Lompat ke isi utama
pengunjung pameran sigab sedang belajar bahasa isyarat

Kelas Bahasa Isyarat Bagaikan Coklat, Banyak Peminat

Solider.or.id.Yogyakarta. Pengunjung Pameran Sain dan Teknologi Pancasilais di GOR UNY pada Jumat (6/10/2017), memadati kelas bahasa isyarat pada stand 68, milik Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia. Dengan antusias pengunjung pameran menggerakkan jari jemari mengikut contoh yang diperagakan oleh seorang tuli yang menjadi pengajar saat itu.

Menurut Neneng Nur Widya, salah seorang petugas dari SIGAB, antusias pengunjung pameran pada kelas bahasa isyarat pada hari kedua dan ketiga pameran sangat tinggi. “Kelas Bahasa Isyarat bagaikan coklat, banyak sekali peminat.” Sebuah ungkapan yang dapat menggambarkan ketertarikan para pengunjung pameran pada kelas bahasa isyarat.

Selama tiga hari berturut-turut kelas bahasa isyarat memang selalu dibanjiri peminat., ungkap Nur Widya, salah satu staf SIGAB. Terlebih pada hari kedua (5/10) dan ketiga (6/10). “Mereka di antaranya para pelajar SMP-SMA, mahasiswa, bahkan dosen, serta para orang tua dengan anak-anak mereka usia TK dan SD,” jelas Neneng, sapaan akrabnya.

Menjadi bagian kehidupan

“Dengan mengenal, belajar, dan dapat berkomunikasi dengan tuli menggunakan bahasa isyarat, saya merasa menjadi bagian dari mereka, bagian kehidupan,” ungkap Ragil Kurniawan. Seorang dosen Prodi PGSD Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta usai mengikuti kelas bahasa isyarat.

Ragil juga membeli sebuah Jurnal Difabel yang diterbitkan SIGAB. Dia mengatakan bahwa dirinya cukup lama memiliki ketertarikan terhadap dunia difabilitas.  Melihat tuli dengan komunitasnya yang mampu bertahan hidup, bersosial di tengah sebagian masyarakat yang tidak memahami komunikasinya menjadi sebuah kekaguman bagi dosen tersebut.

Satu alasan lain dikatakan terkait ketertarikannya belajar bahasa isyarat. “Saya memiliki sepupu tuli, dia tidak bersekolah dan tidak bisa berkomunikasi. Saya ingin sekali membawa bahasa ini untuk sepupu saya. Sehingga dia bisa berkomunikasi, menyampaikan pikiran dan perasaannya, meski minimal saya yang akan memahamnya,” ungkap Ragil.

“Menarik sekali! keren! Saya jadi tahu bahasa teman-teman tuli. Saya akan mengajarkan pada teman-teman saya nantinya,” hal tersebut diungkapkan Nicko, pelajar kelas VII SMP Depok 2 Sleman.

Sementara bagi Fitri seorang Mahasiswa Teknologi Pendidikan UNY mengatakan, mestinya bahasa isyarat juga menjadi bahasa setiap orang sebagaimana bahasa lainnya.  Dengan banyaknya orang memahami bahasa isyarat maka komunikasi dapat terjalin dua arah, nyambung satu sama lan, tidak ada yang merasa ditnggalkan dan diabaikan.

Pada kelas yang dilangsungkan singkat tersebut, pengunjung dapat belajar langsung dengan ahlinya, yakni tuli sebagai pengajarnya. Pengajar yang seorang tuli mengenalkan abjad A-Z dalam isyarat. Selebihnya dikenalkan kata sederhana seperti nama saya, rumah saya, terima kasih, dan sama-sama, serta tepuk tangan bagi tul (silent clap).

Para tuli yang mengajar kelas isyarat pada event pameran diantaranya: Ahmad Robi Nugroho, Riski Purna Adi, Indra Kurmala dan Lia Nur Rochma. Mereka menyarankan kepada pengunjung pameran yang ingin belajar lebih dalam tentang basaha isyarat, untuk mengikuti kelas bahasa isyarat yang rutin dijadwalkan di Sekolah Semangat Tul (SST), Langenarjan Lor No. 16 A (Alun-alun Kidul) Yogyakarta (hnw).

The subscriber's email address.