Lompat ke isi utama
ilustrasi karya seni Perspektif Yogyakarta

Perspektif Yogyakarta Berjibaku Siapkan Karya Menuju Pameran di Galnas

Solider.or.id.Yogyakarta. Perpektif Yogyakarta, sebuah kelompok yang dengan media seni rupa mengajak difabel tumbuh percaya diri, bulan September ini menyongsong pamerannya yang ke enam. Pameran kali ini akan dilangsungkan di Galnas (Galeri Nasional) Jakarta, pada Oktober 2017. Mereka “Anggota Perspektif” terus berproses dan berkarya. Tidak hanya ketika akan pameran mereka berproses dan berkarya. Namun, karena mereka berkarya dan berproses itulah, sehingga karya mereka dipamerkan atau diapresiasi dalam bentuk pameran.

Beragam karya eksplorasi dan intalasi titik maupun  garis mulai dipersiapkan oleh setiap seniman anggota Perspektif. Bersama orang tua dan keluarga lainnya, mereka berjibaku, berproses mewujudkan karya, membuktikan kemampuannya.

Pada pameran-pameran sebelumnya seluruh karya yang dipamerkan merupakan karya anak difabel. Namun ada yang berbeda pada pameran kali ini, yakni terdapat beberapa karya yang merupakan karya anak nondifabel. Mereka seluruhnya merupakan seniman anggota Perspektif Yogyakarta.

Sebanyak 14 seniman terlibat dalam pameran nasional tersebut. Dua belas seniman di antaranya difabel dan 2 lainnya nondifabel, dengan usia antara 2 hingga 22 tahun. Keempat belas seniman tersebut ialah: Laksmayshita Khanxa (tuli), Hepi Nafisa (tuli), Maydea (slow learner), Nahya (slow learner), Enjel (nondifabel), Lintang (Down Syndrom), Syifa (Down Syndrom), dan Nadya (ADD).  Angger (tuli), Suryo (dauble handicap), Haidar (difabel daksa), Haikal (nondifabel), Nathan (Down Syndrome) dan Abiel (Down Syndrome).

Proses dan Cinta

Mereka tengah berproses mewujudkan karya demi karya. Pada setiap detail karya mereka ada proses dan cinta. Ada doa, suka cita, bangga dari para orang tua. Hingga mewujud menjadi energi positif, yang dijalin dan ditumbuhkan melalui komunikasi bersama keluarga. Energi positif diharapkan dapat menghasilkan cinta anak-anak terhadap proses yang dilalui bersama, memahamkan bahwa tidak ada yang instan.

Perspektif Yogyakarta mengedepankan proses dalam berkegiatan dan berkarya. Sebagaimana dikatakan Ketua Perspektif Yogyakarta, Sri Hartaningsih bahwa proses bernilai tinggi di Perspektif Yogyakarta. Adapaun hasil akhir merupakan perwujudan dan jawaban dari proses yang telah dilakukan.

“Proses adalah inti, proses adalah nilai yang akan mengantar pada hakikat diri. Bukan karya semata yang menjadi tujuan, melainkan lahirnya kesadaran menghargai nilai diri, membangun komunikasi, mengoptimalkan kemampuan, dan percaya diri.” Jelas ketua Perspektif Yogyakarta.

Perkenalkan konsep ketekunan
Ketekunan dalam berproses juga dikenalkan kepada para seniman Kelompok Perspektif Yogyakarta. Bersama orang tua dan keluarga, konsep ketekunan itu ditanamkan dan dikuatkan. Jika anak-anak memahami proses yang harus dilalui sehingga dari tangan mereka terwujud karya, mereka akan memiliki kebanggaan dan kepercayaan atas diri sendiri.

Hal tersebut tentu saja akan mengantar pada sebuah pemaknaan, bahwa tidak ada yang instan, semua harus didapat melalui proses, ketekunan, kreasi dan inovasi. Lebih jauh, hal ini akam memberikan pelajaran kepada seluruh anggota bahwa  ketika mereka menemukan masalah tidak akan pernah menyerah. (hnw).

 

The subscriber's email address.