Lompat ke isi utama
Paralympian sedang berlatih menembak.

Jelang Asean Para Games, Olahraga Tembak Akui Siap 50 Persen

Solider.or.id, Surakarta “Baru 50 persen untuk kemampuan mereka. Belum full,” terang Saridi, pelatih cabang olahraga tembak kepada solider di tengah jadwal scoring di Stadion Manahan, Solo (29/5). “Jadi seminggu latihan, hasilnya apa di sini,” tambah Saridi yang juga merupakan atletik cabor tembak pada Pekan Olahraga Nasional (PON)  mendatang mengenai kegiatan scoring.

Jelang kejuaraan Asean Para Games di Singapura pada bulan Desember 2015 mendatang, cabang olahraga tembak melakukan Pelatihan Nasional (pelatnas)  setiap hari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 13.30 WIB sampai 18.00 WIB di Stadion Manahan, Solo, Saridi belum berani menargetkan hasil yang ingin dicapai. Dia hanya berharap paralympian (sebutan untuk atlet difabel-red) dapat maksimal saat berlatih.

Saridi menyayangkan paralympian belum menggunakan alat tembak pribadi. “Peralatan belum punya, itu milik saya semua,” jelas pria yang merupakan bagian dari grup 2 Komandan Pasukan Khusus (Kopassus). Saat ini, dirinya telah mengusahakan bantuan pengadaan perlengkapan pelatihan kepada Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan National Paralimpic Commite Indonesia.

Enjang Rusmin N. seorang difabel daksa, salah satu paralympian yang merupakan anggota Kopassus DKI Jakarta mengaku memerlukan penyesuaian terhadap alat tembak yang digunakan. “Ini, kan pake gas kalo kita, kan (Kopassus.red) peluru tajam,” jelasnya.  Selain Enjang, terdapat tiga paralympian lain pada cabor ini yang siap berlaga. Satu paralympian lainnya juga merupakan anggota Kopassus DKI Jakarta, sedangkan dua lainnya berasal dari Pemda (Pemerintah Daerah) Kota Medan dan Kabupaten Sragen.

Pada tahun ini, tembak kembali masuk sebagai cabang olahraga yang dilombakan setelah sebelumnya sempat vakum selama 12 tahun. (Amalina Niara)

The subscriber's email address.