Lompat ke isi utama
foto udinus Semarang

Praktik Baik Udinus Semarang, Tak Mustahil Buka Akses Pendidikan Tinggi Bagi Difabel Netra

Solider.or.id, Semarang - Bagi mahasiswa nondidfabel, mengikuti perkuliahan bukan suatu permasalahan besar. Mereka bisa belajar dengan menggunakan media apapun. Mereka bisa bermobilitas ke mana pun dengan cekatan untuk mendukung belajarnya di perguruan tinggi. Namun, semua itu menjadi sedikit berbeda bagi mahasiswa difabel netra yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dekat Museum Lawang Sewu ini.

Mahasiswa difabel netra yang belajar di Udinus biasanya memiliki cara yang berbeda dengan mahasiswa lain untuk belajar di kampus. Namun begitu, meereka masih tetap dapat bersaing, dan bahkan berprestasi seperti halnya mahasiswa nondifabel di kampus tersebut.

Selama menjalani masa perkuliahan,  mahasiswa difabel netra  tinggal di kos area dekat kampus. Setiap harinya mereka berjalan dari kos menuju kampus dengan mempergunakan tongkat putih. Meskipun bukan seorang public figure, sudah menjadi hal biasa bagi mahasiswa difabel netra menjadi pusat perhatian ketika mereka berjalan.  

Ketika mengikuti perkuliahan di kelas, mahasiswa difabel netra mencatat dengan menggunakan laptop atau notebook yang sudah diinstal JAWS (Job Access with Speech). Aplikasi inilah yang membantu membacakan semua tulisan yang muncul di layar monitor.

  Universitas Dian Nuswantoro  termasuk perguruan tinggi yang ramah difabel. Beberapa mahasiswa difabel netra Universitas di Jateng dan DIY menuturkan sistem belajar di kampus mereka belum berbasis komputer secara keseluruhan. Mereka masih menggunakan pendamping ketika melaksanakan ujian semester. Sedangkan di Udinus hampir seluruh kegiatan belajar mengajar bagi mahasiswa difabel netra sudah berbasis komputer.

Udinus berusaha menciptakan suasana pendidikan yang aksesibel bagi difabel netra. Para dosen selalu mempersiapkan materi  maupun soal latihan berbentuk soft file untuk mahasiswa difabel netranya. Terkadang, hal ini pun diterapkan pula untuk mahasiswa nondidfabel dengan maksud turut mendukung program Go Green. Jika dalam materi terdapat gambar, grafik atau tabel, teman atau dosen selalu siap membantu memberikan penjelasan.

Rektor Udinus, Prof. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom. mengatakan, “Kami sangat senang dapat bekerjasama dengan Pertuni. Udinus membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin kuliah. Kami memberikan beasiswa 100% gratis biaya kuliah untuk anggota Pertuni. Saya yakin dengan pendidikan masa depan mereka bisa lebih cerah dari sekarang. Saya sangat senang dalam perkembangannya rata-rata mahasiswa tunanetra di Udinus berprestasi”.

Nusa Putra Wibawa, mahasiswa yang dekat dengan mahasiswa difabel netra di Udinus juga mengungkapkan, “Selama ini kami tidak merasa terganggu dengan keberadaan mahasiswa difabel netra di Udinus. Saya salut mereka bisa belajar dengan mandiri. Hanya beberapa hal yang saya ketahui mereka kesulitan mengakses seperti perkuliahan yang menggunakan simbol atau gambar. Selain itu, mereka mandiri”.

Mahasiswa difabel netra di Udinus kini tidak lagi terkenal karena kedifabilitasannya, tetapi justru karena prestasi mereka yang cemerlang. Berpedoman pada persamaan hak, pihak kampus selalu memberi kesempatan kepada mahasiswa difabel netra untuk mewakili lomba seperti halnya mahasiswa nondifabel. Hasilnya pun tidak mengecewakan, mereka sering menduduki kursi jawara. Beberapa piala yang telah diperoleh oleh mahasiswa difabel netra Udinus antara lain Eka Pratiwi Taufanti juara II kompetisi esai berbahasa Inggris di ajang ESA Week UNNES, Agus Sri Giyanti runner up lomba menulis cerpen pada kompetisi Dinus Festival serta salah satu karyanya dibukukan dalam Para Pembidik Mimpi 99 Kisah Penerima Bidikmisi Berprestasi, 6 piala pada acara peringatan Hari Difabel Internasional di Semarang dan masih banyak lagi.

“Awalnya saya tidak yakin dan takut mengecewakan kampus yang telah memberikan kesempatan mengikuti ajang kompetisi berbahasa Inggris ini. Tetapi dukungan dari dosen dan mahasiswa lain yang juga mengikuti lomba pada saat itu akhirnya mengantarkan saya menjadi juara II,” ungkap Eka difabel netra yang mengikuti lomba esai di UNNES.

Selain itu, mereka juga aktif terlibat kegiatan internasional seperti Eka Pratiwi dan Ari Triyono mewakili kompetisi esai teknologi di Hong Kong, mahasiswa difabel netra berpartisipasi dalam pelatihan kepemimpinan dan kepedulian tentang kesehatan reproduksi remaja yang diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia, bergabung dalam jaringan peduli kesehatan reproduksi dengan lembaga-lembaga difabel internasional.

Kehidupan mahasiswa difabel netra di Udinus mencerminkan bahwa difabel netra bukan manusia yang buta segalanya. Mereka hanya kehilangan indera penglihatannya, bukan kemampuan berpikirnya. Berbagai prestasi dan pencapaian tersebut tidak lepas dari dukungan pihak universitas serta masyarakat di sekitarnya. Kesetaraan hak di bidang pendidikan bagi difabel di kampus ini bisa menjadi referensi bagi perguruan tinggi lain yang hendak menyelenggarakan pendidikan inklusi.

Beberapa hal masih menjadi pekerjaan rumah bagi Udinus,  aksesibilitas bangunan masih minim di kampus ini. Belum ketersediaannya guiding block masih menjadi hambatan bagi difabel netra untuk berpindah dari satu gedung ke gedung lain. Selain itu, perlunya penyediaan bidang miring jika ada difabel pengguna kursi roda yang hendak berkuliah di sana perlu juga menjadi perhatian kampus. (Agus Sri Giyanti)

The subscriber's email address.