Lompat ke isi utama
Workshop bersama warga

Pengarusutamaan Difabilitas Sentuh Gerakan Akar Rumput

Solider.or.id, Yogyakarta-Kamis (16/1), Organisasi Difabel Mlati (ODM) mengadakan Workshop Penguatan Partisipasi Difabel Dalam Proses Pembangunan Desa Inklusi di Aula Kelurahan Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Workshop ini merupakan kelanjutan dari Acara temu warga untuk mensosialisasikan isu difabilitas tanggal 13 Januari lalu.

Doddy, selaku ketua Panitia Workshop mengungkapkan bahwa workshop ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi sejauh mana perangkat desa serta masyarakat melibatkan difabel dalam program program dusun. Lebih jauh lagi, menilik dari acara temu warga Senin silam, Doddy ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang isu difabilitas.

“Kita mulai sosialisasi dari lingkup yang paling kecil dulu, ketika kita ingin membawa isu disabilitas ditingkat nasional, setidaknya kita perlu member pemahaman dulu ke orang di sekeliling kita, tetangga kita. Mereka juga perlu tahu, karena pada dasarnya implementasi aksesibilitas, kesetaraan itu ya di tataran grass root seperti ini,” tutur Doddy saat ditemui di akhir acara.

Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan difabel serta orang tua difabel yang menetap di sekitar desa Sendangadi. Dalam acara ini ditemukan bahwa posisi mereka seringkali masih dianggap tak berdaya dan lemah. Ngadiman, selaku Bagian Pemerintah Kelurahan menuturkan bahwa ketika ia akan melibatkan difabel dalam sebuah acara, stigma bahwa difabel adalah orang yang lemah masih melekat di benak masyarakat. Ia pun mengamini bahwa ada perasaan iba terhadap difabel. Sehingga, ia tak banyak melibatkan difabel dalam program desa.

Doddy dalam sela-sela acara menuturkan, bahwa pertemuan ini kemudian diharapkan menjadi jalur mediasi agar aktivis difabel, dalam hal ini DPO mampu bekerja sama langsung dengan pemerintah desa untuk menciptakan desa inklusi. “Harapannya, ke depan difabel juga banyak dilibatkan dalam banyak kegiatan masyarakat. Pada dasarnya, setidaknya mereka mampu menggap keberadaan dan eksistensi difabel,” pungkas Doddy.

Perlu Integrasi Aparat dan Masyarakat

Acara ini juga dihadiri oleh Ngatijan, selaku kepala Badan Pengawasan Desa (BDP) Desa Sendangadi. Ia menuturkan acara ini merupakan upaya untuk dapat menyatukan apa yang diinginkan oleh masyarakat mampu didengarkan langsung oleh pemerintahan desa.

Ngatijan menuturkan bahwa isu disabilitas perlu dibawa ke tataran masyarakat lingkup mikro seperti ini, karena ia memandang bahwa isu difabilitas belum menjadi isu prioritas. Sehingga, program, kebijakan produk pemerintah desa masih belum menyentuh warga difabel.“Perlu adanya ketemu antara difabel dengan pemerintah desa, agar bisa tercipta peraturan, produk hukum yang mampu melingkupi difabel. Jadi bisa ketemu, apa aja yang dibutuhkan oleh difabel,” papar pria pensiunan Pemda Sleman ini.

Ia juga menambahkan, setelah UU Desa disahkan 2013 silam, ini merupakan kesempatan baik untuk bisa mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Karena, masyarakat mampu terlibat aktif dalam persoalan anggaran serta program apa yang cocok untuk dilaksanakan di desa tersebut.

Nah, UU Desa kan sudah disahkan, kita tinggal menunggu implementasinya saja, nanti BPD, Pemerintah Desa, serta masyarakat pada umumnya mampu duduk bersama untuk membahas anggaran yang turun langsung ke masyarakat ini akan dipergunakan untuk apa saja, plotnya kemana, jadi lebih jelas,” papar Ngatijan yang ditemui di akhir acara.

Ia juga menambahkan, agar mampu menjalankan fungsinya dengan baik, dan seluruh difabel mampu merasakan manfaat pencatatan dan identifikasi warga difabel penting dilakukan.“Identifikasi dan pendataan difabel itu penting. Biar jelas jumlah, dan kebutuhannya apa saja,” imbuhnya.

BPD merupakan lembaga yang setara dengan pemerintah desa, BPD juga menjalankan fungsi hampir sama dengan lembaga legeslatif yang berada di pusat. BPD berperan dalam system pengawasan kinerja pemerintah eksekutif desa serta memegang posisi sebagai check and balance dalam pemerintahan. “Nah, nantinya masyarakat juga bisa menyalurkan aspirasinya melalui kami, musyawarah setingkat desa akan sering diadakan di tahun 2014 ini,” pungkas Ngatijan.

The subscriber's email address.