Lompat ke isi utama
Irawan sedang bekerja di ruang kerjanya

Ari Irawan: Tekun Berproses dengan Seni Digital

Solider.or.id. Banjarnegara. Di ruangan berukuran 4 x 6 meter dengan pintu dan jendela kaca yang lebar, Ari Irawan (24) terlihat mengetik tanpa kesulitan. Di depannya ada dua monitor komputer dengan satu speaker di sisi kanannya. Di sudut ruangan nampak beberapa lukisan dan beberapa kanvas kosong. Sisi jendela kaca penuh dengan spidol warna dan pelbagai alat menggambar. Ruangan ini adalah studio desain miliknya yang berada di Purwonegoro, Banjarnegara.

Irawan adalah seorang difabel fisik sejak lahir yang sehari-hari berprofesi sebagai desainer grafis, fotografer dan videografer. Siang itu (26/9), di studio yang menjadi tempat proses kreatifnya, ia banyak bercerita tentang pelbagai karyanya mulai dari lukisan, desain logo, kaos, jaket, topi, foto pre-wedding, edit foto, instalasi laptop dan perakitan komputer.

“Belakangan terakhir, saya banyak menggeluti dunia fotografi dan video. Bahkan ada fasilitas drone milik teman saya jika ada permintaan untuk itu,” terang lelaki kelahiran 6 Februari 1993 ini.

Desain karyanya banyak ia unggah di akun instagram @semuakarya. Ia mengakui sebagian pesanan desain dan foto banyak berasal dari kalangan teman-temannya atau orang yang melihat karyanya di akun media sosial lelaki asli Banjarnegara ini.

Tidak hanya piawai dalam urusan desain, foto dan video, Irawan juga seorang penikmat dan pecinta puisi yang mumpuni. Beberapa kali, ia sempat diundang untuk mendeklamasikan puisi karyanya dalam beberapa perhelatan penting seperti Peringatan Hari Disabilitas Internasional tiga tahun belakangan.

“Dari kecil saya suka membaca buku, makanya saya suka menulis puisi,” ucap lelaki yang juga sering dipanggil Iwan ini.

Predikat mumpuni tak berlebihan jika disempatkan pada kemampuan mencipta puisinya. Beberapa kali ia sempat mendeklamasikan puisi secara spontanitas tanpa perlu melalui proses kreatif pembuatan terlebih dahulu.

“Saya terbiasa membaca puisi langsung di atas panggung tanpa membuatnya terlebih dahulu,” ucapnya tegas. 

Ia pun berencana membukukan karya puisinya dalam sebuah antologi puisi.

Berproses Kreatif sejak Lahir

Kemampuan seni kreatif dari lelaki yang aktif di perkumpulan komunitas Banjarnegara ini bukan ia dapat dari sejak lahir. Ia menyelami proses belajar tentang seni mencipta sejak usianya masih dini. Pertama kali berkenalan dengan dunia gambar berawal dari pengalamannya saat melihat kakak sepupunya yang kuliah di UNS sedang menggambar.

“Waktu itu, saya masih kecil dan pergi ke Solo dengan pabak untuk operasi kaki. Di kota itu, saya melihat kakak sepupu saya sering menggambar. Sejak itu, pensil warna dan kertas adalah teman saya,” ungkapnya.

Kemampuan seni Irawan ia dapatkan dari hasil belajar otodidak tanpa kenal lelah. Ia tak memiliki latar belakang pendidikan seni maupun sastra. Semua ia bisa lakukan dengan modal penasaran dan mencoba sendiri.

Namun, pencarian akan passion ini tidak sesederhana yang dikira orang. Semenjak SD, ia sempat berwirausaha dengan menjual layang-layang, gambar binatang sampai pulsa di masa SMA.

“Selepas lulus SMA saya sempat jualan cokelat namun sepi,” terangnya.

Pencariannya tersebut mengantarkan ia pada seni digital yang ia tekuni sekarang. Respon masyarakat pun hangat.

“Bulan Agustus lalu saya diundang ke acara Hitam Putih. Beberapa waktu mendatang juga akan ada rencana untuk memamerkan karya saya di Depo Pelita Banjarnegara,” ujar Irawan sambil menunjukkan rekaman YouTube saat ia diundang di acara Hitam Putih.

Tidak ada stigma

Irawan bersyukur hidup dalam lingkungan yang tidak terlalu menstigma difabel terhadap dirinya. Ia mengakui banyak orang di sekitarnya yang lebih mengedepankan karyanya daripada melanggengkan stigma yang sering dialami difabel yang lain.

“Mereka melihat saya tidak berbeda. Bahkan, kadang mereka meminta saya mengajari mereka tentang desain,” ungkapnya.

Menurutnya pergaulan yang luas menjadi kunci dirinya bisa memiliki kepercayaan diri tersebut. Ia bersekolah di sekolah inklusi dan tidak merasakan pendidikan segregatif. Ia pun aktif di kegiatan komunitas Banjarnegara dan menjadi salah satu panitia Jambore Komunitas Banjarnegara di bagian iklan.

"Banyak difabel yang malu menjadi difabel. Saya berkembang seperti ini karena bergaul dengan siapa saja,” terangnya.

Selanjutnya, ia berencana membuat sebuah film tentang dirinya dan difabel di Banjarnegara sebagai satu cara pengarusutamaan isu difabilitas di bidang seni.

“Akan lebih baik jika ada bantuan peralatan untuk proses pembuatan film tersebut,” tutupnya. (Yuhda)

The subscriber's email address.