Lompat ke isi utama
sampul buku kumpulan cerpen "Mata Yang Enak Dipandang"

Menebak Citra Difabel dalam Cerpen Mata yang Enak Dipandang

Solider.or.id - Siapa yang tidak kenal dengan Ahmad Tohari. Bagi pecinta sastra, nama satu ini pasti sangat dikenal, terutama karena kepiawaiannya dalam membuat karya yang berlatarbelakang kehidupan orang kecil. Ahmad Tohari besar dengan karya-karyanya yang khas dan unik, sebagian besar dengan tema kemiskinan, orang miskin dan kaum marjinal. Selain dibesarkan oleh karya novelnya seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari juga dibesarkan oleh kumpulan cerpennya. Dari banyak kumpulan cerpennya, salah satu yang menyita banyak perhatian adalah kumpulan cerpen yang berjudul Mata yang Enak Dipandang.

Dalam kumpulan cerpen Mata yang Enak Dipandang, sebagian besar masih didominasi oleh pergulatan kaum menengah ke bawah dalam berkehidupan di masyarakat, pula kaum marjinal. Ada cerita tentang pegawai seks komersial (PSK), penjual warung dan petani miskin, dan juga cerita tentang kehidupan difabel.

Difabel diceritakan dalam kumpulan cerpen ini dengan judul Mata yang Enak Dipandang, sama seperti nama judul kumpulan cerpennya. Dalam cerpen ini, ada dua tokoh utama, yakni Mirta dan Tarsa. Mirta adalah seorang difabel netra dan Tarsa adalah seorang pengemis yang awas. Latar yang diambil adalah sebuah stasiun kereta api dengan menonjolkan karakter Mirta sebagai pengemis buta. Mirta yang seringkali mangkal untuk mengemis di stasiun, kemudian mendapat bantuan dari Tarsa yang bertugas untuk menuntun Mirta, atau menjadi matanya. Tugas Tarsa adalah mendekat ke arah kereta yang baru datang dan mencari mata-mata yang enak dipandang. Menurut Mirta, mata-mata yang enak dipandang adalah mata-mata orang yang suka memberi, penuh welas asih dan simpatik. Tapi, Tarsa kemudian memeras Mirta untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, sebuah es limun. Mirta yang miskin tak ingin diperas Tarsa. Ia pun menolak, dan akhirnya ditinggalkan sendirian di bawah terik matahari.

Dalam kajian ilmu sastra, muncul sebuah pendekatan yang menganalisis karya sastra dari segi kemasyarakatan (sosial). Pendekatan ini lalu dikenal dengan istilah sosiologi sastra. Dalam pendekatan ini, karya sastra sangat dipengaruhi oleh faktor luar karya mereka. Kehidupan masyarakat sekitar pengarang biasanya akan sangat mempengaruhi tema-tema karya sastra yang ditulis. Pendekatan ini juga menganalisis karya sastra sebagai hasil dari fenomena sosial, sebuah produk masyarakat.

Citra yang digambarkan dalam cerpen Mata yang Enak Dipandang adalah citra difabel yang benar-benar termarjinal. Mirta sebagai difabel netra di cerpen itu dicitrakan sebagai individu yang tak bisa bertahan dari kerasnya kehidupan. Itulah yang membuat Mirta menjadi seorang pengemis. Terlebih Mirta adalah seorang difabel, kelompok yang terdiskriminasi oleh pranata sosial yang tidak inklusi.

Difabel dan pengemis adalah relasi yang dekat. Setidaknya, tatanan sosial yang tidak aksesibel ikut berperan dalam melanggengkan persepsi ini. Padahal jika ditelaah lebih dalam, kedekatan difabel dan pengemis adalah akumulasi dari proses pemiskinan. Lagi-lagi, telaah Ro’fah dalam buku Hidup dalam Kerentanan: Narasi Kecil Keluarga Difabel yang mengatakan bahwa difabel dan kemiskinan itu dekat memunculkan kembali relevansinya.

Tentunya tema cerpen Mata yang Enak Dipandang dari Ahmad Tohari berasal dari paparan yang ia rasakan dari konstruksi sosial yang ada di sekitarnya. Rentang antara tahun 80an sampai 90an, rentang cerpen Mata yang Enak Dipandang diciptakan adalah era ketika istilah difabel mungkin juga belum sama sekali terpikirkan. Istilah yang ada pada saat itu masih berada pada diskursus penyebutan cacat, penderita cacat, dan istilah diskriminatif lainnya.

Konstruksi sosial yang sama sekali tidak inklusi ini pun mendarah daging tidak hanya bagi difabel di era itu sendiri yang mengaitkan diri mereka dengan kemiskinan, pula dengan anggota masyarakat yang lain seperti sastrawan. Ia tak mendapatkan variasi citra tentang difabel di era itu yang menggiringnya kepada penulisan cerpen dengan tema difabel dan pengemis. Bisa jadi, Mirta adalah difabel pengemis yang sering Ahmad Tohari temukan di stasiun kota kelahirannya. Difabel tak mendapat kesempatan, lagi-lagi oleh konstruksi sosial, untuk menghadirkan citra yang lebih inklusif.

Ketika membaca kembali cerpen ini di era sekarang, konstruksi itu terasa tak bergeser dan masih saja diskriminatif seperti itu. Padahal selang beberapa tahun rasa-rasanya perjuangan untuk menciptakan pranata sosial yang inklusif bahkan lebih keras dan lantang untuk digalakkan. Lalu, ketika boleh bertanya, siapa sebenarnya yang harus bertanggungjawab? (Yuhda)

The subscriber's email address.