Lompat ke isi utama
greget umkm

Entaskan Difabel dari Ekslusivitas Sistem dan Cara Pandang

Solider.or.id.Yogyakarta. Difabel, sepanjang siklus hidupnya banyak eksklusivitas yang terjadi. Perlakuan eksklusif yang terjadi pada berbagai sektor kehidupan.  Dampak  perlakuan eksklusif tersebut memposisikan difabel sebagai orang yang tidak berdaya, bergantung dengan orang lain, tidak mandiri.

Konsep menumbuhkan ekonomi inklusif merupakan salah satu dari sekian banyak cara mengentaskan difabel dari eksklusivitas baik sistem maupun cara pandang. Hal tersebut harus diwujudnyatakan dalam sebuah tindakan  perubahan sistem, serta cara pandang terhadap produk karya difabel.

“Berikan kail, biar difabel memancing sendiri,” ungkap Direktur Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), Joni Yulianto pada sebuah talkshow bertajuk “Sukses dalam Keterbatasan.” Salah satu kegiatan pada peringatan Hari Nasional UMKM 2017 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Bussiness Develompment Services Indonesia (ABDSI), kerja bareng , CIS-PLUIT KUMKM, Dinas Koperasi UMKM DIY, dan SIGAB, di Gedung PLUT KUMKM DIY, Jalan HOS Cokroaminoto 162, Yogyakarta, Sabtu (12/8/2017).

Sebuah filosofi yang dimaknai, jika hendak menolong maka jangan langsung memberikan apa yang dia inginkan, melainkan memberikan bantuan yang bisa digunakan untuk berusaha sendiri. Dengan demikian diharapkan kemandirian masyarakat difabel akan terwujud.

Namun demikian hal tersebut tidaklah cukup. Sebab, hambatan umum masih sering kali dialami oleh kelompok pelaku usaha difabel. Yakni, stigma (pandangan negatif) terhadap produk-produk difabel oleh para pembeli di pasar umum. Hambatan atau problem yang harus dijawab secara sistematis.

Pertumbuhan ekonomi inklusif

Untuk itu perlu sistem ekonomi atau sistem bisnis yang dikelola dengan sehat. Sebuah sistem yang dapat mendorong pasar berkompetisi pada kualitas produk, bukan pada pembuat produk.  Dengan demikian pertumbuhan ekonomi inklusif bukan sekedar konsep belaka. Penguatan dunia usaha dengan mengembangkan jaringan, ide-ide bisnis, ide kreatif bersama juga perlu didorong, guna menguatkan konsep pertumbuhan ekonomi inklusif.

Pertumbuhan ekonomi yang inklusif merujuk pada suatu pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan kesempatan-kesempatan ekonomi yang sama bagi semua orang. Sehingga fokus pertumbuhan ekonomi inklusif terjadi pada penciptaan kesempatan-kesempatan ekonomi dan aksesnya bagi semua anggota masyarakat dari semua golongan, tidak peduli latar belakang, suku, agama, sosial dan ekonomi serta kedifabilitasan.

Dengan kata lain, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi  dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya pengentasan ketidak mampuan ekonomi dan pemerataan pembangunan (bagi semua), dilaksanakan secara berkelanjutan dan inklusif.

Pada kesempatan akhir talk show, Joni mengharapkan Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT KUMKM) dapat mewujudkan konseptual ekonomi inklusif dalam kenyataan. Sebagai sebuah wujud pengimplementasian Undang-undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, serta Peraturan Daerah (Perda) DIY No. 4 Tahun 2012, tentang pemenuhan dan perlindungan hak-hak penyandang disabilitas. (hnw).

 

The subscriber's email address.