Lompat ke isi utama

Membalik Stigma Negatif pada Difabel Melalui Konser Kepedulian

Solider.or.id, Yogyakarta. Fenomena stigmatisasi negatif yang menempatkan difabel sebagai objek belas kasih dan kepedulian dalam pemahaman masyarakat masih sering dijumpai dalam kehidupan sosial. Tio Tegar Wicaksono bercerita salah satu contoh stigmatisasi terhadap difabel yang pernah dialami teman kampusnya ketika sedang dalam perjalanan menuju kampus, tetiba ada orang mendekati dan memberikan uang recehan. “Sampai di kampus teman saya cerita, kalau ia dikira seorang pengemis,” kisahnya “teman saya itu bertanya, ‘apa penampilanku belum seperti anak kuliahan?” lanjutnya kepada Solider sebelum acara Braille’iant Indonesia Charity Concert 2017 di Taman Kuliner, Condongcatur pada Sabtu sore (10/6).

Stigmatisasi yang masih tertancap dalam pemahaman masyarakat tersebut yang kemudian menginisiasi Tegar-sapaan akrabnya bersama komuitas Braille’iant Indonesia menggelar konser kepedualian. Tujuannya jelas kata Tegar, selain untuk mengkampanyekan isu difabel juga untuk membalik stigma negatif bahwa difabel mampu menjadi subjek di masyarakat. Mengajak masyarakat untuk berpikir ulang dalam memandang bahwa difabel juga bisa menjadi subyek yang sama memiliki rasa peduli terhadap sesama. “Difabel juga mampu berbagi, mendonasikan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan sosial,” pungkasnya.

Tegar mengatakan hasil dari konser kepedulian yang diselenggarakan akan didonasikan kepada Mbah Wadi seorang tua berusia 75 tahun penjual makanan burger keliling yang menurutnya sangat menginspirasi. Ia menagatakan jika selama ini difabel terus-terusan dianggap sebagai objek yang menginspriasi, sejatinya bahwa seorang difabel juga memiliki rasa empati dan inspirasi terhadap suseatu yang dianggap luar biasa seperti Mbah Wadi. “Mbah Wadi menginspirasi kami, beliau sudah tua tapi tetap mau dan mampu untuk terus bertahan dan berusaha,” ujarnya.

Selain itu donasi juga diberikan kepada Komunitas Buku Bagi Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah komunitas yang menjadi wadah bagi semua orang yang ingin mendonasikan buku-buku untuk anak-anak di NTT. Donasi berupa buku tersebut diharapkan dapat didistribusikan di perpustakaan yang sedang dikembangkan di NTT guna menambah wawasan dan pendidikan yang setara bagi anak-anak di NTT. “Itu semua sebagai bentuk kepedulian kami sebagai sesama yang mampu berbagi,” lanjut Tegar, ketua seksi acara konser kepedulian Braille’iant Indonesia.

Rangkaian acara tersebut diisi oleh berbagai penampil yang sudah memiliki prestasi seperti Puserbumi Perkusi yang tampil di Thailand pada acara Disability Inclusive Drum Performance, Nisma Putri seorang difabel netra yang meraih juara pada kompetisi Indonesian Got Talent 2014, 5 Star Band dari Mardi Wuto, dan Intuisi Band. Acara ini juga mengundang 20 komunitas di Yogyakarta.

Unu De Bone perwakilan dari Komunitas Buku NTT mengapresiasi adanya konser kepedulian komunitas Braille’iant Indonesia. Terjalinnya komunikasi antar komunitas memberikan dukungan terhadap masing-masing untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Baginya, acara tersebut sangat menginspirasi untuk bisa dicontoh di wilayah NTT. Ia berharap Braille’iant tidak berhenti untuk terus mendobrak stigma negatif yang diletakkan pada difabel. “Tentu tidak cukup hanya sekali. Karena untuk mengubah stigma, harus terus menerus melakukan pengulangan-pengulangan dengan ragam cara sampai menajdi kebiasaan,” katanya.

Hal senada juga diakui Rina Chaeri dari Komunitas Teater Wanita Ngunandika yang hadir dalam acara. Ia sangat mengapresiasi upaya yang dialkukan para pemuda di komunitas Braille’iant Indonesia utnuk terus mendobrak apa yang selama ini masyarakat yakini. Menurutnya Braille’iant sebagai komunitas telah berhasil menyampaikan pesan bahwa, difabel bisa bermain musik, membuat band, membuat komunitas, berbagi dengan sesama yang bagi orang nondifabelpun belum tentu bisa melakukan seperti itu. “Saya berharap pemerintah harus menyediakan ruang partisipasi bagi mereka dalam agenda-agenda kebudayaan dengan tentu pemahaman setara sehingga menciptakan kebudayaan yang inklusif,” tuturnya, usai acara.[Robandi]

The subscriber's email address.