Lompat ke isi utama
beberapa perwakilan Youth Home di malam penghargaan sosialpreneurship

The Youth Home Meneguhkan Mimpi Berbagi Inspirasi

“Kami tidak hanya menciptakan kesempatan kerja, tapi juga untuk menginspirasi dan terhubung dengan orang tuli dan nontuli. Kami bukan hanya perusahaan sosial tapi juga keluarga. Kami mempertaruhkan impian kita bersama.” The Youth Home – Vietnam.

Solider.or.id.Yogyakarta.Tepuk tangan bergemuruh pada malam penyampaian penghargaan (awarding night) bagi pemenang Asean Young Social Preneurs Program (AYSPP) 2017, di Jogjakarta Plaza Hotel, Jalan Afandi, Gejayan, Yogyakarta, Senin malam (18/9/2017). The Youth Home komunitas inklusif dari Vietnam, berhasil keluar sebagai pemenang kedua (runner up) Kompetisi AYSPP 2017. Adapun pemenag pertama Zikaway dari Kamboja dan pemenang ketiga yakni Coass dari Indonesia.
Program dua tahunan (biennial) kerjasama FISIPOL UGM Yogyakarta dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia tersebut, sekaligus menandai peringatan 50 tahun ASEAN. Dengan kompetisi yang mengusung gagasan mencetuskan pikiran kreatif pemuda untuk memecahkan masalah-masalah sosial di Asean dan menginspirasi orang lain.
Menjaga mimpi
Kepada Solider, personil The Youth Home dengan nama panggilan Anh menyampaikan suka citanya. “Kami sangat bahagia tentu saja,” ungkapnya. Lanjut Anh, kami akan terus melanjutkan perjalanan dengan memproduksi sabun produk buatan tangan alami (natural soap handmade product) dengan meningkatkan kualitas. Yang lebih penting lagi adalah terus melatih anggota tuli dan nontuli di Youth Home, sebagaimana mimpi yang dijaga selama ini.
“The Youth Home, kami sudah menjadi pusat berbagi, di mana orang bisa terhubung satu sama lain dengan berbagi cerita, keterampilan, bakat, saling mendukung satu sama lain. Ini mimpi lain yang harus kami jaga dan teruskan,” ungkap Anh.
Adapun personil lain dengan nama panggilan Vy mengungkapkan, “Kami juga mempromosikan bahasa isyarat dengan membuat kelas bahasa isyarat gratis untuk umum. Kami mendorong semua orang untuk belajar dan mengerti tentang komunitas tuna rungu. Melalui cara itu, kita semua menciptakan koneksi dan persamaan satu sama lain,” ceritanya pada Solider.
The Youth Home dengan tiga devisi yang menjadi fokus, yakni sabun pencuci tangan, teh bunga, dan warung teh, memiliki ruh yang dibangun dalam kebersamaan untuk saling menghargai perbedaan, saling menginspirasi, saling belajar satu sama lain.
Memaknai kompetisi
Mengikuti kompetisi AYSPP 2017 merupakan pembelajaran berharga bagi The Youth Home. “Dari kompetisi kami dapat belajar budaya dari negara-negara anggota Asean, belajar dari masukan-masukan para juri untuk rencana ke depan. Kami juga bisa belajar dari kelompok lain, bagaimana mereka memanajeman sebuah bisnis,” ungkap mereka.
Pada kesempatan berbincang dengan Solider ketiga personil The Youth Home menyampaikan pandangan tentang hidup. Hal penting yang dilakukan oleh Anh yakni, ketika punya ide, punya pemikiran, maka hanya harus lakukan dan mencoba. “Saat pikiran dan ide datang, maka lakukan dan cobalah. Jangan hanya ditulis tapi tidak dilakukan. Kegagalan bukan masalah. Biarlah, jika gagal teruslah mencoba hingga kita bisa.” Ungkap Anh.
Adapun bagi Vy, bahwa semua tuli punya kompetensi, punya kapabilitas sama sebagaimana yang lainnya. “Tidak usah memusingkan apa kata orang lain, tetapi lakukan apa yang ada dalam pikiran. Tetaplah jadi diri sendiri, tetap belajar.” Ujar Vy.
Pesan deaf Vietnam bagi dunia
Di akhir perbincangan, Trang (tuli) berpesan untuk semua tuli di dunia. “Jangan sedih dengan kelahiranmu. Ambil semua kesempatan untuk belajar lebih baik. Untuk meningkatkan kemampuan dan mengubah dirimu. Dan bukan masalah jika gagal atau tidak berhasil. Karena di dunia kita saling cinta kasih yang mendalam.” Pesan Trang yang diterjemahkan oleh Anh.
Lanjut Trang, “Tidak usah pusing dengan pikiran orang. Jangan pengaruhi diri anda, tetaplah jadi diri sendiri,” pungkasnya.(hnw)

The subscriber's email address.