Lompat ke isi utama
Komunitas Difabel berkumpul di Balaikota Semarang

Peringatan HDI Semarang, Masih Ada Stigma Negatif dan Bullying

Solider.or.id, Semarang- Komunitas Sahabat Difabel Semarang merayakan Hari Difabel Internasional dengan mengumpulkan beberapa komunitas difabel pada Rabu Malam (2/12) di Pendopo Balaikota, Jalan Pemuda No.48. Di antara komunitas yang berkumpul adalah Gerakan Kesejahteraan untuk Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Ikatan tunanetra Muslim Indonesia (ITMI), dan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).

 Acara yang didukung oleh Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga (Dinsospora) ini mengapresiasi kegiatan dan berbagi permasalahan difabel. Kegiatan berbagi dan berdiskusi ini juga diikuti oleh guru sekolah luar biasa (SLB) dan orangtua difabel. Dalam perbincangan dibahas pula masalah-masalah yang masih dihadapi terkait dengan kurang aksesnya sarana disekitar dan lingkungan.

Stigma dan Bullying

Mewakili Pertuni, Agusri, mahasiswa sastra Inggris Universitas Dian Nuswantoro, Semarang menyampaikan keluhan bahwa saat ini masih saja terjadi bullying yang dirasakan dan dialaminya.  Tak ketinggalan dari ITMI dan Formas (Forum Masyarakat Masir) yang berpusat di Gunungpati, mereka mengeluhkan banyaknya jalan yang tidak bisa diakses sama sekali oleh difabel netra. Tak hanya bergelombang, namun sama sekali tidak ada pedestrian.

 Aziz, perwakilan dari Gerkatin, mempertanyakan mengapa pihak kepolisian tidak memberi fasilitas kemudahan untuk mereka, difabel rungu wicara agar merasa nyaman saat berkendara. Mereka, para difabel rungu wicara terkesan dipersulit untuk mengurus keperluan membuat surat izin mengemudi (SIM).

Ketua panitia kegiatan, Stevanus Ming dari Komunitas Sahabat Difabel Semarang diwakili Noviana Dibyantari mengatakan bahwa apa yang sudah didapat dari hasil bincang-bincang malam itu akan disusun sebagai bahan acuan. (Riyanti)

The subscriber's email address.