Lompat ke isi utama
Putri sedang berlatih berjalan

Putri, Bocah dengan CP Menjaga Mimpi untuk Bisa Berlari

Solider.or.id.Yogyakarta. Yuliana Putri Maharani (9), bocah perempuan dengan Cerebral Palsy (CP). Dia sangat ingin berlari, berkejaran ke sana ke mari.  Dia mengungkapkannya pada saya saat saya berkunjung di kediamannya, Pereng RT 39 RW 20, Sendangsari, Pengasih, Kulon Progo, Kamis (28/9/2017).

“Tahun depan, [2018-red] kita lomba lari ya kak, saat kita ulang tahun!” Putri yang tahu ulang tahunnya berdekatan dengan saya, meminta pada saya sambil berteriak menyemangati dirinya. Dan saya jawab, “Siap Putri, sebelum tahun depan malah Putri harus sudah bisa berlari. Sehingga pada Ulang Tahun Putri yang kesepuluh, 4 Juli 2018, saat itu kita lomba berlari,” jawabku tak kalah memberi semangat bagi Putri.

Berbinar wajah Putri yang manis menyiratkan kegirangan yang luar biasa. “Untuk bisa berlari apa yang sudah dilakukan Putri?” tanyaku. “Aku berlatih tiap hari kak,” jawabnya. Oh ya? “Sendiri atau perlu ditemani?” lanjut pertanyaanku. “Masih ditemani Mamak (Putri menyebut ibunya),” tukas Putri.

Demi menjaga mimpinya untuk bisa berlari, bocah perempuan mungil itu menyemangati dirinya sendiri, memotivasi dirinya sendiri. Menanamkan rutinitas berlatih pada pagi hari sebelum berangkat sekolah, juga siang atau sore hari sepulang dari sekolah. Berlatih intensif dilakukan Putri dengan pendampingan dan pengawasan ibunya. Adapun seminggu sekali, pada tiap hari Kamis, Putri mendapatkan fisioterapi dan terapi berjalan oleh seorang terapis dari Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRY).

Dukungan orangtua dan lingkungan

Ayahnya membuatkan alat latihan berjalan dengan menggunakan bahan bambu (alat jalan tradisional). Alat tersebut direkomendasikan oleh terapis dari Yakkum yang bernama Yanuar. Dialah  yang menangani dan memberikan terapi bagi Putri. Alat jalan tradisional tersebut diletakkan berdekatan dengan tempat tidur Putri. Dengan alat buatan ayahnya, Putri intensif berlatih turun dari tempat tidur lalu latihan berjalan.

Sesekali Putri juga berlatih menggunakan (walker) alat latihan jalan modern yang di bagian depannya beroda. Walker tersebut menurut Tugini (ibu Putri) merupakan bantuan dari PRY, sebagai sarana terapi. Dengan Walker dan pengawalan ibunya, Putri bisa latihan berjalan di jalan bersemen di samping rumahnya yang berdinding bambu.

Saat Solider berkunjung ke rumah Putri, Kamis (28/9) bertepatan dengan kunjungan terapis dari PRY Yanu Waskita Adhi dan Veni Septiani. Saat itu pula Solider melihat bagaimana Putri mendapatkan terapi pada beberapa bagian kaki dan tangannya. Terapi dilakukan di atas tikar plastik yang digelar Tugini, ibu Putri pada lantai tanah tanpa ubin.

Karena CP, Putri mengalami kelemahan pada empat anggota gerak, dengan istilah lain Tetra Pharase. Yakni kelemahan otot-otot pada kedua tangan dan kedua kakinya. Hal tersebut disampaikan oleh Yanu, sang terapis. Sambil melakukan terapi, Yanu bercerita bahwa progres Putri termasuk cepat. Hal tersebut karena dukungan ibunya dalam mendampingi Putri, juga semangat yang dibangun dalam diri Putri. Terapi intensif dilakukan oleh Yanu sejak Maret 2016. Terhitung dalam kurun waktu satu setengah tahun progres menggembirakan terjadi pada Putri.

Seusai terapi, Putri berlatih berjalan menggunakan alat jalan tradisional buatan ayahnya. Selama kurang lebih satu jam, tanpa mengeluh, dengan peluh yang membasuh seluruh tubuh, Putri sangat semangat berjuang, meski nyata terlihat berat perjuangan Putri untuk dapat berjalan.

Wajib terapi

Terapi rutin harus dilakukan untuk anak dengan cerebral palsy, ungkap Yanu. Jika tidak, maka otot-ototnya akan kaku, makin lama makin kaku sehingga akan sulit digerakkan, lanjutnya.  Putri juga pernah mengalami drop atau penurunan, yang disebabkan selama satu bulan Putri tidak mendapatkan terapi. Ketiadaan jadwal kunjungan terapi juga menurunkan semangat Putri dalam berlatih.

Di antar ayahnya dengan bersepeda motor, Putri berangkat sekolah dalam gendongan ibunya. Sesampainya di sekolah, Putri akan diturunkan di kursi rodanya, untuk beraktivitas belajar dan bermain. Kursi roda Putri merupakan juga bantuan dari Yakkum yang beralamat di Jalan Kaliurang Km 13,5, Besi, Yogyakarta.

Putri merupakan anak semata wayang pasangan petani di wilayah perbukitan Menoreh Kulon Progo. Ayahnya bernama Harun (68) dan ibunya bernama Tugini (44). Bocah perempuan itu, saat ini duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD) Negeri Widoro. Dia satu-satunya siswa difabel dalam kelas yang berjumlah 21 murid. Menggunakan tangan kirinya Putri beraktivitas menulis, makan, dan minum. Putri tergolong anak yang cerdas, hal tersebut disampaikan guru kelasnya yang bernama Siti Nuryati pada Solider di sela waktu mengajar, Kamis (28/9).

Teman-teman di kelas Putri juga memahami Putri. Tidak satu pun yang mem-bully atas kondisi Putri. Saat proses belajar mengajar Putri duduk di deretan paling depan, menggunakan kursi rodanya. Dua teman yang duduk pada bangku di sebelahnya, Destin dan Amanda sering menemani dan membantu Putri di kelas maupun di saat istirahat.  (hnw)

The subscriber's email address.