Lompat ke isi utama
suasana nonton bareng

Sehati Putar Film Mainstreaming Gender, Difabilitas dan Konsep RBM

Solider.or.id, Sukoharjo-Banyaknya anggota baru Koperasi Sehati yang hadir pada pertemuan rutin setiap bulan dan di antara mereka masih awam dengan pemahaman tentang gender, difabilitas dan konsep RBM, menjadikan acara diisi dengan pemutaran film dan paparan. Film tentang gender memahamkan bagaimana gender adalah sebuah konsep yang lebih mengedepankan tentang peran sosial. “Beberapa yang sering didapati adalah  diksriminasi atas hak untuk kesehatan, pendidikan yang masih eksklusif dan hak dalam memperoleh pekerjaan,” ujar Edy Supriyanto, penasihat Koperasi Sehati pada pertemuan di Aula Loka Bina Karya (LBK), Minggu (1/10).

Menjelaskan tentang konsep difabel, Edy menekankan kepada istilah difabel yang lebih afirmatif dan positif dibanding penyandang disabilitas yang dipilih oleh pemerintah. Disabilitas mengandung arti ketidakmampuan. Ketidakmampuan bukan karena memiliki fisik yang berbeda tetapi pada lingkungan dan adanya hambatan fungsional hingga bawaan sehingga tidak setara.”Hambatan lingkungan di antaranya adalah adanya stigma, akses pembangunan, informasi, partisipasi dan kebijakan yang tidak berpihak kepada difabel.

Konsep RBM dan Pendekatan Berbasis Hak Asasi Manusia

Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) adalah sebuah strategi dalam pemberdayaan masyarakat untuk rehabilitasi, persamaan dan kesepahaman dalam pengurangan kemiskinan dan peleburan (inklusi) sosial bagi semua difabel (WHO, ILO, Unesco 2004)

 

Pada awalnya RBM adalah merupakan metode penyediaan pelayanan yang memanfaatkan secara optimal pelayanan kesehatan primer dan sumber-sumber daya masyarakat, dan dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan primer dan rehablitasi pada para difabel, terutama di negara-negara yang berpendapatan rendah. Kementerian-kementerian kesehatan di banyak negara (Iran, Mongolia, Afrika Selatan, Vietnam)memulai program-program RBM melalui staf kesehatan mereka. (Pedoman RBM, WHO, 2013).

Pada tahun 2004, untuk menyesuaikan evolusi RBM menjadi strategi pembangunan multisektor yang lebih luas cakupannya, maka sebuah matrik dikembangkan yang terdiri lima komponen kunci adalah kesehatan, pendidikan, penghiduoan, sosial dan pemberdayaan.Masing-masing komponen tersebut memiliki lima elemen.

RBM saat ini bergerak salah satunya adalah sebab ada penolakan dan pelanggaran hak-hak sisial. Pelanggaran hak sosial terkait ekonomi di antaranya difabel disebut miskin. “Kita memiliki biaya hidup 3x lipat dari orang nondifabel,” imbuh Edy Supriyanto. (Puji Astuti)

 

Sebagai penandasan peran RBM pada era kekinian, Edy memiliki beberapa solusi di antaranya adalah mengikutsertakan organisasi difabel (OPDis) sebagai tenaga ahli dalam mengidentifikasi dan merespon hambatan yang ada. Dan memilih RBM sebagai strategi utama dalam pembangunan inklusi yang bersumberdaya masyarakat. “melakukan pendekatan dua arah dengan prinsip kesadaran, partisipasi dan aksesibilitas dalam pembangunan inklusi serta pengarusutamaan inklusi sosial dalam pembangunan inklusi adalah strategi yang saat ini kita lakukan dan kembangkan,”pungkas Edy Supriyanto.

The subscriber's email address.