Lompat ke isi utama
ilustrasi juru bahasa isyarat

Juru Bahasa Isyarat, Tantangan dan Harapan

Solider.or.id.Yogyakarta. Juru Bahasa Isyarat (JBI) ialah orang yang menjadi media atau menjembatani kesenjangan komunikasi antara tuli dengan nontuli, demikian pula sebaliknya. JBI ibarat telinga bagi tuli, yang menangkap informasi dan komunikasi dari orang mendengar selanjutnya menyampaikan kepada  tuli melalui bahasa isyarat. JBI juga tak ubah mulut bagi tuli yang berbicara menyampaikan informasi bagi orang mendengar. Artinya keberadaan JBI sangat dibutuhkan, di tengah sedikitnya orang mendengar yang dapat memahami bahasa tuli.

Saat ini keberadaan JBI pada event- event yang melibatkan difabel sudah tidak asing lagi, mudah dijumpai. Biasanya tuli mendapatkan tempat pada deret bangku depan menghadap pembicara, dan JBI duduk berhadapan di depan tuli membelakangi pembicara. Hal tersebut menunjukkan perubahan positif organisasi maupun instansi dalam mengakomodir hak informasi bagi tuli.

Namun, saya sering kali menyaksikan betapa tidak mudah bagi JBI menemukan isyarat yang dapat mewakili konsep-konsep kata abstrak terkait kebijakan publik, beberapa yang sulit diterjemahkan adalah istilah-istilah kedokteran, dan bahasa ilmiah. Tak jarang saya melihat JBI berhenti sejenak, tidak membuat bingung tuli dan dirinya sendiri barangkali. Namun kondisi tersebut tidak juga membuat pembicara mengerem penyampaian materi, menunggu, atau menyederhanakan kalimat.

Kebiasaan berbicara cepat dan mengadopsi kata atau kalimat dalam bahasa asing tak juga dengan cepat beradaptasi dengan problem JBI, meski tuli dan JBI biasa berada pada deret posisi yang mudah dilihat.

Menurut hemat saya, penggunaan bahasa yang sederhana perlu digalakkan. Kepekaan terhadap kondisi dan situasi terkait keberadaan tuli dan JBI perlu dikuatkan.

Fakta tersebut mengulik keingintahuan Solider terkait problem atau tantangan dan harapan para JBI di Yogyakarta. Tiga JBI yakni, Rahmadani Rahmi, Yudi Aditia Nugraha dan Sari Widya Utami pada Mingu (24/9/2017) berkisah seputar tantangan dan harapan mereka. Ketiganya mengatakan adanya tantangan dalam menjalani kegiatan sebagai JBI. Bahkan menurut ketiganya, banyak tantangan yang dihadapinya.

Curhatan para JBI

Bagi Yudi Aditia Nugraha yang sudah mulai terlibat sebagai penterjemah atau juru bahasa bagi tuli sejak tahun 2013 memaparkan seperti apa tantangan yang dia hadapi. Perbendaharaan kata-kata isyarat yang masih minim, menjadi salah satu tantangan. Demikan pula acara-acara resmi seminar yang didalamnya akan banyak istilah yang jarang dipakai dalam keseharian, itu tantangan lain bagi Aditia. Perbedaan isyarat tiap-tiap daerah juga merupakan tantangan lain. Apalagi isyarat antar tuli sendiri berbeda, meskipun berasal dari daerah yang sama.

Sementara bagi Sari Widya Utami, menyederhanakan kata yang tepat tanpa mengubah makna agar tuli paham, tidaklah mudah. Demikian pula ketika pembicara memakai bahasa akademis yang cukup tinggi, yang tidak ada bahasa isyaratnya.

“Bingung menyederhanakan kata atau kalimat sehingga membuat tuli tidak paham apa yang saya terjemahkan, ini menyedihkan. Nah membuat teman tuli bisa paham itu tantangan yang cukup besar bagi saya,” ujarnya.

Menerjemahkan kegiatan keagamaan atau do'a-do’a juga merupakan tantangan lain bagi Sari.

Adapun bagi Rahmadani Rahmi, minimnya kosa kata bahasa isyarat merupakan tantangan tersendiri. Sementara kosa kata dalam bahasa Indonesia luar biasa banyak, kata dia.

“Belum lagi ketika ada istilah asing yang belum ada bahasa isyarat di mana harus dieja, dan belum tentu tuli paham maksudnya, ini tantangan banget” ujar Mada.

“Kemampuan tuli juga beda-beda. Nama orang yang harus dieja juga tantangan. Atau bahasa yang terlalu tinggi tapi isyaratnya terbatas. Istilah asing kalo biasa agak sulit, apalagi jika yang tidak ada isyaratnya, itu sangat sulit. Ungkap Mada

Latar belakang menjadi JBI

Menjadi juru bahasa, lebih pada keinginan dapat memberikan akses informasi bagi tuli dinyatakan Adit. “Namun saya tidak tahu apakah saya ini JBI atau bukan, tetapi yang pasti saya sering kali diminta teman tuli untuk menjadi juru bahasa mereka,” ujarnya sambil tertawa.

Senada dengan Mada dan Sari menyatakan bahwa  menjadi JBI merupakan panggilan hati. “Saya hanya ingin menjadi telinga dan bermanfaat bagi tuli. Melihat hak-hak tuli yang belum optimal pemenuhannya, membuat saya bersikukuh berjuang bersama mewujudkan hak-hak bagi tuli,” ungkapnya.

Harapan dan Pesan

 

Pada kesempatan berbincang dengan Solider, para JBI memiliki harapan. Semakin banyak orang mendengar yang mau belajar isyarat, salah satu harapan itu. Semakin banyak orang bisa berbahasa isyarat, maka akses informasi dan komunikasi bagi tuli makin mudah.

Adanya kelas khusus Juru Bahasa Isyarat  yang fokus pada kebutuhan JBI menjadi harapan lain bagi Adit. “Tidak sekedar belajar bahasa isyarat dasar melainkan menjadi JBI, dengan pengajar yang tentu saja seorang tuli,” tandas Aditia.

Pada kesempatan itu Sari menitipkan pesan bagi  siapa saja yang berniat membantu tuli, selain harus paham dunia ataupun karakter tuli, menurut dia juga harus meningkatkan kemampuan dalam penguasaan kosa kata dalam bahasa isyarat.

Ada pun pesan yang disampaikannya pada tuli yakni, perbedaan bahasa isyarat pada masing-masing daerah, pendidikan dan kemampuan pada tuli, sebaiknya tuli selalu meningkatkan wawasan dan kemampuannya.

Perlu adanya penambahan kosa kata bahasa isyarat dalam bahasa akademis apakah itu kesehatan, ekonomi, politik, sosial dan lainnya. Jadi ketika ada bahasa akademis tidak perlu dieja menggunakan alfabet satu per satu.

Bagi stakeholders, diharapkan benar-benar memahami kebutuhan tuli. Mengingat tidak semua tuli menggunakan bahasa isyarat dan terbiasa dengan membaca bibir (lip-reading), maka perlu disediakan akses berupa teks bahasa Indonesia sebagai penjelasan. (hnw).

The subscriber's email address.