Lompat ke isi utama
ilustrasi asisten difabel

Atasi Kebutuhan Asisten Pribadi untuk Difabel

Solider.or.id, Bandung, Terlahir sebagai difabel atau seseorang yang menjadi difabel baru dapat dialami oleh siapa pun. Dari setiap perkembangannya segala sesuatu yang menyangkut difabel terutama tentang haknya, masih saja terdapat banyak permasalahan. 

Salah satu hak difabel yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016, pasal 5 adalah: ‘Mendapatkan perawatan dan pengasuhan keluarga atau keluarga pengganti untuk tumbuh kembang secara optimal.’

Lalu, bagaimana langkah penerapannya pada difabel?

Dalam undang-undang tersebut dengan jelas disampaikan tentang sosok perawat atau pengasuh yang menjadi kebutuhan difabel. Istilah sebutan yang biasa dipakai yaitu asisten pribadi atau personal assistent.

Sebagian besar difabel sangat membutuhkan keberadaan asisten pribadi (personal assistent). Pihak keluarga maupun tenaga profesional yang memerankan dirinya sebagai sosok tersebut tergolong masih langka sekali. Padahal, secara umum banyak difabel yang masih kesulitan menemukan asisten pribadi bahkan dari pihak keluarganya sendiri.

Faktor yang membuat kelangkaan tersebut biasa terjadi karena kurang baiknya interaksi di antara kedua belah pihak. Tingkat pemahaman akan kebutuhan difabel secara individu dan mendasar masih perlu dipaparkan. Pemahaman yang dimaksud bukan sebatas dari kondisi kedifabelan yang dimiliki saja. Akan tetapi, memahami kondisi emosional dan psikologis difabel pun sangat diperlukan.

Terkadang dalam lingkup keluarga inti, anggota keluarga yang menjadi difabel masih belum dapat diterima seutuhnya. Sikap penolakan seperti ini masih dialami oleh difabel. Jika pengakuan dan dukungan saja belum bisa dirasakan dari keluarga sendiri, bagaimana dengan lingkungan luar?

Untuk difabel, sosok asisten pribadi yang memiliki kedekatan secara emosional adalah dari pihak keluarga. Seperti penuturan seorang siswa SMPLB, Saiful Khafi (18) yang akrab dengan panggilan Aef. Sebagai difabel cerebal palsy (CP), Aef mengaku memerlukan asisten pribadi. Dari penuturannya berikut dapat memberikan gambaran tentang asisten pribadi yang merawatnya.

Sosok ibu yang sejak lahir senantiasa merawatnya sebagai putra pertama di keluarga dirasakan luar biasa. Dari ibunya bukan hanya kesabaran, ketelitian juga perhatian maksimal yang diberikan, melainkan waktu yang dimiliki tercurah kepadanya. Usia delapan tahun, Aef memiliki asisten pribadi profesional selama beberapa bulan saja.

Dari penuturan Aef, ketika ibunya sedang hamil sulit mengurusi dirinya secara maksimal. Untuk mengatasinya, ia menggunakan jasa asisten pribadi profesional sebagai pilihan kebutuhan. Meski asisiten pribadi profesional yang ada saat itu orangnya baik dan sabar, tetap saja tidak senyaman dengan ibunya. Alasan Aef sederhana, dirinya tidak bisa seterbuka kepada orang lain selain ibunya.

Lain halnya dengan Iman Nurjaman (24) yang telah hampir dua tahun menjadi asisten pribadi profesional difabel pengguna kursi roda. Menurut Iman, masih jarangnya orang yang bersedia menjadi asisten pribadi difabel karena perlu memahami karakter dari individu difabelnya.

Kesiagaan dalam setiap kondisi dan waktu yang dibutuhkan difabel untuk menjalankan amanat profesinya tidak bisa diprediksikan. Sehingga harus siap selama 24 jam untuk membantu segala keperluannya. Kondisi emosional difabel yang terkadang tidak stabil masih dirasakan sebagai kesulitas dalam melakukan tugasnya.

Iman masih mampu bertahan sebab dirinya menyadari telah mengambil tanggung jawab sebagai asisten pribadi profesional untuk difabel. Meski hingga kini Iman masih berusaha memahami kondisi mental, emosional dan karakter dari difabel yang menjadi tanggung jawab profesinya tersebut.

Dari gambaran-gambaran tadi, yang menjadi inti dari hubungan kebutuhan antara difabel dengan asisten pribadinya berkaitan dengan karakter dan psikologis. Baik pemahaman difabel terhadap asisitennya maupun sebaliknya.

Edukasi tentang kondisi dan memahami individu difabel diperlukan oleh asisten pribadi, terutama asisten pribadi profesional. Cara berinteraksi dengan pihak luar pun perlu dilatih oleh setiap difabel. Sehingga, ketika kedua belah pihak mampu bersosialisasi dengan tepat, rasa nyaman pun akan dimiliki oleh difabel dan asisten pribadinya.

Amanat undang-undang Nomor 8 Tahun 2016, pasal 5 tentang asisten pribadi bagi difabel, baik dari lingkup keluarga atau keluarga pengganti dapat dijalankan dengan proses pengayaan edukasi, sosialisasi dan interaksi secara langsung. Atau untuk asisten pribadi profesional difabel dapat dijaring melalui program pelatihan kerja hingga penyaluran dan penempatannya secara nyata kepada individu-individu difabel yang memerlukan. (Srikandi Syamsi)

The subscriber's email address.