Lompat ke isi utama
gambar zoom, aksesibilitas untuk low vision di komputer

Low Vision dan Mitos di Masyarakat

Masyarakat belum terlalu mengenal apa dan siapa Low Vision, dan berbagai mitos masih berkembang di masyarakat.

Low Vision, mendengar kata ini, pikiran kita akan tertuju pada sebuah ragam difabel yang memiliki hambatan pada penglihatan. Ia masih memiliki “sisa” penglihatan yang sebenarnya masih dapat digunakan. Ada pula orang yang beranggapan bahwa Low Vision merupakan bagian atau ragam dari difabel netra. Apakah ini benar? Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang dengan Low Vision agar nantinya dapat meminimalkan berbagai hambatan yang ada dalam dirinya dan dapat terus berperan di masyarakat? Benarkah misalnya seorang Low Vision akan kehilangan penglihatannya jika ia terus menerus mempergunakan penglihatan untuk beraktivitas sehari-hari?

Berbagai pertanyaan tersebut masih sering muncul bagi orang Low Vision, entah diri sendiri, keluarga, maupun orang-orang terdekat. Pun, masih ada beberapa mitos tentang Low Vision. Apa saja Mitos tentang Low Vision di masyarakat.

Solider telah menemui Sekar Mustika Intan di kantor Unit Layanan Low Vision Pertuni Yogyakarta untuk mengetahui lebih dalam tentang Low Vision dan bagaimana menyikapinya.

Menurut Intan, sesuai dengan definisi yang dikeluarkan oleh WHO, Low Vision adalah seseorang yang setelah dilakukan operasi, refraksi atau percobaan penggunaan kaca mata tapi tajam penglihatan atau visusnya kurang dari 6/18 sampai persepsi cahaya atau lapang penglihatannya kurang dari 10 derajat dari titik fiksasi. “Jadi lapang penglihatannya sangat sempit. Terkadang meski visusnya normal tapi kalau lapang penglihatannya sempit tetap kita sebut dengan Low Vision. Low Vision harus mempergunakan penglihatannya seefektif mungkin untuk berkegiatan, melakukan suatu pekerjaan dan sebagainya” jelasnya.

Umumnya, anak Low Vision pernah mengalami persoalan psikososial. Keluarga dan masayarakat kurang mengerti dan memahami keadaan Low Vision. Anak Low Vision kebanyakan kurang percaya diri, bisa melihat namun belum faham betul apa yang dialaminya. Anak Low Vision belum faham tentang seberapa banyak potensi penglihatan yang ia miliki dapat digunakan menunjang kehidupan sehari-harinya. Selain itu dia kurang faham tentang sejauhmana hambatan yang akan ditemui dengan kondisi penglihatannya. Low Vision sebenarnya masih tersembunyi di masyarakat, membutuhkan penanganan dan informasi yang tepat. “Low Vision ini cukup unik. Ia bukan difabel netra total yang memang sama sekali tidak dapat melihat, ia masih dapat melihat, namun ia tetap memiliki kondisi yang berbeda dengan orang nondifabel. Anak dengan Low Vision tentu akan mengalami berbagai hambatan dalam melihat sesuatu”, jelas Intan.

Low Vision memiliki berbagai macam hambatan dan kondisi yang berbeda-beda. Setiap Low Vision memiliki tingkat penglihatan yang berbeda. Jadi tiap kasus harus dilihat secara personal. Ada Low Vision yang masih bisa membaca, tapi kalau berjalan dia agak kesulitan. Intan memaparkan, “Dia kehilangan penglihatan tepi. Ada juga anak yang kalau jalan tidak ada masalah, tapi kalau suruh baca dengan huruf visual agak susah. Kadang-kadang anak-anak Low Vision masih bisa naik sepeda itu karena memang penglihatannya masih baik, atau mungkin dia mengandalkan aspek lain. terkadang, untuk mengendarai sepeda misalnya, dia tidak harus lihat detail, dia cukup tahu kalau warna aspal itu apa, rumput apa, sungai seperti apa. dia juga masih bisa mendeteksi tubuh seseorang".

Secara umum, ada beberapa ciri yang dapat dilihat untuk mengetahui seorang anak terdeteksi sebagai Low Vision. Beberapa ciri Low Vision seperti hanya bisa membaca tulisan yang besar, kalau menulis kadang-kadang ukurannya besar-besar, tapi kalau nanti sudah terbiasa, tulisannya akan kecil-kecil karena sudah terbiasa, silau pada sinar matahari, mata tampak layu, kikuk untuk berjalan, kalau melihat sulit untuk menatap mata kedepan, pada kasus retinitis pigmentosa, kadang-kadang anak-anak dapat berjalan di siang hari, namun ia akan sangat kesulitan untuk dapat berjalan di malam hari.

Jika seseorang sudah terdeteksi Low Vision, hal yang sebenarnya diinginkan adalah bagaimana Low Vision dapat mandiri dengan memfungsikan dan mengoptimalkan penglihatan yang ada. “Jika ia masih di usia sekolah, kita berupaya untuk dapat menempuh pendidikan di sekolah yang sesuai, mempergunakan penglihatannya yang masih tersisa se-efektif mungkin. Low Vision diharapkan dapat menempuh pendidikan di sekolah-sekolah inklusi”, tukas Intan. Sementara itu, adanya penanganan dan alat bantu yang tepat, semua dapat tertangani dengan baik dan Low Vision akan dapat menempuh pendidikan di sekolah tanpa ada hambatan yang berarti.

Difabel Low Vision harus punya kesadaran bahwa “dia seorang Low Vision”. Harus mengerti benar apa kebutuhan yang harus didapatkan misalnya di bidang pendidikan. Low Vision juga harus memahami bahwa dirinya itu berbeda. “Memang dia bukan buta atau difabel netra total, namun ia tetap berbeda dengan orang-orang non-difabel. Orang lain belum tentu tahu hal ini. Orang-orang awam misalnya belum faham betul siapa Low Vision dan bagaimana harus bersikap dengan Low Vision. dokter mata saja, kadang-kadang tidak tahu apa itu Low Vision. mungkin sekarang sudah mending banyak yang tahu” papar Sekar Mustika Intan.

Intan melanjutkan bahwa jika Low Vision sudah benar-benar paham tentang kemungkinan-kemungkinan perbedaan yang dihadapi dan berbagai kondisinya. Seorang Low Vision akan dapat mengoptimalkan sisa penglihatannya dengan memperhatikan tujuh elemen penglihatan yaitu:

  1. Jarak yang berkaitan dengan seberapa jarak benda tersebut,
  2. Ukuran yang memungkinkan benda dapat dilihat oleh Low Vision. Benda dengan ukuran besar, belum tentu dapat dilihat oleh Low Vision jika lapang penglihatannya sempit.
  3. Elemen lain yang tak kalah penting adalah kontras. Benda yang berwarna kontras, akan lebih mudah dilihat oleh Low Vision. Misalnya piring putih diatas meja hitam.
  4. Selain itu, warna juga menjadi elemen penting untuk menentukan seseorang dapat melihat suatu benda atau tidak.
  5. Luas penglihatan. Jika seseorang punya luas penglihatan yang baik, maka memungkinkan untuk melihat lebih baik dan lebih luas. Misalnya seseorang dapat melihat sesuatu yang terletak di sebelah kanan atau kiri.
  6. Posisi. Jika lapang penglihatannya sempit, maka ia tidak akan bisa melihat benda yang terletak disamping kanan atau kiri.
  7. Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah cahaya. Secara umum, Low Vision akan merasa nyaman melihat dengan cahaya yang sangat terang.

Mitos tentang Low Vision

Hingga saat ini, masih terdapat beberapa mitos yang beredar di masyarakat kepada difabel Low Vision. Beberapa mitos ini melarang difabel Low Vision atau justru menganjurkan difabel Low Vision untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak akan ada gunanya bagi penglihatan Low Vision. Beberapa mitos tersebut diantaranya adalah:

  1. Low Vision akan mengalami kebutaan jika ia mengoptimalkan fungsi penglihatannya terus menerus.
    Penglihatan Low Vision akan cenderung stabil sampai ia berusia lanjut. Kalau pun ada penurunan fungsi penglihatan, ini sangat wajar karena faktor usia. Justru anak Low Vision yang distimulasi penglihatannya seoptimal mungkin, dia akan menggunakan fungsi penglihatannya seefektif mungkin.
    “Jadi sisa penglihatannya mungkin visusnya cuma sekian, harusnya dia sudah tidak bisa mengenali wajah ibunya pada jarak tiga meter misalnya misalnya, tapi karena dia rajin berlatih maka fungsi penglihatannya akan lebih optimal. Otot mata itu seperti halnya otot tangan, ketika ia terus berlatih untuk digunakan, maka ia akan semakin kuat. Kalau tangan kita sering berlatih mengangkat beban berat misalnya, otot tangan kita akan berlatih untuk mengangkat beban yang berat dan akan menjadi kuat”, papar Intan.
    Seorang Low Vision dapat mengalami kebutaan bukan karena ia sering mempergunakan penglihatannya, namun lebih karena diagnosis yang ia alami. Misalnya kasus retinitis pigmentosa dan glaukoma. Ia sewaktu-waktu akan mengalami kebutaan. Bahkan jika glaukoma, ia tidak tahu kapan ia akan mengalami kebutaan.
  2. Melihat televisi dalam jarak dekat akan membuat Low Vision semakin mengalami keadaan buruk. Ia akan buta.
    Padahal Low Vision memang punya kecenderugnan untuk melihat dalam jarak yang dekat. “Dia mampunya lihat ya dalam jarak yang dekat, kalau jaraknya jauh, ia tidak akan mampu melihat. Hanya saja mungkin butuh istirahat setelah mata lelah, mungkin setelah dua jam lihat televisi, ia dapat beristirahat, dan ssebagainya.
  3. Membaca dengan jarak dekat akan merusak penglihatan.
    Posisi ideal Low Vision adalah membaca dengan jarak yang dekat.
  4. Low Vision jika terlalu sering mempergunakan kacamata, maka penglihatannya akan rusak.
    Hal ini tentu salah, karena kacamata adalah alat bantu yang akan membuat seorang Low Vision nyaman dan efisien dalam bekerja.
  5. Low Vision harus makan wortel sebanyak mungkin agar penglihatannya semakin membaik.
    Wortel sama sekali tidak dapat membuat Low Vision bisa sembuh.

"Ada kasus anak yang tiap hari disuruh makan wortel seperempat kilo, dan ternyata setelah kita deteksi justru dia malah kelebihan vitamin A. Low vision sangat tergantung dari apa diagnosanya dan dia perlu pakai alat bantu apa. kalau dia butuh pakai kacamata ya pakai kacamata, tubuh kita tentu punya porsi sendiri ihwal kebutuhan vitamin yang ia butuhkan, bukan berlebihan", kata Intan.

Low Vision harus mempergunakan penglihatannya secara optimal. Jangan kemudian merasa sayang untuk menggunakan. Untuk anak-anak, sebenarnya sangat penting untuk menstimulasi penglihatannya agar penglihatannya dapat berfungsi seefisien mungkin dan lebih optimal. “Saya selalu menyarankan misalnya untuk anak-anak dibawah satu tahun agar orang tuanya selalu melatih menstimulasi penglihatannya secara terus menerus. Karena dengan menstimulasi, sama halnya melatih penglihatan untuk dapat bekerja. Kalau anak Low Vision misalnya akan cenderung untuk melihat dengan jarak yang dekat. Makanya kita sarankan agar orang tuanya melatih untuk melihat dengan jarak yang agak jauh. Dengan demikian, ia akan terlatih”, kata Intan mengakhiri penjelasannya tentang Low Vision kepada Solider. (Ajiwan Arief)

The subscriber's email address.