Lompat ke isi utama
ilustrasi difabel Banjarnegara

Realitas Difabel Banjarnegara, dari Kompleksnya Persoalan, Hingga Peluang Perubahan

Solider.or.id, Banjarnegera - Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed mendikotomikan masyarakat ke dalam dua golongan kelompok manusia: kelompok penindas dan kelompok yang tertindas[i]. Meski dalam bukunya, realitas tersebut banyak dibicarakan dalam konteks pendidikan, pendikotomian tersebut masih cukup kontekstual jika dijadikan bahan pijakan untuk menganalisis bidang kehidupan yang lain.

Dalam analisis Freire, kelompok yang kuat melakukan penindasan ke kelompok yang lemah. Penindasan dilakukan oleh mereka yang memiliki kuasa kepada mereka yang lemah secara kekuasaan[ii]. Kelanggengan praktik ini menyebabkan kaum yang tertindas memiliki pilihan apakah harus melakukan perlawanan atau terpapar akan ironi menjadi penindas dengan adanya kemajuan yang mereka peroleh. Selain itu, kelompok tertindas bisa saja kehilangan daya kritis akan penindasan tersebut, daya kritis yang akhirnya membuat mereka sangat tergantung dengan kelompok penindas dan rentan secara kemiskinan. 

Ro’fah dalam bab Mengurai Kompleksitas Kemiskinan Difabel dalam buku Hidup Dalam Kerentanan Narasi Kecil Keluarga Difabel menuliskan bahwa ada hubungan kausalitas antara kemiskinan dan disabilitas[iii]. Hubungan yang sangat erat  ini membuat difabel sangat rentan dengan kemiskinan. Menurutnya, difabel hampir di semua konteks kebudayaan terhambat secara signifikan dalam mengakses pendidikan, pekerjaan dan aspek sosial yang semuanya menjadi pintu kerentanan terhadap kemiskinan. Rentan menurutnya berarti kedekatan antara difabel dan kemiskinan: Difabel berdampak pada kemiskinan dan demikian juga sebaliknya, kemiskinan adalah penyebab seseorang menjadi difabel.

Difabel di Banjarnegara

Untung (43) sedang merapikan hasil jahitannya yang baru saja ia selesaikan di rumahnya di desa Karangkobar, Banjarnegara. Bersama istrinya, ia membangun bisnis jahit untuk seputaran desanya. Untung dan istrinya adalah difabel daksa pemakai kursi roda. Tim solider lalu mengunjungi kediaman mereka yang berjarak sekitar satu jam dari pusat kota Banjarnegara.

Di kalangan difabel Banjarnegara, Untung adalah salah satu penggerak difabel yang paling aktif di Banjarnegara. Ia adalah ketua dari Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara (FKDB). Selain itu, ia juga menjadi ketua dari NPC (National Paralympic Committee) Banjarnegara.

 

Menurut Untung, tantangan yang dihadapi oleh difabel di Banjarnegara cukup banyak. Sebagai kota kecil, ia merasa tantangan tersebut hampir sama dengan tantangan-tantangan bagi difabel di daerah.

“Yang jelas, stigma negatif masyarakat Banjarnegara terhadap difabel masih cukup tinggi. Apalagi di desa-desa yang jauh dari pusat perkotaan,” ungkap bapak satu anak ini.

Untung menuturkan bahwa, seperti fenomena di daerah lain di Indonesia, masih banyak orang tua difabel yang masih malu punya anak difabel.

“Banyak yang menyembunyikan anak difabel mereka di rumah, tidak memberikan mereka hak untuk bersosialisasi,” ujarnya.

Hasilnya banyak difabel yang malu untuk bertemu orang. Mereka tidak punya rasa percaya diri yang tinggi untuk bersosialisasi dengan masyarakat luas.

Selain itu, kemiskinan juga dibahas pria berambut panjang ini.

“Saya pernah dimintai seorang janda untuk mencarikan panti asuhan bagi kedua anaknya yang difabel,” Ia bercerita. Menurutnya, janda tersebut terlalu bingung untuk mengurusi kedua anaknya yang menyebabkan perekonomiannya tersendat.

Banyak juga difabel yang sukses di Banjarnegara menurutnya. Namun, ia mengeluh karena biasanya mereka tidak terlalu bersemangat untuk memperjuangkan hak-hak difabel lainnya.

“Ada beberapa difabel yang sudah jadi PNS dan mungkin sudah nyaman sehingga tidak sesemangat teman- teman difabel lainnya dalam menyuarakan hak difabel,” ungkapnya.

Dehumanisasi ala Freire

Realitas difabel Banjarnegara yang diungkapkan oleh Untung sejalan dengan konsep dehumanisasi yang dihembuskan oleh Freire. Menurutnya, dehumanisasi merupakan penyimpangan atas fitrah manusia untuk menjadi manusia yang sejati. Manusia sejati dicirikan sebagai manusia yang mendapatkan segala hak dan bisa mengeluarkan segala potensi yang dimilikinya. Di Banjarnegara, difabel masih belum cukup maksimal dalam mengakses segala hak dan potensi mereka. Salah satunya hak untuk mendapatkan fasilitas publik yang aksesibel.

“Banyak fasilitas di Banjarnegara yang belum aksesibel, seperti di pasar, terminal, kantor dinas, dan bahkan di tempat ibadah,” terang Untung sambil tertawa kecil.    

Selain itu, dehumanisasi ala Freire ini membuat difabel Banjarnegara rata-rata masih berada di bawah garis kemiskinan, realitas yang sesuai dengan telaah Ro’fah. Realitas ini menjadi hilir dari hulu yang tidak menguntungkan bagi difabel di Banjarnegara.

Menurut Untung, banyak difabel di Banjarnegara yang tidak bisa bersekolah karena rumahnya terlalu jauh di daerah gunung di utara Banjarnegara. Mereka kesulitan mengakses pendidikan karena sekolah inklusi yang masih belum terselenggara di desa-desa. Jika ingin pergi mengakses sekolah inklusi di kota, mereka terhalang transportasi di Banjarnegara yang tidak aksesibel. Hasilnya mereka tidak sekolah dan yang membuat mereka menjadi rentan miskin karena susah mengakses pekerjaan.

Perjuangan semakin kuat

Namun di balik semua itu, Banjarnegara sudah mendapatkan angin segar bagi perjuangan difabel. Perjuangan ini sejalan dengan perlawanan kelompok tertindas ala Freire. Melalui FKDB (Forum Komuniasi Difabel Banjarnegara), difabel sudah mulai menyuarakan dorongan untuk pengarusutamaan isu difabel di segala lini kehidupan di Banjarnegara. Sudah ada dorongan keterlibatan difabel dalam penyusunan Perda. Selain itu, muncul pihak-pihak seperti Sahabat Difabel Banjarnegara yang berjuang bersama-sama dalam pemenuhan hak-hak difabel. Ada juga difabel yang berbicara dengan karya mereka seperti Irawan dengan kemampuan seni digitalnya.  

Untung menutup dengan harapan agar semakin banyak difabel di Banjarnegara yang naik ke pusara politik Banjanegara.

“Semoga ke depannya difabel Banjarnegara bisa maju ke DPRD, syukur-syukur bisa jadi Bupati,” tutupnya sambil mengunyah tempe goreng khas Karangkobar. (Yuhda)   

 

[i]Freire, Paulo (2005). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.

[ii]Habudin Ihab (2016). Jurnal Difabel Volume 3: Problem dan Tantangan Pendidikan Inklusi di Indonesia. Yogyakarta: SIGAB.

[iii]Basori, Arifin, dkk. (2015). Hidup dalam Kerentanan: Narasi Kecil Keluarga Difabel. Yogyakarta: SIGAB.

The subscriber's email address.