Lompat ke isi utama
Agus Fitriadi, Atlet Difabel Amputi Ukir Prestasi

Agus Fitriadi, Atlet Difabel Amputi Ukir Prestasi

Solider.or.id, Surakarta-Menggunakan kursi roda sumbangan dari seorang atlet difabel asal Taiwan pada tahun 2006, Agus Fitriadi, salah seorang dari empat atlet tenis lapangan yang saat ini menjalani pemusatan latihan di lapangan tenis GOR Manahan untuk Asian Paragames di Korea Oktober mendatang diwawancarai oleh Solider, Jumat (22/8/2014).

 Bagi anak kelima dari enam bersaudara kelahiran Jakarta , 10 Agustus 1985 tersebut, olah raga tenis lapangan yang telah menjadi profesinya  telah mendarah daging dan bisa sebagai nafkah untuk menghidupi istri dan seorang anaknya.  “Istri saya seorang difabel paraplegia dan bekerja sebagai karyawan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Saya ingin anak saya menjadi anak yang kuat, pintar, baik hati dan peduli kepada sesama terutama penyandang difabilitas seperti ayah dan ibunya,”ujar Agus Fitriadi.

Bangkit dari Keterpurukan Setelah Kecelakaan Kereta Api

Pada tahun 2000 saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP, Agus Fitriadi mengalami kecelakan kereta api sehingga harus mengalami amputasi. Selama 1,5 tahun setelahnya dia mengalami keterpurukan dengan tidak melanjutkan sekolah dan hanya berdiam diri di rumah. Berangsur-angsur dia bangkit lalu pada tahun 2004 mulai dikenalkan oleh tetangganya, seorang atlet difabel dengan olah raga tenis lapangan kursi roda. Pada tahun 2005 Agus Fitriadi sudah berlaga di ASEAN Paragames dan mendapat penghargaan dua medali perunggu untuk ganda dan beregu.

Tahun 2008 Agus Fitriadi  berjaya di Porcanas dengan meraih dua medali emas dan dua medali perak. Pada Asean Paragames di Malaysia tahun 2009, Agus meraih satu perak dan satu perunggu. Prestasi terakhir tahun 2012 di Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) Riau Agus menyumbang satu medali emas dan tiga perunggu untuk provinsi Riau yang diwakilinya waktu itu. Saat ini suami dari Dera Maya Sophi ini tercatat sebagai atlet difabel National Paralympic Commitee (NPC) provinsi Kalimantan Timur.   

“Saya hanya fokus pada olah raga tenis lapangan. Ke depan ingin mengambil kejar paket C dan bisa berkuliah. Saya sering mengakses berita-berita termutakhir tentang difabilitas. Harapan saya, para difabel yang berprofesi sebagai atlet mohon negara lebih memperhatikan dan menyejahterakan,”pungkas Agus yang terkadang selain berkursi roda juga mengenakan alat bantu protese untuk mobilitasnya. 

The subscriber's email address.