Lompat ke isi utama
Pelatihan Terapis PLA Solo Hadirkan dr. Kresno Mulyadi, Sp.KJ

Pelatihan Terapis PLA Solo Hadirkan dr. Kresno Mulyadi, Sp.KJ

Solider.or.id, Surakarta-Para staf Pusat Layanan Autis (PLA) termasuk tenaga administrasi dan terapis yang berstatus tenaga kerja kontrak mendapatkan pelatihan selama tiga hari (25-27/7) di Hotel Loji Solo. Menghadirkan pakar autis, Kepala Klinik ABK RS Omni Alam Sutera, dr. Kresno Mulyadi, Sp.KJ, pelatihan ini fokus tentang ABK di antaranya adalah untuk menyamakan persepsi bahwa autis berbeda dengan ABK lainnya yang relatif menetap. “Autis sesuatu yang bisa sembuh dengan penatalaksanaan. Mereka bisa sembuh, bisa berbicara seperti orang awam dan dapat pula bersekolah di sekolah reguler (umum). Jika terapinya benar maka masih bisa sembuh,”tutur dr. Kresno Mulyadi Sp.KJ.

Menurutnya anak-anak autis yang memiliki kecenderungan persepsi sensorik, harus menjadi seperti anak-anak yang lain dan tempat bersekolah adalah sekolah reguler atau mungkin inklusi. “Saya lebih menyukai mereka bisa bersekolah di sekolah reguler, karena inklusi kadang disalahartikan dengan memanjakan si anak autis,” imbuhnya. Laki-laki yang sering dipanggil dengan sebutan “Kak Kresno” tersebut memberikan contoh prestasi anak autis yang pernah meraih penghargaan Ning Surabaya tahun 2012.

Di Klinik ABK RS Omni Alam Sutera  Kresno lebih memilih metode Applied Behavior Analysis (ABA). Di Klinik tersebut pihaknya juga mengajak anak autis diet menghindari Casein (Casein Free/CF), Gluten Free (GF) dan Sugar Free (SF). “Kami juga menghindari susu sapi. Pada sebuah penelitian, jika beberapa hal di atas tersebut dilanggar, maka kandungan morfin bisa di ambang batas normal,” ujarnya.  

Kresno juga menekankan pentingnya deteksi dini pada autis. Kadang anak-anak autis memiliki kecerdasan kognitif yang melebihi anak biasa tetapi dia kurang memiliki rasa empati. Tanggapannya tentang dunia pendidikan di sekolah sebaiknya anak autis mempunyai catatan standar kompetensi yang sama, selain memahami program yang dijamin oleh dinas pendidikan setempat. “Dengan nilai yang sama di beberapa sekolah ini perlu diterapkan karena ada undang-undangnya dan sesuai permendikbud sebab subjek didik adalah anak,”ungkap penulis buku Autism is Curable ini.

Sementara itu ditemui oleh beberapa awak media di tempat yang sama, Hasto Daryanto, Kepala PLA mengatakan bahwa pihaknya mengikutkan semua elemen di PLA sebab mereka berhadapan langsung dengan anak autis. Ditanya tentang jumlah anak autis yang menjalani terapi gratis di PLA saat ini berjumlah 48 anak, 10% berasal dari luar kota Solo dan 38 anak masih dalam daftar tunggu. Setiap anak wajib melalui berbagai proses antara lain  assesment yang tujuannya untuk mengkatagorikan autis berat atau ringan. Pelatihan yang anggarannya diambil dari APBD II ini bertujuan sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat melalui pemberitaan oleh media.

PLA Solo mengagendakan homevisit setiap hari Jumat. Pada sesi terakhir pelatihan di hari Kamis nanti rencananya para peserta bersama fasilitator dan narasumber diajak berkunjung ke PLA untuk bertemu dengan para siswa dan orangtua mereka. Anak-anak tersebut menjalani terapi selama delapan bulan, yang dianggarkan dengan biaya terapi per anak adalah 32 juta per anak. “Karena ada mutasi di dinas, tiga bulan pertama yang kami lakukan adalah membangun sistem dahulu lalu mendidik terapis dan dikuatkan yang sudah ada,” pungkas Hasto Daryanto.

The subscriber's email address.