Lompat ke isi utama
ilustrasi orang berkursi roda akan naik menggunakan tangga biasa

Keterkaitan antara Aktivitas, Kemampuan dan Aksesibilitas

Solider.or.id.Yogyakarta. Aktivitas individu sangat didukung oleh kemampuan tiap-tiap individu itu sendiri dan fasilitas yang ada. Aktivitas atau kegiatan yang mudah dilakukan oleh satu idividu, belum tentu mudah bagi individu lain. Artinya tidak semua fasilitas cocok bagi semua orang, terutama bagi orang dengan difabilitas.

Sayangnya sebagian besar fasilitas yang ada dan tersedia belum ramah untuk semua orang. Di antaranya fasilitas pada bangunan gedung perkantoran, trotoar dengan berbagai pemanfaatan yang tidak semestinya (pemanfaatan ilegal trotoar), loket-loket berkaca gelap, minim informasi dalam bentuk tulisan, dan lain sebagainya.

Bangunan gedung perkatoran yang bertangga tentu tidak mudah diakses oleh anak kecil, ibu hamil, lansia, terlebih bagi difabel pengguna kursi roda. Demikian pula dengan trotoar yang rusak sangat berbahaya bagi pejalan kaki, apalagi bagi pengguna kursi roda. Pemanfaatan ilegal trotoar (pemanfaatan trotoar yang bukan pada fungsinya) juga sangat mengganggu kenyamanan siapapun pejalan kaki. Loket-loket yang berkaca gelap tidak nyaman untuk berkomunikasi, terlebih bagi Tuli tidak tidak bisa membaca gerak bibir petugas yang berbicara.

Aksesibel bagi semua

Aksesibilitaas itu penting bagi semua kalangan, oleh karena itu penting untuk mendorong perbaikan fasilitas umum, sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) DIY Nomor 4 Tahun 2012. Demikian pula diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 yang diberlakukan April 2016, memastikan agar perbaikan fasilitas umum turut memenuhi kebuhuhan difabel.

Tanpa fasilitas setiap individu sulit beraktivitas, dan karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda maka semestinya fasilitas umum aksesibel bagi semua sehingga nyaman diakses oleh semua orang, termasuk orang dengan difabilitas. Untuk itu fasilitas yang aksesibel bagi semua (universal design) dibutuhkan untuk memastikan kesetaraan kesempatan mengakses segala aspek kehidupan dan penghidupan. Dengan fasilitas yang aksesibel (aksesibilitas) kemudahan akan didapat oleh semua tanpa kecuali.

Aksesibilitas bangunan gedung sesungguhnya telah diatur melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 30 Tahun 2006. Di antaranya standar teknis aksesibilitas bangunan gedung, fasilitas dan lingkungan, detail ukuran dan penerapannya dengan prinsip yang harus dipenuhi yakni: keselamatan, setiap bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan terbangun, harus memperhatikan keselamatan bagi semua orang. Kemudahan, setiap orang dapat mencapai semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan. Kegunaan (keberfungsian) yakni setiap orang harus dapat mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan. Dan Kemandirian (aksesibel), yakni setiap orang harus bisa mencapai, masuk dan mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.

Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas menjadi tanggungjawab setiap orang, instansi pemerintah maupun swasta dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung dan lingkungan.

Di atur pula dalam Permen PU tersebut mengenai kelengkapan dalam perencanaan, dan pelaksanaan pembangunan bangunan gedung dan lingkungan yang harus dilengkapi dengan penyediaan fasilitas dan aksesibilitas serta wajib memenuhi persyaratan teknis fasilitas dan aksesibilitas, diantaranya adanya ukuran dasar ruang, jalur pedestrian, jalur pemandu (guiding block), tempat parkir umum dan difabel, ramp, lift, toilet akses, rambu-rambu dan lain sebagainya. (hnw).

 

The subscriber's email address.