Lompat ke isi utama

Disabilitas dan Pengetahuan Masyarakat Tentangnya

 

Bicara tentang disabilitas di Semarang, terrnyata istilah ini tak semua orang memahami apa arti yang sesungguhnya. Tak hanya masyarakat awam karena ternyata para difabel juga banyak yang tidak mengerti apa maksud istilah ini. 

Kurang pahamnya pengertian masyarakat tentang istilah disabilitas atau difabel ini bisa jadi karena masyarakat kurang peduli atau bahkan tidak mau mau ambil peduli atas apa yang terjadi pada rekan atau saudara difabel selama ini. Hal ini dengan mudah saya temui saat sedikit tanya jawab saya lalui dengan beberapa orang yang ada di sekitar kantor Gubernur Jawa tengah.

Memutar layanan masyarakat tentang pemahaman disabilitas yang saya dapat dari seorang teman aktivis maka berikut adalah beberapa opini masyarakat yang saya dapat tentang istilah disabilitas.

Mewakili dunia kesiswaan adalah Hasan, seorang siswa SMK Palebon kelas XI yang magang di biro Organisasi dan Kepegawaian ternyata mengaku sama sekali tidak tahu istilah disabilitas. Tapi Hasan mulia hati sehingga untuk menyebut penyandang disabilitas dengan istilah cacat dia tak rela hati.

“Saya tidak tahu arti disabilitas, tapi setelah mendengar layanan masyarakat tadi rasanya juga tidak sampai hati kalau mengatakan mereka cacat,”

Sependapat dengan temannya, Hasan, Nanda Eva menyatakan bahwa dia  juga tidak tahu menahu tentang istilah disabilitas sebelum dia mendengarkan iklan layanan masyarakat yang saya putarkan.

Dari seorang tenaga kebersihan, Istirochah (42 tahun) di Perpustakaan Sekretariat Daerah Jawa Tengah yang telah mendengar iklan layanan yang saya putarkan dia menyatakan bahwa apa yang di berikan Allah swt sudah sepatutnya kita syukuri saat melihat ada orang lain yang punya banyak kekurangan dan tak sepantasnya orang menilai orang lain dari penampilan fisik semata.

Meri, Sh (48 tahun) staff biro hukum Sekretariat Jawa Tengah, “Saya tahu dan pernah dengar istilah disabilitas, tapi kurang tahu artinya apa….”

Alip Winarto (45 tahun) ketua Komunitas Motor Penyandang Cacat (KOMPAC) Semarang “Anggota Kompac banyak yang tidak tahu kata disabilitas, hanya paham tentang kata cacat”

Menyikapi kurang pahamnya masyarakat akan istilah disabilitas lalu saya coba bertanya pada orang yang biasa berkecimpung dalam olah produk Hukum,  Agus Nugroho Adi Prasetyo, Sh, Mh staff biro hukum Setda Jawa Tengah. 

“Biro hukum hanya selaku pembuat perda, sementara untuk sosialisasi dan pelaksanaannya di serahkan pada dinas-dinas yang terkait. Bila dalam satu tahun hanya membuat produk hukum (perda) sedikit maka sosialisasi perda akan dilakukan saat itu juga. Namun bila ternyata produk hukum yang harus dibuat saat itu banyak maka dengan terpaksa akan dipilih perda dari produk hukum tertentu yang akan di sosialisaskan," tuturnya dalam wawancara.

"Dalam masalah disabilitas tentu Dinas Sosial lebih berkompeten selaku pihak yang berwenang, selain karena adanya dukungan dana yang telah dianggarkan juga agar Perda yang telah dibuat lebih berfungsi dan berdaya guna di masyarakat. Tidak ideal rasanya kalau perda dibuat tidak untuk ditindaklanjuti pun tidak disosialisasi. Bagaimana mungkin masyarakat akan bisa mengerti tanpa adanya sosialisasi?” pungkas Agus.(Yanti)

The subscriber's email address.