Lompat ke isi utama
Foto Nesty Ayu Prady

Nesty Ayu Prady : Meski Tidak Dipercaya Mengajar, Saya Tetap Bercita-cita Jadi Guru TPA

Solider.or.id, Karanganyar- “Saya ingin menjadi guru TPA di masjid dekat rumah saya, tetapi tidak ada yang percaya kalau saya bisa mengaji Alquran dan mengajar. Meski begitu, saya tetap bercita-cita ingin jadi guru TPA,” ungkap Nesty. Nesty Ayu Prady nama lengkap yang dia utarakan saat Solider menemui di sela-sela kegiatannya menjaga stan produk kelompok difabel “Rukun Makmur” pada acara evaluasi pelaksanaan 10 program pokok PKK di Balai Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar, Jumat (25/8). Nesty duduk sebagai wakil ketua kelompok. Ia pernah mengalami kecelakaan jatuh dari sepeda motor saat duduk di bangku kelas 3 SD. Sebelumnya dia mengaku memiliki penyakit bawaan epilepsi, yang kemudian hari mengantarkannya bersekolah di SLB C YPALB Karanganyar hingga lulus SMA. “Guru saya bilang, saya difabel grahita,”jelas Nesty, anak kedua dari Nik Purwaningsih.

Sehari-hari Nesty berkegiatan membantu ibunya menjaga warung. “Saya ingin diikutkan jika ada pelatihan keterampilan untuk kelompok kami, karena saya belum pernah ikut,” jelas Nesty. Beberapa waktu lalu dia pernah bekerja pada sebuah pabrik benang namun bertahan hanya empat bulan saja. “Mulanya karena ikut-ikutan teman ya, jadi kami sama-sama bekerja di bagian kapas. Namun karena tidak betah dengan debu, teman saya tidak krasan (tidak betah), saya pun demikian. Saya tidak sanggup,” imbuhnya. Perempuan yatim yang ditinggal ayahnya sejak bayi ini memiliki hobi menari dan sering tampil saat masih bersekolah.

Respon Kepala Desa Terhadap Kelompok Difabel “Rukun Makmur”

Nesty dan kawan-kawannya di kelompok difabel “Rukun Makmur” yang terbentuk selama 1,5 tahun sekira dua bulan lalu datang ke balai desa untuk beraudiensi berlanjut dengan pelatihan perspektif difabilitas untuk perangkat desa dan tokoh masyarakat. “Saya sangat merespon dengan kegiatan difabel di desa suruh, Binti (Fasilitator dari PPRBM Solo) sebagai koordinator sangat mendukung kegiatan di Desa Suruh, respon khusus dalam arti tidak mengucilkan atau tidak mendiskriminasi,” jelas Ning Setyaningsih.”Ke depan kita mungkin akan berbicara tentang aksesibilitas sarana publik di desa, karena rencananya kami akan mengadakan pertemuan lagi,”imbuhnya.

Di tempat yang sama, Febri Sulastri, rekan Nesty di kepengurusan kelompok difabel ‘Rukun Makmur” mengatakan bahwa kegiatan kelompoknya fokus pada pemberdayaan perekonomian, bukan terapi untuk anak-anak difabel. Hal ini dibenarkan oleh Binti Syarifah, fasilitator PPRBM Solo untuk program CBM EU bahwa kelompok Desa Suruh sedikit angka untuk anak-anak difabel yang memerlukan terapi. Menurut database, ada 380 difabel se-Kecamatan Tasikmadu. Sedangkan di Desa Suruh tercatat  sebanyak 58 difabel perempuan, laki-laki dan anak-anak. “Beda ketika di Kecamatan lain seperti di Karaganyar, kami memfasilitasi pelatihan terapi anak-anak difabel,” jelas Binti Syarifah.

Belum adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Suruh bukan penghalang bagi Nesty dan kawan-kawannya untuk tetap berorganisasi dan berkreasi. Sebab ada janji dari perangkat desa, utamanya lurah, akan memberikan tempat berupa ruko sebagai wahana pamer produk makanan dan kerajinan. “Alurnya adalah kita membentuk BUMDes dahulu, lalu kelompok difabel “Rukun Makmur” kita akomodasi di situ. Saat ini kita munculkan dulu produtivitas teman-teman, dan sebagai ajang sosialisasi bahwa di Desa Suruh ini telah ada kelompok difabel. kedepan kelompok ini juga akan bekerja sama dengan Universitas Sahid untuk pelatihan,” jelas Aan H. Andriyanto, Sekdes Desa Suruh.

Ada harapan baru bagi Nesty, jika saja kelompoknya bisa bekerja sama dengan dinas terkait. Maka pelatihan terkait peningkatan mutu sebuah produksi dapat dilakukan. Sehingga produknya berupa makanan kering berwujud krippik serta produk makanan lainnya bisa bersaing dengan kelompok lainnya.

The subscriber's email address.