Lompat ke isi utama
Seorang difabel netra sedang mengakses komputer dengan bantuan headset untuk membaca layar.

Difabel dan Keterbatasan Akses Teknologi

Menurut survei kependudukan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi penduduk difabel mencapai 0,7% dari total penduduk Indonesia, yakni sebesar 1,48 juta jiwa. Sebagian besar difabel mengalami kesulitan beraktivitas karena sarana  dan prasarana yang ada di lingkungan sekitar tidak aksesibel. Hal ini menyebabkan difabel tidak maksimal untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki.

 Adanya teknologi yang semakin lama semakin canggih sudah cukup membantu difabel dalam berinteraksi dengan dunia sekitar. Contohnya, teknologi bionik kaki dan tangan robotik, juga smartphone yang memiliki screen reader untuk para difabel netra. Ponsel pintar memudahkan difabel netra mendapatkan informasi dengan mendengarkan tulisan-tulisan yang tertera di layar.

Teknologi yang sama digunakan pada laptop dan komputer personal, teknologi inilah yang memungkinkan difabel penglihatan untuk membaca buku digital, menulis blog personal, mengetik tulisan, mencari informasi via internet, bahkaan ber-facebook dan skype ria bersama teman-temannya.  Difabel rungu juga dapat mengakses teknologi alat bantu dengar (hearing aid). Teknologi kursi roda yang semakin lama semakin canggih dan ringan juga memudahkan mobiltas difabel. Serta berbagai teknologi yang disesuaikan untuk kebutuhan masyarakat dengan disabilitas.

Sayangnya, tidak semua difabel dapat menikmati teknologi yang memudahkan ini. Permasalahan klasik tentu seputar biaya, tidak dipungkiri bahwa dana yang harus dikeluarkan oleh difabel untuk dapat menikmati teknologi ini dapat dibilang cukup besar. Untuk kursi roda saja, yang standar untuk digunakan difabel mencapai 1 hingga 4 jutaan. Smartphone yang paling mendukung screen reader saat ini adalah Iphone, harganya berkisar 4 jutaan. Belum lagi berbagai aksesoris pelengkap kebutuhan teknologi bagi difabel, tentu  harus ada cukup banyak dana yang  dikeluarkan oleh difabel untuk bisa memaksimalkan potensi diri yang dimilikinya.

Perhatian Bersama

Sudah saatnya kebutuhan difabel akan teknologi menjadi perhatian bersama. Negara sebagai penanggung jawab masyarakat difabel, tentu berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan akan teknologi, seperti yang terjadi di negara-negara lainnya. Tidak usah jauh-jauh ke negara maju, cukup melihat Malaysia saja. Pemerintah Malaysia memberikan subsidi yang cukup besar bagi difabel untuk membeli teknologi yang menjadi kebutuhan untuk aksesibelitasnya.

Selain itu, perlu juga dilakukan upaya-upaya untuk memproduksi dan mengembangkan teknologi ramah difabel di dalam negeri. Seperti upaya yang pernah dilakukan oleh mhasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu yang berhasil mengembangkan keyboard dan mouse untuk difabel yang tidak bisa menggunakan tangannya. Kerja sama antara bidang akademis dan industri bisnis dengan komunitas-komunitas difabel se-Indonesia juga perlu dilakukan untuk lebih memahami apa yang difabel butuhkan, penyesuaian apa yang cocok dengan mereka, serta hal-hal lainnya.

Difabel berharap adanya  lingkungan sekitar yang mendukung pengembangan teknologi untuk pemberdayaan penyandang disabilitas. Tentunya difabel akan sangat terbantu dengan adanya teknologi yang memudahkan kehidupan, terjangkau harganya dan mudah untuk diakses sesuai dengan kebutuhan.

The subscriber's email address.