Lompat ke isi utama
gedung DPRD Pati yang tidak aksesibel

Tak Dapat Perhatian Pemerintah, Difabel Pati Jarang dapat Akses Sarana Umum

Solider.or.id. Pati - difabel di kota Pati merasa kurang diperhatikan oleh pemda setempat. Hal ini dapat dilihat dari hak-hak difabel yang belum terealisasi,  ini dibuktikan dengan kurang adanya aksesibilitas di infrastruktur dan program-program untuk  difabel dari pemerihtah daerah Pati. Temuan tersebut, solider dapatkan berdasarkan pengakuan beberapa difabel saat ditemui beberapa waktu yang lalu.

Infrastruktur di daerah Pati belum bisa terakses dengan tidak adanya ramp dan toilet untuk difabel misalnya di Swalayan-swalayan.  Selain Swalayan, kantor DPRD juga belum dapat dijangkau oleh difabel. Akses masuk dengan bidang miring yang sangat tinggi, sangat menyulitkan difabel. Banyak  difabel kesulitan untuk masuk ke kantor DPRD guna menemui anggota DPRD karena ketiadaan akses yang layak pada pintu masuk.

Suratno selaku ketua PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia) Pati pernah datang ke kantor DPRD untuk bertemu dengan anggota DPRD.

“Akses jalan masuk di DPRD Pati sangat tinggi, saya kesulitan saat ingin bertemu dengan anggota DPRD” ujar Suratno saat ditemui solider pada (12/9).

Hal serupa juga dialami oleh Tahar anggota KODIPA (Komunitas Difabel Pati) dan juga selaku bendahara di PPDI membenarkan bahwa infrastruktur di Pati kurang ramah untuk difabel, jadi untuk masuk ke Swalayan Pati tidak bisa.

“Ingin masuk ke swalayan Pati yaitu Luwes sulit untuk dijangkau karena ramp terlalu tinggi” ucap Tahar.  

Kurangnya program untuk difabel di dinas sosial juga membuat kreatifitas dan ruang gerak  difabel masih pasif. Hal ini diungkapkan oleh Suratno saat menanyakan program untuk difabel di dinas sosial Pati. Suratno mengatakan “Saya sering bertanya pada dinas sosial apakah ada program untuk difabel, tetapi jawab dari dinas sosial belum ada.”

Untuk menanggulangi permasalahan ini antar organisasi difabel di Pati ingin melakukan gerakan-gerakan yang membuat pemerintah setempat lebih memperhatikan  difabel. “kita harus melakukan gerakan-gerakan sosial seperti mengambil sampah-sampah yang berserakan di jalan agar masyarakat dan pemerintah setempat tahu bahwa kita ada” tutur Suratno (Oby Ahmad)

The subscriber's email address.