Lompat ke isi utama

Merumuskan Sistem Program KKN bagi Mahasiswa Difabel

Solider.or.id, Yogyakarta. Memasuki pertengahan 2017, UIN Sunan Kalijaga melaksanakan kembali program tahunan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa difabel yang sudah menginjak semester enam keatas. Namun bagi beberapa mahasiswa difabel pelaksanaan KKN sering mendapati kendala karena belum adanya sistem yang inklusif. Hal tersebut yang menginisiasi Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga  Yogyakarta mengadakan Forum Group Discusion untuk merumuskan sistem KKN yang mampu menjawab hambatan serta mengakomodasi kebutuhan mahasiswa difabel.

PLD melalui Arif Maftuhin dalam sambutan menjelaskan acara tersebut untuk menjaring berbagai pendapat ataupun cerita dari mahaiswa difabel, orang tua wali, dan para mahaiswa difabel lainnya yang sudah memiliki pengalaman mengikuti KKN. "Hasilnya akan dirumuskan serta direkomendasikan kepada pihak LPPM selaku penyelenggara program KKN," ujar ketua PLD dalam pembukaan acara yang bertempat di Ruang Interactive Center Fakultas Ilmu Humaniora UIN Sunan Kalijaga  pada Jumat siang (9/6).

Pada KKN periode tahun ini,  jumlah sementara mahasiswa difabel yang mendaftar sekira lima orang. Setiap mahasiswa difabel diberikan kesempatan untuk memilih lokasi KKN yang sesuai dengan akomodasi, seperti geografis untuk mahasiswa difabel daksa pengguna kursi roda. "Dari tahun lalu sudah kami atur seperti itu. Namun memang perlu tambahan masukan lainnya," kata Abdul Mughits kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) kepada Solider usai acara.

Tris Munandzar ketua Forus Sahabat Inklusi (Forsi) mengatakan kebijakan pemilihan tempat KKN tidak menjamin kenyamanan dan keamanan bagi mahasiswa difabel yang mengikuti KKN. Dari beberapa tuturan teman-teman difabel, masih banyak yang perlu dimasukkan kedalam sistem KKN yang lebih inklusif. "Seperti misalnya, aksesibilitas, sosialisasi di pembekalan mahasiswa KKN dan masyarakat desa KKN, pendampingan, dan lainnya," pungkas Nandzar, sapaan akrabnya.

Nandzar berharap dengan diadakannya acara ini, dapat merumuskan sistem KKN yang lebih inklusif yang tentu berdampak baik bagi mahasiswa difabel yang menjalankan program KKN. "Setidaknya memberikan penguatan mentalitas dan persiapan yang lebih matang," tambahnya.[Robandi]

The subscriber's email address.