Lompat ke isi utama
ilustrasi tulisan "stopbullying

Beberapa Pengalaman Menghindari Bullying di Sekolah

Solider.or.id, Sleman. Ernanto Widyanto kini tidak lagi berstatus sebagai siswa SDN Ngemplak 4. Pasca mengikuti Ujian Nasional kemarin, Nanto sapaan akrabnya itu dinyatakan lulus oleh pihak sekolah. Mengetahui itu Poniyem, Ibunya dengan perasaan bangga sekaligus khawatir bercampur aduk, segera mencarikan Sekolah Menengah untuk melanjutkan pendidikan anaknya.

Disamping rasa lega melihat anaknya berpakaian putih-biru, ada pula kekhawatiran yang dipikirkannya. Salah satunya, ia khawatir anaknya menjadi korban perundungan atau bullying di sekolah barunya. Nantinya Nanto akan berhadapan dengan lingkungan baru, materi pelajaran, sistem, dan orang-orang yang baru.

Sebelumnya, Poniyem dan Nanto pesimis meneruskan pendidikan anaknya karena mendapat penolakan dari beberapa sekolah terdekat. Ia khawatir akan menemui kesulitan sama ketika ia mencarikan sekolah untuk Nanto sebelum masuk Sekolah Dasar. Disamping Nanto sendiri bilang padanya bahwa ia mengikhlaskan jika memang tidak memungkinkan untuk sekolah.

“Saya kaget, dia bilang ‘tidak sekolah tidak apa-apa mak. Enak, bisa nonton tv tiap hari di rumah,” Kata Poniyem menirukan kata-kata anaknya. Meski pada akhirnya, kini Nanto diterima sebagai siswa daru di SMP Taman Dewasa II, Cangkringan, Sleman.

Kekhawatiran Poniyem tentang perundungan itu sebenarnya muncul sejak Nanto masuk Sekolah Dasar. Namun kekhawatiran itu muncul di pikirannya menjadi lebih kuat belakangan, ketika mendengar sebuah berita di televisi yang mengabarkan kasus bulliying terhadap anak berkebutuhan khusus di Universitas Gunadarma.

Status siswa baru pada Nanto, tentu menjadi tantangngan bagi Ibunya. Poniyem, merasa beruntung banyak dari keluarga dan lingkungannya yang memberikan dukungan untuk anaknya. Meski hanya dukungan moral dan arahan, ia merasa hal itu memberikan semangat atau setidaknya dapat mengurangi kekhawatiran anaknya menjadi korban perundungan. Ia pun merasa perlu semangat tersebut, mesti dipahami oleh anaknya.

“Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak,” katanya.

Jika merujuk pada UN Convention, menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak hidup, berkembang, dan berpartisipasi pada berbagai aktivitas dan terlindung dari diskriminasi. Dimana Indonesia mengadopsinya melalui berbagai kebijakan, seperti UU No. 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Namun, beberapa kebijakan pemerintah belum mampu mencegah adanya kasus-kasus bullying yang terjadi di sekolah, khususnya bagi anak difabel.

Pada tahun 2015, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang perlindungan anak bernama Plan International dan International Center for Research on Women (IRCW) pernah melakukan riset terkait bullying. Sembilan ribu anak sekolah yang terlibat dalam riset ini berusia 12-17 tahun.

Hasil riset tersebut menunjukkan, terdapat 84% anak secara umum di Indonesia  mengalami bullying di sekolah. Angka tersebut diketahui jika dibandingkan telah melebihi angka dari negara-negara lain di Asia. Seperti Vietnam, Kamboja, Nepal, dan Pakistan.

Riset tersebut juga menyimpulkan bahwa ada ragam faktor yang mempengaruhi maraknya tindakan perundungan atau bullying di Indonesia. Seperti konsumsi tayangan kekerasan di televisi pada anak, media sosial, budaya di lingkungan, pemahaman pihak sekolah, dan keluarga.

Peran Poniyem sangat penting, ia merasa khawatir Nanto akan mendapat perlakuan yang tidak semestinya dari lingkungan. Bukan hanya sistem pendidikan, juga hubungan dengan teman-teman sekelas Nanto, guru, dan juga pendamping Nanto saat di kelas.

Meski demikian, Poniyem mengaku banyak belajar dari pengalaman-pengalaman selama mendampingi anaknya, juga dari orang-orang yang ia anggap tahu banyak tentang ABK. Ia menjelaskan ada beberapa upaya yang ia terus lakukan selama ini untuk menghindari perundungan.

Sudah hampir sebulan dari pertama Poniyem mendampingi Nanto mengikuti aktifitas di sekolah barunya. Meski terkadang ia hanya memberikan separuh waktu untuk mendapingi. Di masa-masa awal tersebut, ia gunakan untuk mengenalkan Nanto pada lingkungan barunya.

“Saya juga ngobrol dengan guru. Sama orang tua murid lain di sana. Ngobrolin anak saya, gimana-gimana” katanya usai menjemput Nanto dari sekolah (21/8). Poniyem memberikan penjelasan tentang kebiasaan nanto, atau apa yang sering Nanto laukan ketika di kelas ataupun di rumah. Ia juga mengenalkan Nanto dengan teman-teman barunya.

“Ya kalau waktu istirahat. Saya kenalkan nanto dengan teman-temannya,” lanjutnya.

Berbeda dengan upaya yang dilakukan Poniyem untuk menghindari perundungan. Di rumah ia memancing anaknya dengan pertanyaan-pertanyaan. Menurutnya pertanyaan-pertanyaan itu ia ajukan untuk mengetahui apa yang Nanto alami dan rasakan saat mengikuti aktifitas di sekolah. Mulai dari pelajaran, teman-teman, guru, dan lainnya. Hal itu ia lakukan untuk menghindari perilaku perundungan.

Pengalaman orang tua dalam mendampingi ABK juga dikisahkan oleh Gayatri Pamoedji dalam bukunya yang berjudul 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme. Sebagai tokoh publik, ia juga menjadi seorang ibu pendamping setia anaknya. Selain berbagi pengalaman tentang bagaimana mengenali gejala dini pada anaknya, Ia juga menuliskan pengalamannya tentang bagaimana mencegah bullying.

Peran awal orang tua menurut Gayartri yakni orang tua mampu memberikan pemahaman tentang bullying itu sendiri. Ada banyak pilihan alat bantu untuk dapat memahamkan bullying pada anak, seperti gambar, foto, ataupun video. Sehingga, seorang anak dapat mengenali dengan membedakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

“Mereka mungkin saja tidak mengenali atau menyadari bahwa mereka merupakan korban penjajahan (Red: perundungan atau bullying),” tulis Gayatri.

Gayartri juga menjelaskan bagaimana pendamipngan dilakukan saat anaknya menjadi siswa baru. Ia mengajak anaknya untuk mengunjungi sekolah di hari libur. Ia mengecek berbagai fasilitas sekolah seperti toilet, kelas, perpustakaan, ruang olahraga, kantin, dan tempat lainnya.

Tahap pengenalan selanjutnya, senada dengan apa yang juga dilakukan Poniyem, Gayatri mencoba mengkomunikasikan kebutuhan-kebutuhan anaknya. Hal itu dilakukan untuk membantu bagaimana seorang guru nantinya bersikap kepada seorang anak ABK, dan membantu menjembatani komunikasi anak ABK dengan anak-anak lainnya di sekolah.[Robandi]

The subscriber's email address.