Lompat ke isi utama
ilustrasi pentingnya bahasa isyarrat

Momentum Hari Tuli Internasional, Harapkan Indonesia Lebih Inklusif

Solider.or.id, Bandung – Sambut Hari Tuli Internasional 2017,   Tuli di Bandung masih kesulitan mengakses informasi secara utuh. Kurang terfasilitasinya layanan pemberitaan serta minimnya juru bahasa isyarat yang dibutuhkan menjadi kendala tersediri.

Kebutuhan tuli akan bahasa isyarat telah memiliki payung hukum. Pada undang-undang penyiaran nomor 32 tahun 2002 pasal 39 (3) menyebutkan, ‘Bahasa isyarat dapat digunakan dalam mata acara tertentu untuk khalayak tunarungu (difabel Tuli).’

Begitu pula dalam undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang hak difabel. Pada bagian dua puluh, pasal 24 (b) menyebutkan, ‘Mendapatkan informasi dan berkomunikasi melalui media yang mudah diakses,’ dan (c) ‘Menggunakan dan memperoleh fasilitas informasi dan komunikasi berupa bahasa isyarat, braille, dan komunikasi augmentatif dalam interaksi resmi.’ 

Meski hak Tuli untuk mendapatkan akses informasi telah mendapatkan jaminan. Namun,  juru bahasa isyarat Fransisca Octy Sulistyaningsih masih prihatin terkait akses layanan informasi bagi difabel Tuli yang belum tercukupi.

“Tuli  memiliki kebutuhan yang sama seperti orang dengar (nonTuli) butuh radio, televisi, surat kabar guna mendapatkan informasi terbaru di dunia.  Tuli butuh juru bahasa isyarat untuk paham informasi bahasa Indonesia, sebab bahasa isyarat Indonesia (Besindo) dan bahasa Indonesia berbeda strukturnya,” ungkap Octy begitu sapaan akrabnya, seusai bertugas di sebuah acara, Senin (25/9)

Octy sangat menginginkan agar Indonesia inklusif benar-benar dapat terwujud secara nyata. Adanya undang-undang yang menjamin dan mengatur hak difabel, dianggap Octy sebagai pondasi dasar yang telah dimiliki Indonesia untuk mewujudkannya.

Di tempat lain, Rizwan Hermawan pun menyampaikan pendapatnya terkait hari tuli internasional tahun ini, “Minimnya kepedulian terhadap  Tuli dapat terlihat dari masih sangat jarangnya orang dengar (nonTuli) yang mau menjadi juru bahasa isyarat. Padahal, bahasa isyarat bisa dipelajari.”

Baik Octy maupun Rizwan, mereka memiliki harapan untuk terus ikut berperan dalam mewujudkan Indonesia inklusif melalui kemampuan yang dimiliki sebagai juru bahasa isyarat. Mereka menyadari kebedaraannya masih sangat dibutuhkan oleh  Tuli.

Hal tersebut dibenarkan Susanto seorang  Tuli asal Bandung, “Saya merasakan manfaat baik dari adanya juru bahasa isyarat. Saya senang kalau bisa mengikuti acara di televisi yang ada bahasa isyaratnya,” ujar Susanto.   

Susanto masih menunggu agar setiap layanan informasi melalui media elektronik dapat dengan mudah  diakses  difabel, termasuk  Tuli.

“Saya ingin mewujudkan Indonesia inklusif. Saya juga ingin menjadi juru bahasa isyarat profesional,” Octy kembali menegaskan harapannya.

Lantas, kapankah Indonesia inklusif dapat terwujud nyata? (Srikandi Syamsi)

The subscriber's email address.