Lompat ke isi utama

Rindi Tahap 2: Penguatan Kapasitas KDD dan Koordinasi di Level Kabupaten/Kota

Solider.or.id, Kulonprogo. Program Rintisan Desa Inklusi (Rindi) yang diagendakan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab) tengah menginjak tahap kedua untuk mendampingi dan mengawal jalannya program yang kelak diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa yang lain. Di dalam tahap kedua ini, program Rindi difokuskan pada penguatan kapasitas Kelompok Difabel Desa (KDD) dan berkoordinasi di level Kabupaten/Kota.

Hal itu diucapkan Rohmanu Solikhin koordinator program dalam acara koordinasi Rindi tahap dua di aula Kecamatan Lendah, Kulonprogo pada Kamis siang (20/7). “Pertemuan awal ini untuk mensosialisasikan bagaimana tahapan Rindi kedepan. Serta persiapan apa yang perlu dilakukan,” ucapnya usai acara.

Rohmanu menjelaskan, di tahap pertama Rindi telah mencapai beberapa indikator desa inklusi dari delapan indikator yang sudah ditetapkan seperti pemahaman awal tentang difabel, pendataan, partisipasi difabel, pembentukan organisasi difabel di desa, dan lain sebagainya.

Sedangkan di tahap kedua, fokus program kepada penguatan kapasitas KDD yakni untuk memberikan kesiapan lebih matang kepada kader desa. Kesiapan tersebut berupa modal pengetahuan tentang bagaimana memanajemen organisasi. “Diharapkan setelah itu, kader desa mampu untuk memecahkan sebuah masalah dalam organisasi itu sendiri. sehingga mandiri,” lanjut Rohmanu.

Selain itu, KDD juga diharapkan mampu berkoordinasi di level Kabupaten/Kota. Fokus program Rindi tahap kedua tersebut untuk mengawal serta mengupayakan regulasi yang benar-benar berpihak kepada difabel. “Jadi bagaimana meyakinkan pihak pemerintah Kabupaten melalui audiensi-audiensi yang akan digelar setelahnya,” tandas Rohmanu.

Slamet Riyadi salah satu kader desa Ngentakrejo mengamini hal tersebut. Pasalnya, ia merasa program Rindi tahap pertama belum selesai, terutama di wilayah kapasitas masing-masing kader. “Semisal dalam persoalan mandeknya Sistem Informasi Desa (SID). Kader masih kebingungan, karena masih minim baik pemahaman bagaimana mengoperasikan ataupun SDM,” terangnya.

Slamet beraharap adanya Rindi, selain untuk mengembangkan kapasitas kader dan mampu berkoordinasi dengan level pemerintah, juga mampu mempererat dan menumbuhkan semangat para kader dalam membangun desa inklusi. “Karena tanpa semangat dan kedekatan masing-masing kader akan jadi penghambat jalannya usaha,” tuturnya.[Robandi]

The subscriber's email address.