Lompat ke isi utama
suasana diskusi bulanan di sigab

Peluang dan Tantangan Difabel dalam Dunia Kerja

Solider.or.id.Yogyakarta. “Peluang dan Tantangan Difabel dalam Dunia Kerja” menjadi tema diskusi publik bulanan yang diselenggarakan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), Jumat (29/9/2017) di Aula Kantor SIGAB. Masih minimnya difabel yang bekerja baik di sektor pemerintahan, perusahaan maupun berwira usaha melatarbelakangi penyelenggaraan diskusi. Menghadirkan narasumber Arni Surwanti dari CIQAL, Ndaru dan Fitri dari Kerjabilitas diskusi dikemas guna menemukan masalah, menyajikan solusi.

Mengawali diskusi Arni Surwanti menyampaikan cara pandang bagaimana difabel mengakses dunia kerja. “Bicara bekerja untuk difabel maka yang perlu diperhatikan ialah peluang-peluang agar difabel bisa bekerja. Apakah bekerja pada perusahaan (bekerja dengan orang lain), maupun bekerja sendiri atau berwira usaha,” kata dia.

Motivasi menjadi kunci

Arni juga menegaskan bahwa dari peluang-peluang tersebut yang memegang peran atau sebagai kunci utama difabel dapat bekerja ialah motivasi. “Motivasi dari dalam diri sendiri menjadi kunci, yang akan menciptakan dorongan bagi difabel melakukan usaha untuk mendapatkan sebuah pekerjaan, beradaptasi, demikian pula mengatasi setiap tantangan,” lanjut Arni.

Kesempatan atau peluang kerja yang diberikan oleh perusahaan maupun pelatihan-pelatihan baik oleh pemerintah maupun lembaga non pemerintahmerupakan kunci penting lain bagi difabel dapat bekerja atau mengakses pekerjaan.

Masalahnya, tidak setiap kesempatan atau peluang cocok dan dapat diakses difabel. Untuk itu solusi kembali pada motivasi diri, bagaimana difabel dapat lenting (lentur atau mudah beradaptasi) dan menyesuaikan dengan pekerjaan atau pelatihan yang ada. Di mana hal itu harus dibangun dalam setiap diri difabel.

Adapun motivasi dari luar yang dapat menjadi solusi menurut Arni di antaranya, dukungan pemerintah maupun lembaga nonpemerintah memfasilitasi difabel dapat bekerja sama dengan dunia usaha, memasarkan produk difabel serta melakukan pendampingan dalam pengembangan produk.

Peluang, tantangan, solusi

Sementara Kerjabilitas, sebuah organisasi nirlaba yang menghubungkan difabel dengan lapangan pekerjaan dan peluang karir lain memaparkan penempatan difabel pada berbagai perusahaan di Indonesia. Sejak berdirinya yakni pada tahun 2015 hingga saat ini (2017) Kerjabilitas baru melakukan penempatan kerja terhadap 150 orang difabel, dari 6000 pencari kerja dan 1000 lowongan pekerjaan yang ada. Artinya baru 2,5 persen difabel yang dapat ditempatkan oleh Kerjabilitas pada 1000 banyaknya lowongan pekerjaan, atau 15 persen lowongan pekerjaan yang terisi. Mengapa bisa demikian menjadi pembahasan menarik dalam diskusi selanjutnya.

Ndaru, perwakilan Kerjabilitas mengatakan bahwa, difabel tidak tahu bagaimana tata cara perekrutan (rekruitmen) tenaga kerja menjadi salah satu faktor. Tidak hadir saat dilakukan interview, juga tidak bisa bekerja jauh dari keluarga dan lingkungannya menjadi faktor lain difabel tidak mengambil lowongan pekerjaan. Berikutnya, ketidaktahuan perusahaan dalam merekrut pekerja difabel serta perusahaan yang memilih pekerja dengan ragam disabilitas tertentu merupakan faktor eksternal dari permasalahan kesenjangan tenaga kerja difabel.

Guna memberikan solusi atas berbagai tantangan yang ada, pada kesempatan tersebut disampaikan pula solusi yang dilakukan Kerjabilitas. Membuat buku panduan bagi perusahaan tentang bagaimana mempekerjakan difabel dilakukan Kerjabilitas. Solusi lain ialah melakukan pendekatan guna menginformaiskan kelebihan mempekerjakan difabel, selanjutnya mengapresiasi perusahaan yang mempekerjakan difabel.

Terkait hambatan internal dalam diri difabel, Kerjabilitas membuka konsultasi bagaimana cara aply (melamar) pekerjaan melalui Kerjabilitas. Mempublikasikan sosok difabel yang sukses dan bertahan dalam pekerjaannya juga dilakukan, untuk menumbuhkan motivasi bagi difabel bekerja. (hnw).

The subscriber's email address.