Lompat ke isi utama
pengguna kursi rooda sedang menikmati suasana jalan Ijen Malang

Jalan Ijen di Malang Belum Ramah Difabel

Solider.or.id, Malang - Warga Malang siapa yang tak kenal Jalan Ijen? Setiap tahun tempat yang asri dengan deretan pohon palem ini menjadi lokasi acara Malang Tempo Doeloe. Tempat ini juga setiap Minggu menjadi lokasi Car Free Day (CFD) yang ramai dikunjungi masyarakat untuk berbagai kegiatan seperti jalan-jalan, jogging, senam, bermain sepeda serta ajang pamer kegiatan komunitas. Kawasan jalan Ijen merupakan wisata sejarah Kota Malang yang menyuguhkan pemandangan bangunan-bangunan kuno peninggalan Belanda. Terdapat pendestrian sepanjang 1,75 km dan lebar 3 meter dengan taman-taman kota, selain cocok bagi wisatawan pejalan kaki yang didesain untuk difabel. Namun sayang dalam realitasnya Ijen Boulevard ini belum memenuhi standar aksesibilitas.

"Kami masih kesulitan melintasi jalur ini," ungkap pengguna jalan, Sisca pagi itu di lokasi Car Free Day, Minggu (24/9). Lantai trotoar banyak yang pecah, juga ramp terlalu curam. Kalau ke Ijen sendiri tanpa pendamping pasti tidak mampu melewati ramp, imbuh perempuan pengguna kursi roda ini bersama rekannya. Mereka ada di Jalan Ijen untuk acara Hari Tuli Internasional.

"Harapannya ada perbaikan biar mudah diakses untuk kursi roda," kata anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Malang ini. Juga sebaiknya seluruh trotoar di kota ini ada jalur khusus difabel.

Sisca juga berharap dalam pembangunan fasilitas umum sebaiknya melibatkan difabel melalui organisasi  difabel setempat. "Dari perencanaan hingga uji coba harus melibatkan difabel supaya benar-benar aksesibel," pungkas Sisca.

Senada disampaikan anggota Forum Malang Inklusi (FOMI), Antonius Esthi pada waktu dan lokasi yang sama, "Jalan Ijen belum memenuhi standar aksesibilitas." Pemerintah sudah memperhatikan dengan adanya jalur khusus ini, namun dalam pemanfaatannya teman-teman pengguna kursi roda dan difabel netra masih kesulitan.

Standart kemiringan ramp adalah 9 derajat, kalau jalan ijen ini masih sekitar 45 derajat, papar Esthi. Jika pengguna kursi roda kesini tanpa pendamping akan kesulitan.

"Untuk difabel netra hambatan disini pada jalur pemandu atau guiding block yang belum ada ubin peringatan," papar Esthi, meliputi tanda jalan terus dan tanda berhenti. Namun disini belum ada tanda sama sekali jadi belum jelas apakah ini jalur pemandu atau jalur biasa.

"Warna dari guiding block juga harus menyolok, yaitu kuning atau orange. Ini belum di cat," jelas pria yang juga anggota Pusat Pemberdayaan dan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (PPRBM) Bakti Luhur Malang ini. Lebih baiknya, menurut Esthi difabel netra harus mencoba jalan ini untuk mengetahui kendala-kendala lebih lanjut.

Anggota FOMI dari Lingkar Sosial, Widi Sugiarti menambahkan, "Tak hanya jalur pendestrian di Jalan Ijen, namun di tempat lain seperti Jalan Kawi trotoar di desain mirip jalur pemandu namun tidak sesuai dengan standart aksesibilitas." Bahkan pada beberapa titik, lanjutnya, nampak guiding block yang terputus oleh pohon dan tiang listrik tanpa ubin peringatan. Secara umum, kata Widi pendestrian di Kota Malang belum mendukung keamanan, kenyamanan dan kemandirian difabel, tiga faktor penting agar suatu fasilitas layak disebut ramah difabel.

Pada kesempatan lainnya, seorang difabel netra, Adi Gunawan mengatakan bahwa kebutuhan aksesibilitas bagi difabel netra terkait trotoar tak cukup jalur pemandu yang standart, melainkan pengetahuan masyarakat tentang aksesibilitas seperti tongkat putih sebagai alat bantu sekaligus identitas agar orang disekitar akan hati-hati ketika difabel netra melintas atau menyeberang jalan.

"Untuk guiding block saya berharap tak ada lagi pohon, tiang maupun penghalang lainnya di tengah jalur," tutur pria penabuh drum yang berprofesi sebagai guru les musik dan komputer ini. Karena  saya pernah terbentur tiang listrik dan diketawai orang-orang pak, hehe.., "pungkasnya sambil tertawa. (Kertaning Tyas)

The subscriber's email address.