Lompat ke isi utama
pertemuan SHG Alaska

Dibentuk Pada 2012, SHG Alaska Sejahtera Kecamatan Polokarto Makin Eksis

Solider.or.id, Sukoharjo-Self Help Group (SHG) Alaska Sejahtera yang dibentuk pada tahun 2012 saat ini tengah menjalankan usaha pemberdayaan ekononomi berupa ternak sapi dan unit usaha simpan pinjam. Saat pertemuan rutin yang diselenggarakan pada, Kamis (21/9) di Waduk Mulur, Suyanti, Ketua SHG Polokarto menyampaikan laporan keuangan terkait modal awal dan perolehan laba kelompok. Saat ini SHG Alaska Sejahtera yang beranggota 20 difabel dan keluarga difabel tengah melakukan pendataan di wilayah desa masing-masing.

Ternak sapi masih dianggap menguntungkan bagi kelompok difabel ini pada paruh waktu tahun lalu hingga semester tahun ini. Namun evaluasi pada dua-tiga bulan terakhir ada penyusutan modal, karena ternak sapi mengalami hambatan pertumbuhan. “Jika ternak dipelihara sendiri oleh petani anggota kami, maka berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, kami akan mendapat laba keuntungan. Tetapi di tempat lain, sapi dipelihara dengan sistem “gaduh” (sistem ternak dimana pemilik ternak mempercayakan pemeliharaan ternaknya kepada orang lain), ternak yang tidak maksimal dipelihara menunjukkan hambatan perkembangan.

5 dari 17 Desa di Kecamatan Polokarto Telah Terdata

Difabel yang tinggal di lima desa di antaranya yakni Godog, Bugel, Karangwuni dan Jatisobo telah terdata dengan baik. Demikian dikatakan oleh Suyanti. Pihaknya meminta agar di desa lainnya, difabel menjadi ujung tombak sebagai pendata. “Kami  berharap agar setelah data ada, lalu kawan-kawan membikin kelompok difabel sendiri di setiap desa masing-masing maka kelompok tersebut bisa mengajukan usulan-usulan kegiatan. Jadi kelompok akan ada di setiap desa atau kelurahan dan jika butuh pendampingan, dari Sehati bisa memberi rekomendasi.” papar Suyanti.

Subur Sugiarto, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Polokarto pada kesempatan yang sama menyerukan agar semua difabel yang hadir pada pertemuan tersebut mengingatkan kepada Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) masing-masing, untuk mengecek apakah difabel sudah masuk apa belum pada Basis Data Terpadu (BDT). Blangko BDT saat ini sudah tersedia, dan ada kolom-kolom yang harus diisi. Terkait pertanyaan salah satu anggota SHG tetang subsidi atas Tarif Dasar Listruk (TDL), para penerima subsidi adalah mereka yang masuk daftar BDT. “Jika belum masuk, maka bisa diusulkan dari sekarang. Baru nanti akan ada verifikasi dan validasi lagi. Yang penting di data dahulu,”pungkasnya. (Puji Astuti)

The subscriber's email address.