Lompat ke isi utama
Photo (tiga dari kiri difabel netra Gema melakukan prosesi wisuda di gedung auditorium kampusnya Universita Negeri Malang minggu 10/09/2017).

Gema, Difabel Netra Pertama Raih Gelar Sarjana Di Tuban

Solider.or.id, Tuban – Setiawan Gema Budi atau yang akrab  disapa Gema, Pemuda kelahiran Tuban,12 Februari 1993 ini adalah seorang difabel netra (Total Blind) putra pertama dari pasangan  Wigyohadi,SE dan  Sri Handayani. Ia   tergolong difabel yang cerdas karena dari jenjang TK-Perguruan Tinggi   selalu bersekolah di sekolah regular. 

Kondisi berbeda yang dialami Gema bermula ketika dia duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau setingkat SD, dia mengalami sakit katarak pada matanya. Kemudian ketika beranjak SMP, matanya terkena kok badminton pada saat berorlahraga. Dari kejadian tersebutlah, ia harus beradaptasi karena menjadi difabel netra, tentu segalanya akan berubah tak seperti dulu lagi,   namun itu tak menyurutkan semangatnya  untuk menggapai cita-citanya yaitu dengan mengenyam pendidikan tinggi serta berkeinginan menjadi seorang PNS mengikuti jejak sang ayah.

Perjuangan  demi perjuangan harus di laluinya.  Bermula saat ia harus tinggal di asrama khusus difabel netra  Panti Janti di kota Malang. “selama kurang lebih 2 tahun dia di latih mandiri disana. Sejak saat itu ia dapat hidup mandiri dan tidak terlalu bergantung pada orang lain” tutur Wigyohadi,SE ayahanda  Gema.

Sementara itu di bidang pendidikan, kesuksesan pun dapat dia raih dengan menyabet gelar sarjana pendidikan jurusan pendidikan luar biasa dari Universitas Negeri Malang  dengan IPK 3,30. Pencapaian tersebut menjadikannya difabel netra pertama di Tuban yang meraih gelar sarjana. Baru-baru ini, ia telah melaksanakank wisudah pada  10/9/2017 lalu di Malang 

”Jangan pernah menyerah oleh keadaan,karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda’’, demikian pesan Gema pada teman-teman difabel yang saat ini sedang menimba ilmu. Gema juga menceritakan bahwa dahulu ia sempat mengalami penolakan di sekolah dan bahkan hampir tidak naik kelas. Hal itu hanya karena dirinya seorang difabel netra.

Gema adalah salah satu contoh difabel netra berprestasi, meski terlihat klise, namun ia mampu menyelesaikan pendidikan tinggi di tengah berbagai tantangan yang ia hadapi. Menjadi difabel netra tidak dari lahir merupakan tantangan tersendiri, namun Gema membuktikan bahwa segalanya mungkin dilakukan. selain itu, Gema juga telah mempu membanggakan daerahnya dengan menjadi difabel netra pertama yang dapat meraih gelar sarjana di Tuban. Tidak mustahil jika nanti semakin banyak difabel berprestasi yang lahir dari kota ini. Asalkan segala bentuk infrastruktur dan berbagai dukungan diberikan oleh pemerintah setempat, agar masyarakat, termasuk difabel dapat berkembang dan berprestasi sesuai dengan minatnya. (Fira Merenda Asa)

The subscriber's email address.