Lompat ke isi utama
Nuryanto, Kader Difabel Desa, Program Rintisan Desa Inklusi

Menyoal SDGs, Rintisan Desa Inklusi Jadi Contoh

Solider.or.id, Yogyakarta- Program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) di bawah Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menjadi salah satu contoh solusi alternatif pembangunan inklusi di wilayah akar rumput. Hal tersebut dikatakan oleh Risnawati Utami, Ketua Konsorsiun Nasional untuk Hak Difabel (Konas Difabel) di Pusat Rehabilitasi Yakkum, Sabtu (13/2) lalu. Risna menuturkan, proses-proses yang dilakukan program Rindi seperti bergaining antara masyarakat dengan pemerintah, sampai tersedianya ruang untuk kesempatan bicara, adalah sebuah bentuk transformasi dari lokal untuk nasional.

“Di sana juga menjadi kesempatan kita untuk melakukan pengorganisasian,” ungkap pemateri Workshop “Mewujudkan Pembangunan Inklusif melalui Penguatan Partisipasi Masyarakat Sipil” kala itu. Risna berharap, dari 81.253 jumlah total wilayah administrasi setingkat desa dan kelurahan ikut menerapkan konsep Rindi. Desa-desa di Indonesia kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan konsep lainnya.

“Seperti konsep Sustainable Development Goals (SDGs) yang Inklusif, keberlanjutan, ketimpangan, aksesibilitas, dan lainnya. Agar desa itu bisa mengakomodir kebutuhan warganya," tambah Risna. Nuryanto salah satu kader Rindi mengatakan, prosesnya menjalankan program-proghram selama ini tidak terlepas dari kuatnya koordinasi antara kader. Selain itu, peningkatan kompetensi kader dan penggodogan konsep Rindi yang matang di setiap sektor. “Semua itu untuk mendorong pembangunan desa yang inklusi,” ucapnya.[Andy R]

The subscriber's email address.