Lompat ke isi utama

Dua Siswa Difabel Laksanakan Wisuda di Olifant School

“Setiap anak adalah unik dengan karakteristiknya masing-masing, setiap anak dapat menjadi bintang dengan keistimewaan masing-masing.”Merupakan salah satu ruh yang dibangun di Olifant School, sebuah sekolah multi kultur beralamat di Jl. Cendrawasih, Demangan Baru, Yogyakarta.

Solider.or.id.Yogyakarta. Olifant School, menyelenggarakan wisuda anak-anak didiknya yang lulus dari playgroup (taman bermain) dan grade 6 elementary class (kelas 6 tingkat SD) pada Kamis (8/6) di CGV Blitz Hartono Mall, Yogyakarta. Olifant Graduation 2017 dengan tema “The Stars in You” mengajak anak-anak memghargai keistimewaan dalam diri mereka masing-masing. Melihat lebih dalam keistimewaan karakter diri atau pahlawan yang menjadi inspirasi mereka.

Pelaksanaan wisuda dimulai pukul 13:30 -17:00 WIB, dihadiri 20 wisudawan jenjang playgroupdan 25 jenjang elementary school, dengan didampingi kedua orang tua mereka. Dua wisudawan merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK), yakni Down Syndrome di jenjang play group, dan autis di jenjang elementary school. Tiga pokok acara menjadi agenda kegiatan, yakni, wisuda, pemutaran perdana film “The Olifant Journey”, serta pesta kostum pahlawan.

Perspektif Inklusivitas

Olifant percaya setiap anak dapat menjadi bintang dengan keistimewaan masing-masing. Perspektif inklusivitas dibangun dalam tiap-tiap kelas di Olifant School. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Olifant School, Deasy Andriani.

Dia berharap anak-anak mampu mengambil keistimewaan tersebut sebagai inspirasi dan motivasi untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. “Setiap anak adalah bintang yang menyinari sekitarnya,” ujar Deasy Andriani dalam rilis kepada Solider, Rabu (7/6/2017).

Tidak hanya menjadi bintang, kata Deasy namun anak-anak juga mampu menjadi pahlawan bagi sekitarnya dengan kemampuannya masing-masing. Konsep tersebut ditanamkan dalam pendidikan keseharian demikian pula ditekankan pada acara wisuda yang diambil sebagai tema The Stars In You.

Semua berhak sama

Adapun menurut Kinanti Paramesti yang disapa dengan Ms. Keke, seorang guru kelas anak usia 1 – 3 tahun mengatakan, “Setiap anak yang ingin mendapatkan pendidikan jangan disangkal, mereka harus diberikan kesempatan. Semua memiliki hak yang sama,” ujarnya pada Solider, Kamis (8/6)..

Hal tersebut diterapkan di Olifant School, kata dia. Keterbukaan melalui sharing dan diskusi dengan para orang tua dibangun di sekolah tersebut. “Jika Olifant merasa tidak mampu, sebagai misal dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), maka akan melakukan diskusi dengan orang tua. Keterbukaan mengenai keadaan anak didik, menginformasikan batas kemampuan dan tidak memaksa anak belajar sesuai usianya, didiskusikan bersama orang tua,” jelas Ms. Keke.

Lanjutnya, “Jadi jika anak memang tidak bisa mengikuti grade, maka akan ada pilihan untuk anak turun grade. Dengan demikian maka semua akan belajar sesuai dengan kemampuan, tidak dipaksakan sebagaimana kehendak orang tua ataupun guru,” tutur Ms Keke.

Terbuka dengan orangtua

Diskusi sering kali dilakukan agar hak anak mendapatkan pedidikan sesuai dengan kemampuan tanpa di jamin di Olifant School. Hal tersebut bertujuan memberikan kesempatan kepada setiap anak didik mengoptimalkan kemampuannya.

“Selama orang tua dan orang terdekat mau bekerja sama dengan sekolah, maka jalan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, berpeluang untuk dicapai.” Tandas Ms. Keke di akhir perbincangan.

 

 

The subscriber's email address.