Lompat ke isi utama
suasana Training DID Semarang

PPRBM Gandeng Perangkat Kelurahan Padurungan Demi Percepatan Kesetaraan Difabel

Solider.or.id, Semarang - Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat (PPRBM) Solo selenggarakan training Disability Inclusive Development (DID) bagi para perangkat kelurahan di Kecamatan Pedurungan selama 3 hari. Acara yang berlangsung dari tanggal 4 hingga 6 Oktober 2017 ini cukup mampu membangun perspektif baru tentang difabel bagi para perangkat desa di Pedurungan. 

Training DID di Semarang merupakan kegiatan ke-6 setelah rangkaian 5 training serupa di wilayah karesidenan Surakarta dan Salatiga.

“Latar belakang diadakannya training ini adalah untuk mendorong percepatan kesetaraan bagi difabel di 7 kabupaten dan Kota di Jawa Tengah,” ungkap Manajer program kegiatan ini, Muh. Nuryadin Edi Purnama.

Selain Pedurungan, rencananya dalam waktu dekat akan dilaksanakan pula training yang sama di Tembalang. Kedua daerah ini terpilih karena memiliki banyak warga difabel.

Hari pertama training, para peserta mendapatkan brain storming tentang istilah difabel, inklusi, aksesibilitas dan istilah tentang difabel lainnya. Materi tersebut ternyata masih teringat jelas oleh para peserta ketika memasuki sesi presentasi diskusi kelompok. Hampir keseluruhan rencana aksi yang disampaikan oleh peserta mampu membuat kebijakan yang pro difabel.

Para perangkat Kelurahan tersebut merencanakan membuat program yang dapat memenuhi hak difabel di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, politik serta hak tumbuh kembang anak difabel. Hal ini merupakan refleksi keberhasilan tujuan diselenggarakannya training ini.

Helen Intania, CO PPRBM di Pedurungan mengatakan, “Training ini bertujuan agar para perangkat kelurahan di Pedurungan mampu memahami kebutuhan difabel dan memiliki kesadaran untuk memasukkan kebutuhan tersebut pada anggaran desa.”

Beberapa rencana tindak lanjut yang disampaikan para peserta antara lain memberikan kesempatan bagi difabel memberikan suara pada Musren, membuat forum peduli difabel di masing-masing kelurahan, bekerjasama dengan pengusaha dan CSR untuk membantu pendanaan usaha difabel, meliatkan difabel dalam diskusi pembangunan infrastruktur agar aksesibel, melakukan pendataan yang valid untuk mengetahui jumlah difabel di daerah masing-masing, serta permohonan pada Dinas Sosial Kota Semarang untuk mendampingi dan mengadakan sosialisasi pada masyarakat agar paham tentang istilah difabel. 

Tindak lanjut PPRBM dari training ini adalah mengawal pelaksanaan rencana aksi yang telah dibuat ke kelurahan-kelurahan di Pedurungan. Baik Helen maupun Nuryadin berkomitmen untuk terus mendorong percepatan kesetaran hak difabel ini. Selain mengadakan workshop lanjutan untuk OPD Kota Semarang, panitia penyelenggaraan berencana membuat grup diskusi di sosial media WhatsApp.

“Dengan adanya grup diskusi di sosial media, ini akan mempermudah untuk promosi kegiatan-kegiatan difabel dan berbagi pengalaman tentang kegiatan yang dilaksanakan dari berbagai macam daerah,” ungkap Nuryadin di akhir percakapan. (Agus Sri)

The subscriber's email address.