Lompat ke isi utama
Semarak Hari Tuli Internasional di Solo

Gerkatin Solo, dari Kelas Bisindo, Pantomin dan Teater di Hari Tuli Internasional

Solider.or.id, Surakarta- Ketika berbicara tentang Tuli, maka kita akan membaca tentang kiprah advokasi mereka pada akses dan kampanye bahasa isyarat Indonesia (Bisindo). Bisindo adalah bahasa isyarat yang dibuat oleh komunitas Tuli untuk mendapatkan informasi dan komunikasi secara visual yang dapat diakses secara mudah. Saat ini tengah ada dan terus dikampanyekan yakni Bisindo Solo, Bisindo Yogyakarta, Bisindo Jakarta, Bisindo Makassar dan lain-lainnya. Seperti yang dilakukan oleh Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) untuk memperingati Hari Tuli Internasional (HATI) pada 8 September lalu membuka kelas bahasa isyarat (bisindo) khusus orang dengar di Taman Cerdas, Jebres. Sebelumnya, Gerkatin Solo juga membuka kelas Bisindo di SLB Negeri Surakarta dan PLB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Aprilian Bima, mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) jurusan seni murni, Ketua Gerkatin Solo kepada Solider mengatakan bahwa kawan-kawan Tuli selama ini  bisa percaya diri untuk berkomunikasi kepada masyarakat dengan bahasa isyarat, dengan menghadirkan penerjemah bahasa isyarat. Kehadiran penerjemah ini juga membantu berkomunikasi di sektor kerja maupun pendidikan.  “Jika Tuli bisa diterima dengan baik di sektor-sektor tersebut, berarti tidak ada hambatan. Tetapi kami akan terus berjuang untuk membangun aksesibilitas Tuli,” jelas Bima.

Inklusi Penuh Bahasa Isyarat

Tuli memiliki hak untuk mendapatkan identitas dan akses bahasa isyarat sejak dilahirkan. Identitas Tuli berkenaan sebagai anggota komunitas budaya dan bahasa isyarat sebagai bahasa ibu. Tuli juga memiliki hak untuk mengenali bahasa isyarat yang memiliki, sintaks, morfologi, dan struktur sendiri yang berfungsi untuk mendefinisikan bahasa. Termasuk pendidikan bilingual agar kualitas pendidikan bagi Tuli terjamin. Partisipasi dalam hal pribadi, publik dan politik perlu diperhatikan karena Tuli juga memiliki hak dalam pengambilan keputusan.

Akses Tuli kepada produk-produk seni dan budaya juga tidak boleh dikesampingkan. Seperti yang mereka suguhkan dalam puncak peringatan Hari Tuli Internasional di kota Solo beberapa waktu lalu. Tuli berbaur dengan masyarakat di Solo Car Free Day, dengan melakukan pertunjukan baca puisi, teater Tuli dan pantomim. Masyarakat yang turut hadir menorehkan penanya, dan menuliskan harapannya tentang bagaimana membangun dan mengembangkan Gerkatin di tahun depan. Mereka juga menuliskan kesan-kesan berinteraksi dengan Tuli.

Aksesibilitas pada produk film dimulai ketika beberapa produksi film melibatkan difabel sebagai pemain dan terutama memberi akses kepada Tuli dengan memberikan subtitle dalam bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris. Raka Nur Mujahid, Tuli siswa SM Al Firdaus Surakarta dalam blog-nya menulis tentang hambatannya dalam mengakses film Indonesia. “Saya lebih condong menonton film barat/Hollywood dengan nyaman karena film Barat menggunakan Bahasa Inggris atau bahasa sing lainnya KE Bahasa Indonesia, Saya ingin membanggakan film Indonesia tetapi? Film Indonesia tidak menyediakan subtitle dalam Bahasa Indonesia.”

Aksesibilitas ini termasuk ketika siaran pemberitaan-pemberitaan di televisi harus menghadirkan penerjemah bahasa isyarat. Beberapa stasiun televisi seperti TVRI Nasional dan MNC group telah melibatkan penerjemah bisindo dalam siaran beritanya. Penerjemah bahasa isyarat bekerja dan tampak di layar televisi, meski dengan ukuran yang tidak memadai/sesuai.(Puji Astuti)

The subscriber's email address.