ekstra karena masih banyaknya faktor penghambat baik secara internal, eksternal maupun akses penunjang yang belum tersedia maksimal.

Perubahan sudut pandang terhadap diri akan mampu menggali pemikiran serta perasaan yang muncul, sehingga difabel pun mampu menjadi individu-individu yang kreatif.

“Dengan terbentuknya sudut pandang yang baru, difabel akan lebih kreatif. Tidak terfokus pada ketidak mampuannya, melainkan mengembangkan diri terhadap kemampuannya. Hal ini akan jadi pengalaman bila terjebak dalam situasi yang sama di kemudian hari,” Elvira menambahkan.

Menyimak penjelasan dosennya, seorang peserta yang merupakan difabel daksa tangan, Ujang Sulaeman (26) membenarkan tentang perlunya merubah pola pikir untuk seorang difabel.

Ujang menuturkan, dirinya pernah terjebak dalam kondisi terpuruk sebab pemikirannya sendiri. Ujang mengira dirinya tidak mampu melakukan banyak hal yang berkaitan dengan fungi tangannya.

“Saya dulu terjebak dengan sudut pandang sendiri yang mengira kedua tangan saya ini sebuah hambatan. Namun, ternyata salah besar. Kedua tangan ini mampu menahan beban dinding triplek yang sangat berat. Ketika seorang siswa SD sedang duduk menyaksikan pertunjukan dan hampir terimpa, tangan ini berusaha menyelamatkannya” ungkap Ujang.

Ia juga menambahkan, sejak dirinya mulai mampu merubah pola pikirnya ternyata banyak hal positif yang bisa dilakukannya dengan baik. Ujang mampu mengendarai sepeda motor seperti orang nondifabel pada umumnya, bisa memainkan alat musik petik gitar bas, mampu melukis, mengoperasikan komputer, handphone, dan lainnya yang berkaitan dengan fungsi tangan.

“Iya, kan..., ternyata bisa,” ucap Elvira dengan spontanitas. Elivira menegaskan, kesadaran diri pada difabel perlu dibangun agar terbentuk. Ia juga mengharapkan difabel mampu menjadi individu yang kreatif dan tidak terfokus pada keterbatasan diri.

“Saya yakin setiap orang terlahir dengan potensi yang telah diberikan secara alamiah. Tugas kita adalah mencari, menggali dan mengembangkannya hingga menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri juga bagi orang lain,” papar Elvira, diakhir pemberian materinya. (Srikandi Syamsi)   

  

The subscriber's email address.