Lompat ke isi utama
Rizwan sedang bertugas sebagai juru bahasa isyarat dalam siaran berita

Menuju Tayangan Berita Aksesibel untuk Tuli, Juru Bahasa Isyarat Masih Minim

Solider.or.id, Jakarta – Juru Bahasa Isyarat (JBI) pada tayangan berita di televisi masih minim. Hal tersebut diungkapkan oleh Rizwan Hermawan, salah satu juru bahasa isyarat asal Bandung. Pengalaman perdana jadi JBI di program berita televisi swasta nasional bukan sebuah tanggung jawab yang mudah. Adanya perbedaan gerakan sebagian huruf menjadi satu penghambat kecepatan dalam menterjemahkan.

“Bangga sekaligus kecewa mengingat tidak banyak orang dengar (non Tuli) yang mempelajari bahasa isyarat. Ini menandakan masih sangat minimnya kepedulian terhadap  Tuli di Indonesia,” ungkap Rizwan yang masih di Jakarta saat dihubungi Solider via WhatsApp, Selasa (19/9) seusai siaran langsung menterjemahkan program berita tersebut.

Rizwan memaparkan pula dia harus membaca naskahnya terlebih dulu untuk mengetahui isi berita secara ringkas. Dia melakukan cara tersebut untuk mempermudah mengeja kata. Adanya perbedaan sebagian gerakan isyarat di tiap kota menjadi tantangan tersendiri untuk para JBI. Meski demikian Rizwan tetap senang menjadi juru bahasa israyat. Dia pun merasa bahagia dapat memberi manfaat berupa (skill) kemampuannya kepada  Tuli.

“Gugup, serba belum siap karena mendadak harus menggantikan senior saya Mbak Esti JBI Jakarta yang sedang bertugas di daerah lain,” kata Rizwan ketika ditanya kesan tugas perdananya.

Diakui Rizwan, dia mempelajari bahasa isyarat sejak 2015 dari ketua Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) kota Bandung, Sri Kurnia difabel Tuli. Dia juga sering jadi juru bahasa isyarat diacara seminar dan diskusi publik.  Rizwan menegaskan untuk  langkah proses dalam menterjemahkannya sangatlah berbeda dengan menyampaikan berita menggunakan bahasa isyarat.

Sayangnya, Solider belum dapat memperoleh keterangan dari pihak televisi terkait hal apa yang menyebabkan tayangan beritanya menggunakan juru bahasa isryarat. Namun, sedikit informasi yang disampaikan Rizwan kepada Solider, untuk tayangan berita yang tidak ada akses dapat berdampak pada hak siar.

“Saya belum mengetahui secara pastinya alasan media televisi mau menggunakan juru bahasa isyarat. Saya pernah mendengar kalau tayangan berita tidak akses, hak siarnya bisa dicabut,” tutur Rizwan.

Untuk mengimbangi penuturannya, Rizwan juga menyampaikan secara pribadi dirinya telah dikontrak media televisi nasional lainnya sebagai juru bahasa isyarat dengan jadwal tetap pada tayangan berita siang pukul 11.30 – 12.00 WIB.

Sementara menurut salah satu  Tuli keberadaan juru bahasa isyarat di televisi memang sangat diperlukan. Peran seorang JBI dianggap sebagai jembatan penghubung untuk mendapatkan akses informasi yang akan menambah pengetahuan secara langsung tentang berbagai isu di masyarakat.

“Kalau saya sendiri termasuk jarang sekali mengakses secara langsung informasi berita dari televisi, tapi keberadaan juru bahasa isyarat memang membantu dalam hal mendapatkan informasi atau pemberitaan. Mungkin setiap teman Tuli memiliki pendapat yang berbeda sesuai dengan kebutuhan informasinya,” ungkap Dadi Al-Islamabad kepada Solider.

Dadi mengakui secara pribadi dirinya jarang melihat atau menonton acara televisi. Namun, dia berani menegaskan JBI memiliki peran yang besar untuk membatu difabel Tuli dalam berkomunikasi dengan lingkungan luas, termasuk salah satunya dapat berperan sebagai penyampai informasi yang diberitakan televisi melalui bahasa isyarat. (Srikandi Syamsi)

The subscriber's email address.