Lompat ke isi utama
beberapa atlet difabel berprestasi

Atlet Difabel dan Nondifabel, Sudah Setarakah?

Solider.or.id. Yogyakarta. Meski gelaran akbar Asean Para Games 2017 sudah selesai sekitar dua minggu lalu, euforia keberhasilan atlet difabel Indonesia meraih gelar juara umum masih saja dirasakan publik. Terakhir dua hari yang lalu, presiden Jokowi mengundang atlet difabel Indonesia ke istana sebagai bentuk apresiasi tinggi atas prestasi yang sudah diraih.

Hal ini bukan tanpa alasan. Sejak pertama kali digelar tahun 2001 di Kuala Lumpur Malaysia, Indonesia baru bisa mencicipi gelar juara umum sebanyak dua kali. Pertama adalah Asean Para Games ke VII tahun 2014 di Naypyidaw, Myanmar dan kedua adalah gelaran terakhir di Kuala Lumpur, Malaysia. Sisanya, dikuasai Thailand sebanyak enam kali, dan Malaysia sebanyak satu kali. Meski begitu, Indonesia patut berbangga hati, dari tiga kali gelaran terakhir, Indonesia dua kali menguasai. Artinya, atlet difabel Indonesia berada dalam tren positif dari segi prestasi.

Prestasi diatas berbeda dengan apa yang ditorehkan dari atlet nondifabel di gelaran Sea Games. Meski tercatat Indonesia meraih sepuluh gelar juara umum dalam dua puluh sembilan perhelatan dua tahunan ini, tren Indonesia tidak sebaik para atlet difabel dalam tiga tahun terakhir, yakni tidak sekalipun menggapai gelar juara. Bahkan di gelaran terakhir, posisi Indonesia hanya ada di peringkat ke lima.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membandingkan antara atlet difabel dan atlet nondifabel karena memang ranahnya tidak bisa untuk dibandingkan. Tulisan ini mencoba mengulas beberapa hal yang patut diperhatikan ihwal perbedaan dinamika antara kondisi atlet difabel dan nondifabel berdasarkan pengamatan awam.

Paparan Media Belum Cukup Seimbang 

Sudah menjadi isu yang sangat sering diperbincangkan bahwa difabel adalah kelompok yang paling rentan didiskriminasi. Bentuknya mulai dari stigma negatif, pandangan sebelah mata, fasilitas publik yang tidak aksesibel, ketidakhadiran negara dalam penerapan sistem berkehidupan yang inklusi serta berbagai hal produktif lainnya.

Dalam konteks gelaran olahraga se Asia Tenggara, kecenderungan hal di atas perlu menjadi catatan penting. Setidaknya dalam ranah pemberitaan media. Jika memang memenuhi syarat untuk disebut sebagai sebuah diskriminasi, paparan berita mengenai perjuangan para atlet tidak berada pada porsi yang belum cukup seimbang. Bisa dilihat, saat gelaran Sea Games 2017, hampir setiap hari media memberitakan perjuangan para atlet nondifabel ini. Berbeda dengan gelaran Asean Para Games, paparan media tidak sebanyak gelaran Sea Games. Sebagian besar menyoroti di akhir-akhir ketika Indonesia hampir pasti menggenggam gelar juara.

Semua Harus Setara

Dilansir dari laman tribunnews, pemerintah memang berkomitmen untuk berlaku adil baik kepada atlet difabel dan atlet nondifabel. Salah satunya berupa bonus untuk para atlet yang merebut medali. Para atlet difabel dan nondifabel akan sama-sama mendapatkan bonus yang sama dan kesempatan menjadi PNS. Langkah ini tentunya bisa menjadi sebuah itikad baik dalam menghapuskan diskriminasi bagi difabel.

Selain itu, pemerintah perlu mendorong dan menjaga upaya lainnya ihwal mainstreaming isu difabel dalam ranah olahraga dengan cara mensejajarkan lembaga olahraga seperti NPC (National Paralympic Committe), KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), serta KOI (Komite Olimpiade Indonesia). Melalui kesetaraan lembaga tersebut, artinya pandangan sebelah mata akan kemampuan difabel sudah seharusnya bisa hilang dari publik.

Iklim olahraga pun masuk dalam radar perhatian pemerintah. Saat ini iklim olahraga nondifabel cenderung masih lebih diperhatikan daripada iklim olahraga difabel. Sebagai contoh, olahraga sepakbola untuk nondifabel mendapat banyak perhatian mulai dari pembinaan sampai penataan kompetisi rutin berbentuk liga. Sedikit berbeda dengan beberapa olahraga khas difabel yang tidak cukup populer karena paparannya tidak terlalu banyak. Misal, olahraga goalball untuk difabel netra tidak sepopuler dengan olahraga nondifabel lainnya dari segi sarana prasana dan iklim kompetisi yang mengasah prestasi.

Sekali lagi, terlalu naif jika harus membandingkan antara dinamika olahraga difabel dan nondifabel. Tapi setidaknya, dengan menyamaratakan marwah olahraga difabel dan nondifabel, kita sedang berikhtiar bersama-sama untuk menempatkan difabel dalam posisi yang seharusnya: setara.

Terakhir, prestasi moncer (bersinar) dari atlet difabel dalam ajang Asean Para Games 2017 diharapkan bisa menjadi jalan pembuka pengarusutamaan isu-isu difabel di bidang-bidang produktif lainnya. (Yuhda)  

The subscriber's email address.