Lompat ke isi utama
ilustrasi tentang pameran sains dan teknologi

Organisasi Difabel pada Pameran Sains Teknologi, “Tunjukkan Yogyamu untuk Indonesia”

Solider.or.id.Yogyakarta. Pameran sains dan teknologi bertajuk “Tunjukkan Yogyamu untuk Indonesia” akan digelar oleh Perhimpunan Warga Pancasila (PWP). Bertempat di Gedung Olahraga (GOR) UNY, pameran akan berlangsung selama tiga hari, 4 – 6 Oktober 2017, pukul: 09:00 – 20:00 WIB.  Dalam rangka menyambut dan mangayubagya penetapan Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai Gubernur DIY periode 2017-2022, pameran tersebut dihelat.

Pameran akan dibuka langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Rabu (4/10). Adapun peserta pameran di antaranya pemerintah daerah se-DIY, perguruan tinggi, korporasi, komunitas dan organisasi (termasuk di dalamnya komunitas/organisasi difabel), serta undangan khusus. Dua peserta pameran yakni, Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) dan Perhimpunan OHANA merupakan dua peserta di antara 82 peserta pameran seluruhnya.

Sebagaimana tertulis dalam release yang diterima Solider, Minggu (1/10/2017), Doktor Bayu Wahyono sebagai Ketua Panitia mengatakan bahwa, pameran diharapkan dapat menambah semangat dan kebanggaan sebagai manusia Indonesia yang berideologi Pancasila. Melalui hasil karya cipta sains dan teknologi manusia Pancasilais, dapat menambah pemahaman masyarakat bahwa Pancasila sebagai dasar negara harus nyata mewujud dalam kehidupan.

Difabel bagian keberagaman

Menanggapi pelibatan organisasi difabel dalam pameran yang akan segera dihelat tersebut, Humas PWP, Agoes Widhartono menyampaikan alasan. Menurut dia, publik banyak yang tidak tahu dan bertanya-tanya bagaimana masyarakat difabel dapat menggunakan teknologi sebagai alat komunikasi, dan penyampai informasi. Bagaimana difabel netra dapat membaca informasi, berkirim pesan melalui SMS, WhatApp, atau media sosial lainnya. Serta bagaimana tuli dapat memahami informasi dengan kondisi berbeda pada pendengarannya, difabel daksa mampu berlaga pada kejuaraan olahrga, dan lain sebagainya, masih menjadi hal yang awam bagi publik.

PWP percaya, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat difabel tentu saja terlibat dan menggunakan teknologi. Untuk itulah masyarakat luas perlu tahu, apa saja teknologi yang sudah digunakan dan yang dikembangkan bagi dan oleh masyarakat difabel.

Melalui pameran sains dan teknologi nanti, diharapkan dapat menjawab berbagai keingintahuan masyarakat. Dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang teknologi yang selama ini diakses oleh masyarakat difabel, digunakan dan dikembangkan.

Lebih lanjut, Agoes mengutarakan bahwa pelibatan organisasi difabel merupakan bentuk perwujudan keberagaman atau kebhinekaan yang senyatanya ada di Yogyakarta, bagian dari Indonesia.

Pancasila harus mewujud dalam setiap sikap dan tindakan sehari-hari, tegas dia. “Toleran tidak bisa hanya dalam konsep, melainkan harus diwujud-nyatakan. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila, merupakan negara dengan kenyataan kehidupan rakyatnya yang beragam,” Agoes menegaskan.

“Realitas tersebut merupakan sebuah keindahan. Bersatu dalam keberagaman. Demikian pula dengan realitas keberadaan masyarakat difabel. Mereka bagian dari keberagaman, juga merupakan kekuatan NKRI yang harus dikedepankan, sejajar dengan setiap warga negara,” tandas Agoes yang juga konsultan komunikasi dan psikologi tersebut.

Seminar Nasional

Seusai acara pembukaan pameran, Rabu (4/10) akan dilanjutkan dengar Seminar Nasional "Sains dan Teknologi Pancasila Menuju Keagungan Bangsa". Seminar dilangsungkan di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dimulai pada pukul 10.00 - 13.00 WIB.

Adapun para nara sumber dalam seminar tersebut ialah: Sri Sultan HB X, Mochtar Riyadi (pengusaha/pendiri Lippo Grup), Prof.Dr.Sutrisna Wibawa M.Pd (Rektor UNY), Prof Ir. Panut Mulyono (Rektor UGM), Prof. Irwan Abdullah Ph.D (Ketua PWP), dan Pratama D.Persadha (ahli Cyber Teknologi). Dengan moderator Prof.Dr.Nindyo Pramono ( Guru Besar Fakultas Hukum UGM). (hnw).

The subscriber's email address.