Lompat ke isi utama
Cerita Tentang Dina, Anak Difabel dari Desa Keningar

Cerita Tentang Dina, Anak Difabel dari Desa Keningar

Solider.or.id, Magelang-Awal mulaa saya bertemu dengan Dina adalah saat anak-anak Dusun Banaran Desa Keningar Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang yang tergabung dalam Sanggar Lare Joyo Mukti dan berafiliasi dengan komunitas Guyub Bocah menyelenggarakan acara pengajian jelang bulan Ramadan 2017 lalu. Di rumah Pak Sumadi yang terletak di dusun yang sama, pada sebidang ruang yang terletak di bagian depan difungsikan sebagai perpustakaan bagi anak-anak sanggar yang terdiri dari SD dan SMP.  

Ada yang menarik perhatian saya jelang usai acara. Dari sekira 30-an anak yang mengikuti pengajian sore itu, ada salah satu  anak difabel cerebral palsy. Dina namanya. Dina sebelumnya jarang berinteraksi di perpustakaan sanggar. Setelah bercakap-cakap dengan Dina dan beberapa temannya,  terungkaplah siapa yang mengajaknya untuk datang ke pengajian. Kalinda, salah seorang yang sejak awal sangat aktif di sanggar. Kalindalah yang mengajak Dina dengan menjemput ke rumahnya yang berjarak tidak lebih 300 meter lalu menggandeng tangan Dina hingga sampai perpustakaan sanggar. Pun saat kepulangan nanti, Kalianda telah siap mendampingi Dina. Dina adalah siswa kelas empat di SD Negeri Keningar 1. Ia adalah satu-satunya siswa difabel di sekolah tersebut.

Suatu Hari, Saat Tinggal di Rumah Dina

Pada kesempatan berikutnya sekira sebulan kemudian, secara tidak sengaja saya memiliki peluang  untuk lebih mengenal Dina dan keluarganya. Kesempatan datang saat ada pelatihan Training of Trainer (ToT) tentang optimasi gerakan pemenuhan hak anak bagi penggerak lokal yang menjadi fasilitator sebaya. Oleh panitia dari komunitas Guyub Bocah, para peserta wajib ‘live-in’ atau tinggal bersama penduduk setempat, yakni warga Desa Keningar.

Setelah dibagi dalam beberapa kelompok, dan setiap kelompok terdiri dua sampai tiga orang, maka saya bersama dengan seorang relawan, Vida namanya, mendapat kesempatan tinggal selama semalam di rumah Pak Purwanto dan Ibu Kistatik, orangtua Dina. Malam itu beberapa jam waktu saya habiskan dengan bercakap-cakap diselingi sendau gurau bersama Ibu Kistatik dengan sesekali Dina bergabung. Obrolan berlanjut hingga pagi hari. Di saat itu pula Dina dengan malu-malu, mengemukakan apa yang menjadi kegiatannya sehari-hari. Dengan fasih Dina bercerita jika dia rajin belajar mengaji di TPA masjid setempat. Apa yang Dina katakan tersebut dibenarkan oleh sang Ayah. “Saya yang mengantarkan sampai TPA, kemudian menjemputnya. Ada ketidakseimbangan tubuh Dina saat berjalan. Dina tidak pernah terlambat datang. Dia selalu rajin. Bahkan ketika datang waktu shalat pun Dina selalu tepat bersembahyang,” Pak Purwanto yang sehari-hari bekerja sebagai petani tersebut berujar.

Sementara pagi terus beranjak, Ibu Kis berkisah tentang masa kecil Dina. “Jadi Dina dulu pernah mengalami sakit panas lalu kejadian berikutnya dia ada keterlambatan perkembangan sistem syarafnya. Kami sudah berusaha untuk memberikan Dina terapi. Kami tak pernah bosan. Dina lancar berbicara, hanya saja dia mengalami ketidakseimbangan gerakan. Jika dibiarkan makan sendiri, maka akan selesai sangat lama, dan terkadang banyak yang terbuang karena makanan terjatuh. Kami sering menyuapinya. Supaya banyak asupan yang masuk ke mulut. Selebihnya, Dina seperti anak yang lain, hanya saja dia masih digandeng saat berjalan,” tutur Ibu Kis.

Tak hanya cerita gembira yang dibagi oleh Ibu Kis, namun kisah sedih yang menggurat rasa kecewa saya.  Dina sampai saat ini jarang turut bermain bersama teman-teman sebayanya di desa. “Dina dulu pernah diolok-olok kawannya karena kondisi berbeda yang ia alami,  mungkin dia mengalami trauma. Sekarang kalau saya minta untuk bermain bersama teman-temannya, dia menolak,”ungkap Ibu Kis.

Ibu Kis juga mengemukakan bahwa dia tidak mengalami kesulitan ketika memasukkan Dina bersekolah di SD N Keningar 1. Tahun ajaran baru 2017 ini, Dina naik kelas lima. Guru-gurunya baik kepada Dina. Mereka semua ngemong dan dapat diajak bekerja sama demi kebaikannya di sekolah. Dina tidak pernah ada masalah di sekolah,” ujar Ibu Kis di medio bulan Ramadan lalu.

Di kesempatan itu pula saya mengajak Dina dan ibunya agar turut serta kegiatan Sanggar Lare Joyo Mukti baik di Desa Keningar sendiri maupun di luar desa seperti anjangsana. Ibu Kis mendukung sambil berkata,”Jika Dina mau, saya pasti mau juga dan mendorong supaya dia juga bisa mempunyai teman,” pungkas Ibu Kis yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga dan berternak kambing dan sapi sambil sesekali berkebun.

The subscriber's email address.