Lompat ke isi utama
kader kesehatan jiwa

Sartiyem, Kader Kesehatan Jiwa dan Deteksi Dini Gangguan Jiwa

Solider.or.id, Surakarta - Sartiyem namanya. Perempuan berusia 43 tahun berputra satu dan memiliki seorang Suami yang bekerja di sebuah selepan (penggilingan padi) di Sukoharjo itu merupakan orang dengan gangguan jiwa. Sehari-hari pekerjaannya sebagai seorang Ibu rumah tangga, memasak, mencuci baju Anak dan Suami serta menunggu tatkala Anaknya sedang belajar. Setiap pagi dia bangun pukul 5.30. Rutinitas seperti itu Ia lakukan setiap hari. Ia memulai semuanya sejak pukul 05:30 pagi.

Menurut pengakuannya, Sartiyem sudah lama tidak melakukan kegiatan sosial, seperti PKK di lingkungannya. Saat ditanya oleh Narsih, Seorang kader kesehatan jiwa tempat tinggalnya yakni RW 18 Kelurahan Kadipiro, Sartiyem tidak memberikan alasan pasti mengapa sekarang Dia tidak lagi ikut pertemuan PKK. Sartiyem tinggal bersama tiga kepala Keluarga lainnya di rumah Orangtuanya yang berdinding kayu dan ubin semen. Rumah seluas tidak lebih seratus meter persegi itu dihuni Sukiyem, ibunda Sartiyem dan keempat Anaknya beserta Keluarga mereka.

”Dulu saya pernah tinggal di rusunawa di Sukoharjo, dan mengikuti perayaan 17-an bersama. Itu kira-kira lima tahun lalu,” ujar Sartiyem di hadapan kader kesehatan jiwa. Hal itu, Sartiyem ungkapkan dihadapan mahasiswa profesi Ners STIKES Muhammadiyah yang sedang melakukan kunjungan lapangan untuk pelatihan deteksi dini gangguan kejiwaan. Sartiyem pernah bekerja di PT. Sritex sebagai buruh. Perempuan berambut gelombang seleher itu menyampaikan dalam bahasa Indonesia yang benar.

Saat ditanya ada persoalan apa di pabrik, sehingga Sartiyem keluar dari pekerjaan, perempuan tamatan SMA tersebut mengatakan jika ada masalah keluarga. “Ada teman kerja saya yang usil. Keluarga saya diusilin supaya saya cemburu,” ujar Sartiyem. “Saya marah-marah karena saat membuat Kartu Keluarga di Pak RT, saya disuruh bolak-balik. Lalu kartu KK saya sobek-sobek,” imbuh perempuan itu.

Menurut Sukiyem (ibunda Sartiyem), di waktu muda Sartiyem pernah pergi merantau ke Kalimantan. Namun pulang dari Kalimantan dia mengalami perubahan perilaku. Hanya sedikit cerita yang disampaikan oleh Sukiyem. Setahun lalu Sartiyem mengalami relaps (kambuh) lalu dirawat inap di RSJD dr. Arif Zainudin. Namun dia tidak pernah lagi melakukan kontrol atau rawat jalan. Keterangan itu dikuatkan oleh Suminanto, perawat di RSJD dr Arif Zainudin bersama mahasiswa lain. Saat ditanyakan kepada sang ibu mengapa Sartiyem tidak lagi kontrol, dia menjawab menirukan petugas rumah sakit jiwa, “Katanya sudah sehat di saat kontrol pertama, jadi tidak perlu kontrol,” ujarnya.

Sartiyem tidak sendiri mengalami gangguan jiwa. Di tiga RT, wilayah RW 18 Kelurahan Kadipiro, telah terdata sebanyak 13 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). “Ini angka yang besar,”ujar Retno Yuli Hastuti, S.Kep.,Ns.M. Kep.Jiwa, Kepala Prodi S1 Keperawatan dan Ners di STIKES Muhammadiyah Klaten ini. Retno saat ini tengah menginisiasi adanya kader kesehatan jiwa di RW 18 yang nantinya ke depan akan dibentuk posyandu jiwa. “Kelompok mahasiswa berjumlah 18 ini adalah gelombang kedua, setelah yang pertama kemarin kami di tiga RW, nanti akan ada gelombang tiga, dua atau tiga RW lagi,”ujar Retno kepada Solider pada Kamis (3/8).

Kegiatan ini muncul ketika beberapa waktu lalu telah dipublikasikan bahwa Surakarta mencanangkan menjadi kota sehat jiwa. Hal itu merupakan progam pemerintah kota. Seharusnya, program serupa juga dilakukan di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia. Saat ini Indonesia memiliki aturan soal kesehatan jiwa yakni Undang-Undang no 18 tahun 2014 yang di dalamnya mengatur bagaimana pengelolaan kesehatan jiwa. Dalam Undang-Undang mengkategorikan berbagai hal yang berkaitan dengan kesehatan jiwa menjadi tiga kelompok, yakni kelompok sehat jiwa, kelompok Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan kelompok Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Kebetulan kami yang di pendidikan ada kompetensi lulusan seorang Ners harus mampu memberikan asuhan kepada ketiga kelompok tersebut. Nah jadi seperti gayung bersambut, kota Surakarta sebagai kota sehat jiwa, di tempat kami profesi tersebut harus bisa mengatasi itu juga sehingga pada akhirnya praktiknya kami bikin menjadi dua bagian yakni praktik di RSJ dan di komunitas atau masyarakat yang nantinya bisa mencapai perawat kesehatan mental di masyarakat atau Comunity Mental Health Nursing (CMHN),” jelas Retno di sela-sela memberikan bimbingan kepada para mahasiswanya.

Saat ditanya tentang harapannya, Retno menegaskan bahwa selepas mahasiwa tidak ada nanti para kader yang sudah dilatih akan meneruskan dan ini sebagai program bukan semata-mata dari mahasiwa, tetapi menjadi bahan survey atau hasil pendataan yang dilaporkan ke puskesmas. “Jadi ini bahan program untuk puskesmas. Puskesmas Gambirsari sendiri mempunyai unggulan di kesehatan jiwa. Jadi ODGJ seperti Mbak Sartiyem dan yang lainnya, bisa kita tangani, masyarakat sendiri yang mendampingi melalui kader, serta keluarga berperan,” pungkas Retno Yuli Hastuti.

The subscriber's email address.