Lompat ke isi utama
foto Adrian Yunan

Adrian Yunan Sang Penyintas Sejati

 

Solider.or.id, Agaknya tidak berlebihan jika menyebut Adrian Yunan sebagai penyintas sejati (Pejuang untuk terus bertahan atau berjuang). Bagaimana tidak, tahun 2010 ia menjadi difabel karena kehilangan seluruh penglihatan disaat bandnya, Efek Rumah Kaca, sedang berada di puncak popularitas dengan menyabet berbagai penghargaan dari MTV dan Rolling Stone Indonesia. Seperti yang banyak diketahui, ia adalah bassis salah satu band indie pop terbesar di Indonesia itu.

Sekali lagi, ia adalah peyintas sejati, bisa bangkit dari kondisi yang membuatnya tumbang dan membuktikan dunia bahwa kondisi tersebut tak bisa menghalanginya untuk berproses kreatif.

Adrian kehilangan penglihatan karena terserang virus toksoplasma tingkat tinggi. Karena penyakit tersebut, ia banyak absen disaat Efek Rumah Kaca dianggap sebagai salah satu band indie pop paling progresif di Indonesia. Posisinya kala itu banyak digantikan oleh Poppy Airil, yang lambat laun secara resmi menjadi personel ke empat dari band yang sering disingkat dengan ERK.

4 Juni 2017 lali menjadi pembuktian Adrian untuk perlawanan terhadap penyakit yang meniadakan penglihatannya. Perlawanan itu ia abadikan dalam sebuah perilisan album folk pop solo berjudul Sintas, seakan ingin mengatakan kepada dunia bahwa ia adalah penyintas sejati, bersama-sama difabel lain yang mengalami pengalaman serupa dengannya.

Ia pun semakin dekat dengan difabel. Terbukti saat ia banyak mengundang teman-teman difabel netra di acara rilisan albumnya solonya tersebut. Acara syukuran album perdana tersebut pun diawali dengan nonton film bareng teman-teman difabel.

Keluarga Adalah Kunci

Adrian mengaku sempat putus asa ketika menjadi difabel karena penglihatannya yang memudar. Di awal waktunya menjadi difabel, ia hanya menghabiskan waktunya di rumah. Di saat seperti itulah keluarga mengambil alih dan menyadarkan Adrian untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Sang istri banyak memberi motivasi dan dorongan agar ia bisa berkarya lagi, membuktikan bahwa kondisi berbeda bukanlah penghalang baginya untuk menghasilkan karya. Istrinya pula yang membantu menyatukan potongan-potongan riff atau melodi dari Adrian ke komputer. Hal itu jelas sangat membantu Adrian bangkit dari titik nadir yang hampir membuat dirinya berpikir bahwa inilah akhir dari hidupnya.

Kondisi seperti yang dialami oleh Adrian tentu sangat banyak dialami oleh difabel baru yang sebelumnya adalah nondifabel. Dalam beberapa kasus yang ditemukan, biasanya,  difabel baru yang pernah merasakan pengalaman menjadi nondifabel ini cenderung menolak keadaan difabel mereka. Banyak dari mereka yang mampu melawan keputusasaan itu dan bangkit untuk membuktikan bahwa menjadi difabel tidak menghalangi mereka untuk melanjutkan hidup, dan pula menjadi difabel itu adalah kondisi yang sama saja dengan nondifabel, hanya dibedakan oleh kemampuan yang berbeda.

Namun, banyak pula yang akhirnya tumbang, tidak bisa melawan keputusasaan tersebut. Hasilnya, selama bertahun-tahun mereka akan berada di rumah saja, tidak mampu untuk keluar atau ditahan oleh sanak saudara yang tak mampu menahan rasa malu. Hal terakhir ini masih menjadi momok terutama di desa-desa.

Keluarga menjadi kunci dari semua itu. Seperti apa yang dialami oleh Adrian. Istrinya adalah orang terdekat yang terus meniupkan semangat hidup kepadanya. Bahkan sang istri sampai mengambil resiko untuk menanggalkan pekerjaannya demi bisa memberikan semangat positif kepada Adrian.

Sebagian besar realitas difabel adalah antitesis dari pengalaman Adrian tersebut. Keluarga yang menjadi lingkaran terdekat tidak mampu mengalahkan hantu pesimis dalam diri mereka sendiri yang akhirnya menyulap keluarga mereka yang difabel menjadi seorang yang kosong tidak bermasa depan, hanya menjadi objek dari pembangunan negara.

Hal ini menjadi salah satu tantangan terbesar Indonesia. Karena sejatinya, menjadi difabel hanyalah perkara berbeda kemampuan. Setidaknya, ini yang Adrian buktikan. Baginya, menjadi difabel justru mendorong proses kreatifnya menjadi lebih mengalir, menjadi penyintas yang sejati. Seperti salah satu lirik di lagu berjudul “Mimpi Seperti Hidup” di album Sintas. "Mencoba membuka mata yang tertutup / Bergerak dan rasakan jantung berdegub / Maka mimpikanlah hidup." (Yuhda)

 

Disarikan dari berbagai sumber.

The subscriber's email address.