Lompat ke isi utama
gambar film Silence

Silenced: Tuli dan kebenaran yang hilang di persidangan

Solider.or.id, Jika Mahfud Ikhwan dalam bukunya Aku dan Film India Melawan Dunia, sebagaimana dikutip Tirto.id berani mengatakan “jadi film India itu seperti film porno saja: disukai sekaligus tidak diakui”. Begitupun dengan saya, bersedia bergabung dengan barisan para K-drama untuk lantang mengatakan “sungguh nonton film Korena itu lumayan bagus daripada harus mantengin sinetron-sinetron di Indonesia”.

Sikap ini saya ambil ketika selesai menonton film berjudul Silenced. Film produksi negeri Ginseng itu, barangkali akan membuat sebagian penonton terperanjat dan menjerit karena horor. Bagaimana tidak, ketika dalam adegan di sebuah sekolah, kita menyaksikan kepala sekolah telah memperkosa salah satu siswi difabel tuli berkali-kali. Itu horor.

Perbuatan melanggar HAM lainnya, ketika seorang guru di dalam film tersebut merupakan seorang phedopil yang memaksa seorang siswa laki-laki yang juga difabel tuli untuk menjadi pelampiasan hasrat seksualnya. Si korban dipukul, ketika ia menolak. Adapun ceita tak baik lainnya, saya tidak tega untuk menuliskannya.

Silenced, bagi saya tengah mengubah pandangan para penikmat film khususnya di Indonesia, bahwa film-film Korea tidak melulu berisi melow drama yang menyayat hati. Selain harus mengorbankan air mata ketika si aktor ganteng Lee Min Ho harus dipukul segerombolan pemuda, semisal. Atau tidak melulu gaya hidup yang sangat  fashionable dengan setelan tuksedo di film bergenre detektif.

Korea, lebih tepatnya Korea Selatan atau Korsel itu menghentak jagat layar perfilman, khususnya bagi para K-Drama di Indonesia pada dua tahun terakhir, menyisihkan Bollywood. Sorak sorai mereka terdengar tiap film produksi diluncurkan asal negeri yang sedang berseteru dengan Korea Utara itu.

Meski di negara lain film-film Korsel  tergerus oleh film produksi Hollywood, di Indonesia tidak demikian. Film-film produksi korea masih diminati oleh masyarakat. Selain menawarkan plot, alur, dan ketampanan para aktor dan imutnya para aktris, isu dalam cerita juga menjadi salah satu topik yang memiliki daya tarik luar biasa.

Korsel tengah belajar bagaimana mengangkat isu-isu kekinian dan mengaplikasikannya dengan apik dalam sebuah film. Salah satunya adalah Silenced, film yang mencoba menyuguhkan isu difabelisme yang dirilis pada 2011 silam. Meski dibalut dengan genre drama, film yang berdurasi dua jam lebih itu bisa dibilang menarik untuk dikaji.

Selain karena mengangkat isu tentang kekerasan seksual yang terjadi pada siswa-siswi tuli, ketimbang urusan cinta segitiga, Silenced piawai membingkainya dalam cerita yang begitu kuat, berani dan tegas. Maksudnya, berbeda dengan film-film tentang difabel lainnya yang hanya menonjolkan sisi lemah dari seorang difabel. Film tersebut berani untuk membuat akhir yang membuat penonton berteriak “Asragfirullah,” karena kasus kekerasan harus ditutup dan dimenangkan oleh pihak tersangka.

Film yang diadaptasi dari novel milik Gong Ji Young berjudul The Crucible tersebut, menampilkan kemahiran aktor ganteng Gong Yoo menggunakan bahasa isyarat tuli. Untuk para K-Drama, tentu tidak asing dengan Gong Yoo salah satu aktor ganteng yang menjadi pujaan perempuan. Mendengar nama tersebut tentu tidak asing lagi.

Dalam Silenced, Gong Yoo berperan sebagai seorang guru yang ditugaskan untuk magang di sebuah sekolah yang berada di tempat nun jauh di sebuah desa bernama Mun Jin. Ja Ae nama sebuah sekolah yang menampung siswa-siswi tuli. Gong Yoo yang berperan sebagai Kang In Ho, berbekal kemampuan bahasa isyarat, mencoba berkomunikasi, beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Upaya Gong Yoo berhasil, meski mendapati keganjilan yang dirasakan di sekolah tersebut. Di titik ini, Silenced menunjukkan betapa pentingnya bahasa isyarat sebagai alat untuk berkomunikasi dengan tuli. Barangkali memang, Silenced hendak menegaskan bahwa aspek bahasa isyarat menjadi sangat penting. Meski tidak ditunjukkan dalam adegan bagaimana Kang In Ho belajar bahasa isyarat, tapi sebagai seorang guru memang dituntut untuk mampu menguasai bahasa isyarat.

Kehadiran guru Kang, sebutan Kang In Ho oleh murid-muridnya membawa jalan terang bagi tabir kekerasan yang belum pernah terkuak. Meski mulanya para siswa korban kekerasan tersebut enggan berkomunikasi dengan sang Guru baru. Tapi karena kepeduliannya terhadap kondisi buruk yang menimpa muridnya, para murid menaruh kepercayaannya dan mulai terbuka. Tentu dengan bahasa isyarat.

Hal kedua yang ditunjukkan Silenced tentang akses pendidikan bagi siswa-siswi difabel di Korsel. Ja Ae, sekolah yang didirikan oleh sebuah yayasan bertempat di pelosok desa. Ja Ae, selain menjadi tempat bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), sekolah tersebut juga menjadi tempat rehabilitasi anak-anak terlantar.

Di awal beberapa menit film diputar, Ja Ae dijelaskan dengan kondisi yaang sangat miris. Untuk sampai kesana, orang harus melewati kabut, jalan berkelok sebagaimana medan di pedesaan yang berlumpur jika hujan, dan akan mendapati pemandangan sebuah gedung sekolah yang lebih menyerupai sebuah kastil menyeramkan nansungil. Begitulah, Silenced menunjukkan bagaimana marjinalisasi terhadap kaum rentan. Mereka tersisih dari kehidupan, pembangunan dan jauh dari kehidupan masyarakat. Mereka tersembunyi.

Selain itu ada dua konflik tindak kejahatan yang disuguhkan dalam cerita, yakni konflik sang pelaku dan konfilk dalam upaya hukum yang dilakukan oleh guru Kang dan para korban. Konflik upaya hukum ini biasanya tidak disadari para penonton, yang sebenarnya perlu dipahami bagaimana proses tersebut dilakukan.

Dalam upaya tersebut guru Kang, dibantu oleh lembaga bantuan hukum setempat. Meski di tengah jalan, upaya tersebut menuai berbagai kendala. Beruntungnya, kasus tersebut sampai pada proses peradilan. Namun, halangan tidak berhenti di awal pelaporan korban melainkan banyak kegagapan yang terjadi di sana, yang menjadi poin-poin untuk memahami proses peradilan bagi korban difabel.

Hal itu bisa diperhatikan dari bagaimana kesaksian para korban tuli, yang dianggap tidak sah oleh hakim. Meski sudah dibantu dengan tersedianya penerjemah bahasa isyarat. Atau hambatan lain ketika keluarga korban belum memahami proses peradilan, yang memungkinkan kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.

Tapi begitulah yang terjadi, Silenced menampilkan sesuatu hal yang nyata dari situasi yang dialami para korban difabel dalam peradilan. Para korban sering mengalami revictimization atau menjadi korban untuk kesekian kalinya dalam kasus peradilan.

Dalam buku berjudul Potret Difabel Berhadapan dengan Hukum, Endang Ekowarni menulis proses peradilan bagi difabel memerlukan dukungan dari berbagai pihak yang terkait, seperti lembaga bantuan hukum, pengacara, saksi ahli dan kebutuhan-kebutuhan yang mudah diakses bagi difabel di peradilan. Mulai dari melaporkan peristiwa sampai proses hukum tersebut selesai.

Namun Silenced tidak berakhir sesuai harapan. Di menit-menit terakhir film, penonton akan dibuat empati karena proses peradilan telah berhenti karena kesaksian yang kurang kuat. Sang pelaku bebas melenggang dari jeruji hukum, menyisakan dendam, trauma bagi korban, dan kasus yang hilang dalam keheningan difabel tuli. Bahkan, lebih tragis lagi di akhir cerita, korban memilih untuk bunuh diri.[Robandi]

Judul Film: Silenced | Direktur: Hwang Dong Hyuk | Rilis: 22 September 2011 |  Durasi: 125 menit | Negara: Korea Selatan | Bahasa: Korea.

The subscriber's email address.