Lompat ke isi utama
peringatnan hari tuli di Malang, suarakan pentingnya bahasa isyarat

Peringati Hari Tuli Internasional, Suarakan Inklusi Penuh dengan Bahasa Isyarat

Solider.or.id, Malang - Aksi Arek Tuli (Akar Tuli) dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Malang menyuarakan inklusi penuh dengan bahasa isyarat pada peringatan Hari Tuli Internasional di lokasi Car Free Day (CFD) Jalan Ijen, Malang (24/9). Mereka berharap masyarakat sadar bahwa tuli sebagai identitas adalah bagian dari keragaman Indonesia dengan bahasa isyarat sebagai pintu aksesibilitas menuju kesetaraan. Kelompok tuli ini juga menyoroti kota Malang yang belum aksesibel bagi tuli serta menyampaikan harapan agar masyarakat luas dan aparatur pemerintah mampu berbahasa isyarat untuk pelayanan yang lebih baik.

Juru kampanye Nur Syamsan Fajrina dan Octaviany Wulansari dalam orasinya juga menyampaikan pentingnya membangun kesetaraan di segala aspek diantaranya pendidikan, pekerjaan, sosial dan budaya. Orasi disampaikan dalam bahasa isyarat dan disampaikan kembali dalam bahasa lesan oleh intepreter Akar Tuli.

"Kami berharap masyarakat Indonesia sadar disabilitas, utamanya berkaitan dengan event ini adalah sadar tuli," kata Fajrina panggilan akrab salah satu mereka. Bahwa tuli adalah identitas individu yang memiliki hak sama dengan warga negara lainnya dan bahasa isyarat adalah sarana untuk mencapai kesetaraan.

Dibidang ketenagakerjaan, perempuan yang pernah menjabat sebagai Ketua Akar Tuli ini menyebutkan masih banyak  tuli yang menjadi pengangguran. "Hanya sekitar 20 persen tuli yang bekerja," ungkapnya, itupun pada posisi setingkat pekerja seperti tukang pel, cuci piring, buruh pabrik dan sebagainya padahal pendidikan mereka hingga sarjana. Tuli belum mendapatkan kesempatan kerja yang layak, tukas mahasiswi Universitas Brawijaya ini.

Juru kampanye lainnya, Octaviany Wulansari mengkritisi berbagai layanan yang belum aksesibel bagi warga tuli. "Malang belum akses bagi tuli, ungkapnya. Ia mencontohkan TV lokal sebagai bagian dari layanan informasi belum dilengkapi dengan interpreter atau penterjemah bahasa lesan ke isyarat atau sebaliknya. Demikian pula layanan umum seperti puskesmas dan perkantoran juga belum memiliki interpreter sehingga informasi bagi tuli sangat minim. Kondisi ini dipersulit oleh masih adanya orangtua dari anak tuli tak bisa bahasa isyarat menyebabkan anak minim pengetahuan.

Lebih lanjut aktivis Akar Tuli ini menjabarkan bahwa di Malang ada banyak kantor-kantor pemerintah, organisasi dan komunitas yang berpotensi menjadi agen penyebar bahasa isyarat. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyarankan bahwa kedepan harus ada semacam les bahasa isyarat yang dipernuntukkan bagi aparat negara seperti polisi, dokter, dinas pendidikan, dan lain-lain yang memiliki posisi stretegis sebagai pelayan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Gerkatin Malang, Sumiati menyoroti masalah pendidikan. Menurutnya setiap sekolah harus inklusif, khususnya berkaitan dengan tuli perlu adanya pelajaran bahasa isyarat di sekolah umum. "Belum ada program bahasa isyarat untuk sekolah umum, untuk memenuhi hak pendidikan anak tuli perlu perubahan kurikulum," jelasnya.

Senada disampaikan Ketua Akar Tuli, Rieka Aprilia Hermansyah bahwa sekolah umum harus wajib bahasa isyarat. Ia juga berharap teman-teman komunitas mengajak sesama tuli untuk bergabung untuk mengurangi diskriminasi sosial yang masih dialami anak tuli.

"Masih banyak orangtua yang menyembunyikan anaknya karena tuli. Karena orangtua khawatir anak mengalami hal negatif karena lingkungan yg tidak aksesibel bagi tuli," ungkap perempuan asal Tegal ini, didampingi Wakil Ketua, Maulana Aditya. Dengan merubah kurikulum untuk wajib bahasa isyarat akan mengikis stigma dan merubah mindset masyarakat.

"Orang hanya melihat tuli dari sisi tak bisa mendengar, memandang sebelah mata. Harapannya orang sadar bahwa bahasa isyarat adalah pintu menuju aksesibilitas dan kesetaraan bagi tuli sebagai warga negara," imbuh Aditya.

Diakhir acara Ketua Panitia Hari Tuli Sedunia 2018 di Malang, Alif Maulana Agung menerangkan inti dari peringatan ini untuk menggugah kesadaran masyarakat dan pemerintah tentang pentingnya bahasa isyarat sebagai implementasi Pasal 5 UU RI Nomer 8 Tahun 2016 yang memuat hak-hak difabel termasuk hak komunikasi. (Kertaning Tyas)

 

The subscriber's email address.